by

Memberi Dengan Menghormati Dan Memuliakan

Oleh: Ustadz Fauzan Abdurrahman

“Ucapan perkataan yang baik, ramah tamah, beretika, santun, pemberian maaf, jauh lebih baik daripada pemberian yang diikuti dengan ucapan yang menyakitkan.” (Q.S al-Baqarah: 263).

Perkataan bernada menghormati, memuliakan lebih baik daripada memberikan suatu pemberian, semisal sumbangan, bagi-bagi sembako, memberi angpao tapi dengan cara dilempar atau dibagikan di jalanan yang membuat orang berebutan, atau membagikan nasi bungkus, tapi ditambahkan label buruk.

Walaupun makanan yang dibagikan itu secara dzat dan jenisnya adalah halal. Tapi kalau ditambahkan label buruk, maka kesan melecehkan dan menghinakan tercium aromanya.

Okelah, niat memberi itu baik, tidak ada maksud apapun selain berbagi dengan sesama dalam bulan puasa Ramadhan saat ini. Tapi yang terpenting, sumbangan ataupun pemberian dalam bentuk apapun itu adalah barang halal, baik secara dzat, jenis dan hukum memakannya. Apalagi dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini, dimana sesuai anjuran dan himbauan pemerintah untuk #DirumahSaja, sedang tidak semua warga masyarakat itu memiliki penghasilan tetap sebagaimana PNS.

Artinya sebagian kita, tidaklah bisa makan kalau tidak kerja diluaran. Sehingga dalam situasi dan kondisi pandemi ini, mau tidak mau mengharuskan mereka tidak bekerja.
Sehingga mereka membutuhkan uluran tangan, baik dari pemerintah, lembaga sosial, ataupun perorangan. Namun yang terpenting adalah bahwa memberi itu tidak cukup dengan bermodalkan niat baik semata, tanpa dibarengi dengan cara-cara yang santun dan terhormat saat menyalurkan pemberian.

Dengan kata yang lain, ada sebuah nilai yang tidak diterapkan dalam niat baik memberi itu, yakni, menghormati. Artinya, berilah kepada siapa saja yang kita hendak memberinya, namun tetaplah dengan menghormati dan memuliakannya. Bukankah dalam Pancasila termaktub sila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab?”

Kalau benar kita komitmen dengan dasar negara ini, hendaknya setiap hal benar-benar mengacu pada nilai luhur yang telah ditetapkan. Jangan sampai dasar negara yang telah disepakati itu seperti malah terkesan hanya sebatas slogan semata yang jauh dari kenyataan. Okelah. Itu hanya sebuah penamaan menurut sebagian orang. Namun tahukah anda bahwa hal itu tak luput dari ajaran Islam? Jangan Memberi Nama Makanan Dengan Nama Yang Buruk (menjijikkan), apalagi diberi nama dengan sesuatu yang diharamkan, walau makanannya tidaklah termasuk yang diharamkan dalam Islam.

Allah SWT menyebut makanan yang halal dengan nama yang baik (Thayyibat) “(Rasul yang ummi itu) menghalalkan yang thayyibat untuk mereka, dan mengharamkan al-Khabaits.” (QS. al-A’raf: 157)

Secara bahasa thayyib berarti baik. Khabaits, bentuk jamak dari khabits, berarti sesuatu yang menjijikkan. Semua yang halal adalah thayyib, dan semua yang haram adalah khabits. Artinya, Allah ﷻ memberikan nama yang baik untuk yang halal. Dan Allah ﷻ memberikan nama yang buruk untuk sesuatu yang haram.

Maka, memberi nama yang baik untuk sesuatu yang baik, dan memberi nama yang buruk untuk sesuatu yang buruk, adalah bagian dari mengikuti petunjuk Allah ﷻ. Sebaliknya memberi nama yang buruk untuk sesuatu yang Allah ﷻ halalkan, bisa termasuk menghinakan rizki yang Allah SWT berikan.
Dalam Fatwa Islam dinyatakan; “Menyebut sesuatu yang Allah SWT halalkan dengan menggunakan istilah sesuatu yang Allah SWT benci, perbuatan semacam ini termasuk meremehkan aturan Allah ﷻ dan tidak mengagungkan hukum-hukum-Nya. Dan ini bertentangan dengan sikap taqwa kepada Allah SWT. (Fatwa Islam, no. 234755).

Dari itu tidak selayaknya menamai makanan yang baik, yang halal, dengan nama yang buruk. Makanan yang halal, minuman yang halal adalah rizki dari Allah SWT yang selayaknya dimuliakan dan dihormati. Dan saat memberikannya kepada orang lainpun harus disertai rasa menghormati dan memuliakan orang yang diberi.(**)

Comment