by

Marhaban Yaa Ramadhan

Oleh: Ustadz Fathurrahman

Segala Puji hanya milik Allah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah SAW.

Akhirnya, kita bersyukur dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan. Bulan kemenangan, bulan perjuangan yang dibuktikan dengan banyaknya kesuksesan besar bangsa-bangsa monotheis masa lalu yang terjadi pada saat Ramadhan. Road map para Salafusshalih (era Nabi SAW sampai dengan 299 Hijriyah) mempersiapkan penyambutan Ramadhan tidak tanggung-tanggung.

Disebutkan oleh Mu’alla bin al-Fadhl bahwa para sahabat selama enam bulan sebelum Ramadhan berdoa agar Allah SWT mempertemukan mereka dengan bulan mulia itu. Kemudian selama enam bulan setelah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan (Lathaif al-Ma’arif:264). Jadi, jika kita tiba-tiba kaget sebulan lagi mempersiapkan Ramadhan, maka dengan parameter salafussalih itu jelas sangat telat. Apalagi jika kita kaget ternyata besok sudah memasuki hari pertama Ramadhan.

Namun tidak perlu berkecil hati, bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai kebaikan dan amal soleh. Bahkan jika seseorang diberi taufik untuk bertaubat dengan sebenar-benar taubat di akhir Ramadhan, maka keadaan itu bisa saja menjadi keadaan terbaik yang pernah ditemukan diantara keadaan terbaik selama hidupnya.

Dalam mengawali Ramadhan, kita tentu akrab dengan istilah tarhib Ramadhan. Secara etimologis kata tarhib berasal “rahbun” yang berarti luas, lapang dan lebar. Selanjutnya menjadi kata kerja “rahhaba, yurahhibu, tarhiban” yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. (Kamus al-Munawwir).

Disebutkan bahwa tradisi masyarakat Arab ketika menyambut tamu istimewa dengan ucapkan yang lazim tapi juga tidak sembarangan, yaitu marhaban maksudnya mengandung arti; “kedatanganmu aku terima dengan penuh kegembiraan, keterbukaan, keluasan, dan senang hati. Apapun yang engkau perlukan akan aku usahakan semaksimal mungkin”. Bisa dibayangkan, betapa kata Marhaban itu mengandung makna yang mendalam.

Dan sekali lagi perlu diingat, tidak semua tamu yang datang disambut dengan ucapan marhaban. Yang paling umum diucapkan hanya “ahlan wa sahlan” tanpa marhaban. Jika kata Marhaban juga diucapkan, maka kemungkinan ada hal lain yang istimewa dari seorang tamu atau situasi lainnya.

Secara terminologis, berdasarkan penjelasan etimologi di atas, tentu kita bisa dengan mudah dapat menyimpukan pengertian kata tarhib Ramadhan, yaitu menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan segala kesiapan, keluasan, kepalapangan, keterbukaan dan kelebaran yang dimiliki, baik materil maupun spritual, jiwa dan raga serta segala apa yang ada dalam diri kita.

Pertanyaannya, yakinkah dengan kondisi saat ini kita benar-benar men-tarhib Ramadhan? Tentu lebih baik kita jawab yakin bisa. Bahkan jika terjadi pada detik-detik terakhir saat Anda membaca tulisan ini kemudian mendapatkan inspirasi untuk tarhib Ramadhan? Maka setiap kita memiliki keputusan penuh akan kita bagaimanakan Ramadhan kali ini. Marhaban Ramadhan 1441 Hijriyah.(**)

Comment