by

Mengenal BCA, Bank Swasta Nomor Wahid di Indonesia

Jakarta, BKA- Nama PT Bank Central Asia (Persero) Tbk atau BCA tak lagi asing di telinga masyarakat Indonesia. Sebagai bank swasta terbesar, BCA telah menjangkau seantero nusantara.

Julukan terbesar bukan tanpa alasan. Pada sore ini, nilai kapitalisasi pasar bank berkode emiten BBCA ini menembus Rp761,22 triliun. Sebagai pembanding, nilai kapitalisasi bank pelat merah tak sampai separuhnya.
Tercatat, nilai kapitalisasi saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk hanya Rp389,77 triliun, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rp242,55 triliun, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Rp87,7 triliun.

Namun, perjalanan BCA sebagai bank swasta nomor wahid tak semudah membalik telapak tangan.

Cikal bakal BCA berawal dari Perseroan Dagang dan Industrie Semarang Knitting Factory yang berdiri pada 1955. Setelah berdiri selama 2 tahun, secara resmi BCA mulai beroperasi dan berkantor pusat di Jakarta pada 1975.

Pada September tahun sama, perusahaan secara resmi diganti menjadi Bank Central Asia. Terus menanjak, pada 1980-an, BCA mulai bergerak agresif dengan memperluas jaringan kantor cabang.

BCA juga memperkuat cengkeramannya dengan mengembangkan berbagai produk, layanan dan pengembangan teknologi informasi dengan menerapkan sistem daring untuk jaringan kantor cabang.

Inovasi terus berlanjut, pada 1990-an BCA mengembangkan alternatif jaringan layanan melalui ATM. Tepat pada 1991, BCA mulai menempatkan 50 unit ATM di berbagai tempat di Jakarta. Pengembangan jaringan dan fitur ATM pun dilakukan secara intensif.

Tak bekerja sendiri, BCA bekerja sama dengan institusi terkemuka, seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk untuk fasilitas pembayaran tagihan telepon melalui ATM BCA.

Namun, langkah BCA tak selalu mulus. Pada krisis moneter 1998, BCA mengalami bank rush dan menjadi Bank Take Over (BTO) dan disertakan dalam program rekapitalisasi dan restrukturisasi yang dilaksanakan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Selepas rekapitalisasi selesai, pemerintah melalui BPPN menguasai 92,8 persen saham BCA sebagai hasil pertukaran dengan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Dalam proses rekapitalisasi tersebut, kredit pihak terkait dipertukarkan dengan Obligasi Pemerintah.

Secara bertahap, BPPN melakukan divestasi sebesar 22,5 persen dari saham BCA melalui penawaran saham publik perdana (IPO). Penawaran publik terus dilakukan hingga pada 2002, Farindo Investment (Mauritius) Limited mengambil alih 51 persen saham BCA melalui proses tender.

Baru lah pada 2005, pemerintah melalui PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) melakukan divestasi seluruh sisa kepemilikan saham BCA sebesar 5,02 persen.

Selepas 2005, BCA dengan getol terus mengembangkan layanan perbankan elektronik hingga didapuk menjadi merek paling berharga Indonesia selama 5 tahun berturut-turut sejak 2015-2019 versi BrandZ Top 50 Most Valuable Indonesian Brands.

Group Director Kantar Insight Indonesia Muhammad Ilham mengatakan prestasi BCA tak terlepas dari inovasi yang dilakukan perseroan, terutama pada layanan mobile banking, seperti penarikan uang tunai tanpa kartu, pembukaan akun melalui mobile banking, dan pengalihan akun dengan QR Code atau dompet digital.

“BCA berhasil menggaet 20 juta pelanggan (nasabah) dan meningkatkan kepercayaan mereka,” ujarnya beberapa waktu lalu. (INT)

Comment