by

Masyarakat Belum Taat Protokol Kesehatan

Ambon, BKA- Hingga memasuki PSBB Transisi tahap IV, masyarakat Kota Ambon belum mentaati protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah, demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Salah satunya terkait pembatasan penumpang 50 persen yang ditetapkan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Ambon.

Plt Kepala Dishub Kota Ambon, Robby Sapulette menyebutkan, banyak masyarakat yang belum menyadari betapa pentingnya upaya mencegah penularan wabah Corona.

Padahal, seluruh tim gabungan di lapangan sudah berusaha maksimal untuk terus mengingatkan masyarakat agar tetap mengedepankan protokol kesehatan, seperti selalu memakai masker, rajin mencuci tangan dan menjaga jarak maupun hindari tempat keramaian.

“Sudah maksimal, tapi kalau masyarakat tidak sadar akan upaya dalam membasmi Covid-19, berarti sampai kapan pandemi ini bisa selesai,” heran Sapulette, saat ditemui wartawan, Kamis (3/9).

Dijelaskan, cukup sulit bagi Pemerintah Kota untuk bisa menekan tingkat penyebaran Covid-19, jika masih ada sebagian besar masyarakat yang mengabaikan aturan protokol kesehatan.

Dan sampai saat ini, pihaknya masih temukan ada sejumlah pengemudi dan masyarakat yang terkesan belum menghargai upaya pemerintah untuk membasmi Covid-19.

“Dalam masa PSBB transisi tahap IV, waktu operasi angkot, dimulai dari Pukul 06.00 WIT, hingga 18.00 WIT. Dan jumlah penumpang yang dimuat juga harus 50 persen dari kapasitas 100 persen. Tapi, masih ada juga yang melanggar aturan itu,” bebernya.

Menurutnya, selain Pemerintah, masyarakat juga harus berperan penting untuk membasmi virus mematikan yang kini kembali memprihatinkan di Kota bertajuk Manise ini.

Namun, jangan hanya menaati aturan protokol kesehatan ketika ditegur oleh petugas, baik Dishub dan lain-lain.

Tak hanya itu, ungkap Robby, pihaknya juga masih kesulitan tertibkan sejumlah angkutan umum yang beroperasi lewat waktu yang ditetapkan semasa PSBB transisi IV.

“Kita juga hendak membatasi, namun kalau ada aktivitas masyarakat pada malam hari yang sedang berlangsung. Berarti jasa transportasi juga dibutuhkan, jadi kesulitannya disitu. Kecuali, ada pemberlakuan jam malam bagi masyarakat, baru bisa kita batasi secara maksimal,” pungkasnya. (BKA-1)

Comment