by

Masyarakat Belum Sadar Sistim Ganjil Genap

Ambon, BKA- Penerapan sistim ganjil genap selama pemberlakukan PSBB tahap II di Kota Ambon, belum sepenuhnya ditaati masyarakat selaku pengendara. Terkhusus mobil angkutan pribadi pelat hitam yang kurang menyesuaikan waktu operasional sesuai sistim ganjil genap yang diberlakukan.

Padahal, sudah seluruh kendaraan baik angkot maupun angkutan pribadi pelat hitam, telah diarahkan untuk beroperasi sesuai aturan yang ditetapkan. Yakni pelat genjil beroperasi pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Sementara pelat genap hari Selasa, Kamis dan Sabtu.

Sementara temuan di lapangan, banyak angkutan pribadi pelat hitam yang beroperasi tidak sesuai waktu operasional.

Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Ambon, Robby Sapulette mengaku, selama penerapan ganjil-genap banyak masyarakat belum terlalu sadar untuk mematuhi aturan ganjil genap. Karena masih banyak kendaraan yang beroperasi tidak sesuai dengan hari waktu operasional yang ditetepkan.

Sehingga pihaknya harus menghadang kendaraan tersebut dan menyuruh pengemudi untuk memutar balik ke arah asal. Baik yang hendak memasuki kota Ambon maupun yang berada di dalam kota.

“Sifatnya persuasif, tapi masyarakat belum sadar karena terdapat masih banyak kendaraan yang beroperasi tidak sesuai dengan pelat operasional. Kalau pada check poin itu kita suruh putar balik ke daerah asal dan yang lainnya juga suruh kembali,” ungkap Sapulette, saat dihubungi koran ini, Minggu (19/7).

Menurutnya, masyarakat harus patuh karena pemerintah tidak memberikan sanksi kepada pelanggar dari penerapan ganjil genap untuk kendaraan bermotor pelat hitam. Penerapan ganjil-genap terhadap kendaraan bermotor pelat hitam sendiri, diperuntukkan untuk memotong mata rantai penyebaran covid-19 yang mewabah di Kota Ambon saat ini.

“Jadi untuk pemberlakuan ganjil genap untuk angkutan Pribadi tidak ada kaitannya dengan mengurai kemacetan. Tetapi itu mempunyai korelasi dengan memotong mata rantai covid 19. Covid itu dia bergerak seiring pergerakan orang. Kalau fasilitas seperti mall sudah ditutup dan ternyata masih ada pelaku perjalanan yang melakukan perjalanan yang cukup tinggi volumenya, salah satu solusi kita membatasi pergerakan,” terang dia.

Dia menyebutkan, covid 19 sendiri bergerak atau menjangkiti akibat adanya pergerakan maupun aktivitas masyarakat. Sehingga penerapan ganjil-genap sendiri dilakukan untuk membatasi pergerakan masyarakat.

Pemerintah sendiri telah mengeluarkan statement untuk tidak keluar rumah saat tidak ada ada kepentingan yang mendesak. Dan sesudah adanya work from home atau belajar dari rumah maka banyak hal yang dilakukan pemerintah untuk membatasi pergerakan masyarakat.

Untuk itu pemerintah berharap masyarakat lebih sadar dan dapat membantu pemerintah dalam memotong mata rantai penyebaran covid-19. Sehingga Kota Ambon sendiri bisa kembali ke kehidupan normal lagi.

“Namun dalam implementasinya kemarin, itu kita belum sampai kepada tahap penindakan tetapi hanya bersifat sosialisasi kepada masyarakat, supaya tidak melakukan perjalanan jika perjalanan itu tidak penting,” pungkasnya. (DHT).

Comment