by

Masa Pandemi Covid-19, Usia Produktif Harus Berkualitas

Ambon, BKA- Pandemi Covid-19, diindikasikan dapat berimplikasi luas terhadap pencapaian dan pemanfaatan bonus demografi.

Usaha pencapaian dan pemanfaatan bonus demografi yang mengandalkan kelompok usia produktif bisa saja terbentur pada kenyataan meningkatnya jumlah pengangguran. Baik dari dalam maupun luar negeri.

Namun apakah dampak pandemi ini benar-benar mempengaruhi keberhasilan Indonesia dalam meraih memanfaatkan bonus demografi, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

“Kita tahu Indonesia sudah diprediksi bisa memasuki angka sampai 46 (dependency ratio). Artinya setiap 100 penduduk yang usia produktif hanya menanggung 46 (penduduk) yang tidak produktif. Ini yang luar biasa oleh karena itu syarat memetik bonus demografi dari segi kuantitas, kita memasuki dan tentu ini tidak akan mudah diganggu gugat karena syarat kuantitas ini ditempuh dengan sangat panjang sehingga pengaruh Covid ini tidak akan merubah, secara totalitas akan berpengaruh secara signifikan,” jelas Kepala BKKBN Pusat dr. Hasto Wardoyo, lewat virtual meeting bersama BKKBM Maluku, Kamis (28/5).

Hasto, mengatakan, untuk memetik bonus demografi ada dua syarat yang dipenuhi yakni, dari segi kuantitas dan kualitas.

Menurutnya, segi kuantitas dari segi demografi memang tidak perlu dikhawatirkan karena melalui proses yang sangat panjang. Namun yang perlu dikhawatirkan adalah segi kualitas SDM penduduk Indonesia itu sendiri, apalagi di masa pandemi Covid 19 ini yang diproyeksikan dapat menyebabkan peningkatan Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD).

KTD tersebut bisa menimbulkan berbagai permasalahan seperti stunting, angka kematian ibu dan bayi, serta permasalahan lainnya di masa yang akan mendatang. Sehingga bisa mengganggu kualitas SDM penduduk Indonesia untuk memetik bonus demografi tersebut.

Selain itu, isu pulangnya para Pekerja Migran Indonesia (PMI) juga menambah kepanikan masyarakat di tengah pandemi.

“Ada 63,4 juta penduduk yang relatif muda (usianya). Tetapi ingat syarat secara kualitatif mereka ini harus sehat secara reproduktif. Kemudian mereka penididkannya harus cukup juga punya ketrampilan yang baik.

Kemudian mereka juga harus mempunyai pekerjaan yang bagus. Jadi kalau dari pekerja migran kalau jumlahnya skitar 260 ribu dan mayoritas pendidikannya di bawah SMP dan mayoritas perempuan, mungkin kalau dia kembali ke Indonesia kemudian mewarnai untuk memetik bonus demografi maka akan menjadi pemberat bukan menjadi daya ungkit,” tambah Hasto.

Dalam paparannya, Peneliti LIPI Prof. (Riset) Dr. Aswatini menyebutkan bahwa karakteristik PMI 2 kali lipatnya adalah perempuan yang umumnya bekerja sebagai ART dan caregivers. Sebanyak 66.7 persen berpendidikan SD dan SLTP dan bekerja pada sektor informal.

Di dalam negeri, pandemi Covid-19 secara langsung telah berimbas pada aspek ketenagakerjaan Indonesia. Kementerian Tenaga Kerja dan BPJS mencatat ada sekitar 2,8 juta pekerja di berbagai sektor yang terdampak langsung akibat Covid- 19. Mereka terdiri dari 1,7 juta pekerja formal dirumahkan, 749,4 ribu di-PHK dan 282 pekerja informal yang usahanya terganggu.

Dilansir dari Katadata,co.id, CORE Indonesia memperkirakan tingkat pengangguran terbuka pada kuartal II-2020 mencapai 8,2 persen dengan skenario ringan, 9,79 persen pada skenario sedang dan 11,49 persen skenario berat. Sementara, Dana Moneter Internasional (IMF) juga memproyeksi angka pengangguran Indonesia pada tahun 2020 sebesar 7,5 persen, naik dari 2019 yang hanya sebesar 5,3 persen.

Menurutnya, dalam rapat kabinet terbatas pada tanggal 11 Mei 2020, Presiden juga menyebutkan sekitar 34.000 PMI akan habis masa kontraknya dan akan pulang ke Indonesia pada periode bulan Mei-Juni 2020.

Dengan rincian sekitar 8.900 orang berasal dari Provinsi Jawa Timur, 7.400 orang dari Jawa Tengah, 5.800 dari Jawa Barat, 4.200 orang dari Nusa Tenggara Barat, 2.800 orang dari Sumatera Utara, 1.800 orang dari Lampung dan 500 orang dari Bali. Kedatangan PMI ini akan terus berlanjut, bahkan diperkirakan Indonesia akan menyambut kepulangan PMI sebanyak 260.000 orang sampai dengan akhir tahun ini.

Kedatangan PMI yang dalam jumlah besar tersebut berpotensi besar menjadi sumber penyebaran Covid-19 yang baru apabila tidak ditangani dengan baik dengan menerapkan protokol kesehatan penanganan Covid-19 yang benar.

Dalam kesempatan yang sama Dr. Salut Muhidin, Dosen Senior Macquarie University, Sydney, Australia mengatakan, dampak yang besar akan terjadi kepada PMI dengan pendapatan kecil, pulang karena pemutusan hubungan tanpa pesangon, atau tidak ada kejelasan hubungan kerja pasca pandemi.
“Jika berhasil melalui masa sulit distress keuangan akan berkurang. Jika situasi terus terpuruk, akan berdampak besar pada keharmonisan dalam rumah tangga. Hubungan antar pasutri dan juga dengan anggota lainnya, termasuk gizi dan pendidikan anak,” terangnya.

Dijelaskan, pandemi Covid-19 menempatkan banyak negara ke dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Selain karena jumlah korban yang masih terus menanjak grafiknya, ketidakpastian kapan pandemi akan berakhir, dampak yang ditimbulkan oleh pandemi menyerang berbagai aspek kehidupan.

“Hal yang paling nyata dari imbas pandemi adalah ratusan juta orang di dunia berisiko jatuh ke garis kemiskinan seiring dengan anjloknya perekonomian,” tutupnya. (RHM)

Comment