by

Menag Didesak Tinjau Kembai SK KaKanwil Kemenag Maluku

Ambon, BKA- Menteri Agama (Menag) RI, Fachrul Razi, didesak untuk meninjau ulang SK Penetapan Jamaludin Bugis sebagai Kepala Kantor Wilayah (KaKanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Maluku.

Desakan itu disampaikan Pemuda Muhammadiya, Ilham Adjid Souwakil, mengingat ada kejanggalan dalam proses seleksi. Sebab Jamaludin Bugis diduga tidak memenuhi persyaratan, namun diloloskan malah terpilih dan dilantik sebagai Kakanwil Kemenag Maluku.

“Jika memang benar dalam ketentuan persyaratan yang ditentukan Tim Seleksi (Timsel) diutamakan jenjang pendidikan lebih tinggi dan pernah mengikuti Diklat PIM III, maka sudah tentu yang harus diakomodir adalah dua peserta lainnya, karena keduanya memenuhi persyaratan Timsel. Sementara Jamaludin Bugis hanya memiliki jenjang pendidikan S1 dan belum pernah mengikuti Diklat Pim III . Maka Menag harus meninjau kembali SK-nya,” pinta Souwakil, Senin (27/7).

Menurut Souwakil, ketentuan dan persyaratan yang dibuat mestinya dijalankan secara profesional, sehingga menjadi rujukan bagi pemimpin yang diseleksi dan ditetapkan, kalau benar-benar layak untuk menduduki jabatan yang dibebankan.

“Kalau misalnya dalam ketentuan persyaratan itu mengatur hal demikian tetapi dilanggar, maka yang harus ditanyakan adalah Timsel-nya. Independisi Timsel perlu dievaluasi dan diragukan, atau bisa saja ada dugaan “main mata dibelakang layar,” kata Souwakil.

Untuk itu, Menag RI, Fachrul Razi, yang dikenal sebagai pemimpin yang memiliki integritas tinggi serta fokus memberantas berbagai penyimpangan ditubuh Kementerian Agama, harus bisa mengambil langkah tegas terhadap SK penetapan jabatan Kakanwil Kemenag Maluku.

“Nah, bisa jadi Menag Fachrul Razi tidak tahu soal ini, sehingga beliau hanya menandatangani SK,” terangnya.

Lanjut Souwakil, dia akan berusaha untuk mendapatkan kebenaran, apakah proses seleksi yang dilakukan terhadap calon Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku sudah berjalan dengan benar dan jujur, tanpa ada campur tangan atau intervensi pihak lain.

Bahkan, katanya, dalam waktu dekat ini, dia bersama teman-teman Pemuda Muhammadiyah akan melakukan aksi terhadap hal itu. Bila perlu aksi dilakukan di Kantor Kementerian Agama RI di Jakarta.

“Langkah ke Jakarta itu pasti kita akan koordinasi dengan pengurus Pemuda Muhamdiyah di Jakarta. Kita akan menyuarakan ini dan meminta Menteri Agama untuk menyikapinya,” tegas Souwakil.

Sebelumnya disampaikan oleh mantan Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Ambon, Dr. H. Abdul Kahar, yang juga salah satu peserta seleksi asesmen eselon II, kalau untuk menempati jabatan eselon II, seseorang harus memiliki Sertifilat PIM III, karena merupakan bagian penting bagi jenjang karier.

“Jadi kemarin, saya juga mengikuti proses seleksi asesmen eselon II untuk jabatan Kakanwil Kemenag Maluku. Dalam persyaratan Timsel, itu ada bahasa diutamakan, jadi S1, S2 dan S3. Jadi pendidikan yang lebih tinggi diutamakan dan pernah mengikuti PIM III. Tapi ternyata, yang belum pernah mengikuti PIM III itu juga lolos dan diakomodir sebagai salah satu perserta seleski, dalam hal ini Jamaludin Bugis,” jelasnya, Minggu (26/7).

Terakomodirnya Jamaludin Bugis sebagai peserta, akui Kahar, angsi merupakan kelalaian timsel Kemenag. “Kenapa hanya berlatar belakang pendidikan S1 dan tidak pernah ikut PIM III, bisa terakomodir bahkan terpilih sebagai Kakanwil Kemenag Maluku. Ini yang perlu dipertanyakan, dimana transfaransi dan profesional timsel dalam bekerja,” terang Kahar.

Seharusnya, dalam proses awal administrasi, sesuai persyaratan utama, timsel sudah tidak lagi mengakomodir peserta dengan status pendidikan S1 dan belum PIM III, jika ada perserta lain yang berpendidikan S2 dan S3 serta pernah mengikuti Diklat PIM 3.

Tapi kenyataan yang terjadi, kenyataan itu tidak dilakukan oleh timsel asesmen eseloan II untuk jabatan KaKanwil Kemenag. “Kalau misalnya ada S2 dan S3 yang lulus, tentu yang bersangkutan tidak lulus, karena dia hanya S1. Sehingga yang harus menjadi penentuan timsel, tidak lain harus kepada dua calon lain yang sudah memenuhi syarat, yakni, Hani Rumatiga dan satu peserta lain dari Makasar. Tapi yang lolos S1 dan belum pernah PIM III yang lolos, sehingga ini yang menjadi persoalannya disitu,” pungkasnya.(RHM)

Comment