by

Meraih Kemenangan Paripurna

Ustadz Abdul Karim Tawaulu
(Koordinator ZCD BAZNAS Maluku)

Ambon, BKA- Walau di tengah terpaan wabah virus corona atau covid-19 saat ini, namun kita mampu menjalankan ibadah puasa ramadhan dengan baik, dan sampailah kita pada penghujungnya meraih kemenangan dengan sempurna, walaupun dalam keadaan yang serba sederhana pula akibat covid-19 itu.
Dalam Qur’an tepatnya dalam surah al-Fath, Allah swt., kabarkan: Artinya: “Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”.

Kemenangan dalam pengertian sederhana adalah capaian yang diperoleh atas sebuah perjuangan. Pendeknya kemenangan merupakan keberhasilan yang diraih karena kemampuan mengalahkan sesuatu dalam suatu medan pertempuran. Ramadhan kemarin adalah simbolisasi medan pertempuran atas gempuran hawa nafsu, ego, dan kemarahan. Ia menjadi spiritual training yang telah menggembleng kita untuk memahami prinsip kesuksesan hidup yang hakiki dan cara meraih kemenangan yang paripurna. Lalu kemenangan paripurna seperti apa yang telah kita raih itu?
Allah swt., jawab pada ayat berikutnya dengan kalimat yang sungguh mengesankan. Artinya: “Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus”.

Nabi Muhammad saw., yang dimaksudkan dalam surah ini merupakan repsentasi kita umatnya. Simbol Muhammad yang dimaksud dalam kalimat “liyagfiraka” memiliki makna akomodatif, yakni naungan ampunan Allah itu juga memayungi semua umatnya, yang berdosa besar, sedang, kecil, yang berzina, yang mabuk, yang membunuh, yang mencuri dan lain sebagainya akan mendapat ampunan-Nya jika mereka mau bersimpuh mengakui dosa. Inilah keistimewaan Muhammad saw., yang tidak pernah diberikan kepada nabi dan rasul sebelumnya.

Dalam kehidupan kita hari-hari, segala bentuk dinamika dan persoalan kehidupan telah kita rasakan. Kita berusaha untuk menghadapai dinamika itu dengan kekuatan yang kita dianugerahi Allah kepada kita. Akal menjadi kompas untuk mengarahkan kita bagaimana menghadapi gelombang tersebut dengan baik. Akal menghadirkan solusi agar persoalan-persoalan itu dapat kita selesaikan. Di tengah gempuran turbulensi tersebut ada yang berhasil keluar, ada pula yang terpaksa menyerah, bahkan gulung tikar kehidupannya.
Yang terpaksa menyerah ia merasakan seakan-akan kehidupannya telah bangkrut dan Allah tidak menginginkan kemenangan baginya. Padahal semua itu hanyalah ujian yang mana terminal terakhirnya adalah kejayaan. Ini jelas telah Allah tunjukan lewat kalam-Nya, bahwa: Artinya; “karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”.

Segala bentuk kesialan, penderitaan, kesempitan, kesedihan, dan keruntuhan hanya merupakan jalan raya perjalanan manusia, yang pada ujung perjalanan tersebut telah Allah siapkan kejayaan atau kemenangan. Apapun keterpurukan manusia padanya Allah tempelkan kunci kemudahan untuk digunakan sebagai solusi. Dengan akal yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Mungkin dalam perspektif ini dapat kita sebut sebagai kemenangan. Berhasil melewati tantangan yang diberikan sehingga merasa menang. Setelah awalnya diuji dengan kesusahan.

Yang berhasil memenangi pertempuran tentu menghasilkan kepuasan batin yang luar biasa. Ibarat satu pasukan tentara yang berhasil memukul mundur musuh di medan peperangan. Segala bentuk penderitaan ia hadapi dengan gagah dan kelapangan hati. Walau sekali-kali terpaksa jatuh, tapi secepat kilat berusaha untuk bangkit. Dalam perspektif ini, hal ini dapat juga disebut sebagai kemenangan. Menang mengalahkan musuh, menang menjatuhkan lawan tanding, menang dalam perlombaan dan lain sebagainya, sejatinya itu dinamakan kemenangan. Namun ada yang lebih dari itu; Kemenangan paripurna karena hadiahnya langsung dari sang maha hidup; Allah swt.

Kemenangan apakah itu? (1) penngampunan Allah, (2) kesempurnaan nikmat, dan (3) diberi jalan yang lurus. Inilah yang dimaksudkan dengan kemenangan paripurna.

Ketika tiga hal tersebut dirasakan oleh seorang muslim maka itulah puncak dari kemenangan yang ada. Lebih paripurna dari sekadar menang dalam medan pertempuran, menang dalam lomba lari, menang karena mampu menjatuhkan lawan di atas ring tinju, juga menang dalam peperangan.

Kemenangan yang pertama adalah mendapat pengampunan Allah, apalagi bonusnya “maa taqoddama min zanbik” pengampunan atas dosa-dosa yang telah lalu. Dan ini merupakan maqam kemenangan, kemenangan yang paling tinggi.
Kemudian kemenangan yang kedua. Kemenangan ini adalah disempurnakannya nikmat oleh Allah swt. Kita setiap saat menikmati nikmat-nikmat itu. Ada nikmat usia, nikmat luang, nikmat sehat, nikmat kaya, bahkan nikmat yang di luar kesadaran kita yakni hembusan nafas. Semua itu kita rasakan dan alami. Namun kalau kita mengukur-ngukur adakah tambahan diantara nikmat-nikmat itu? Kalau pun ada tak lebih dari 30%. Maka diantara kemenangan pertama tadi adalah kemenangan tambahan nikmat dari Allah, dan ini nikmatul khasas (nikmat khsusus) yang hanya diberikan kepada manusia-manusia pilihan. Tidak semua orang mendapatkan nikmatal khasas ini. Ketahuilah, nikmatul khasas itu adalah nikmat iman, Islam, dan ihsan. Nikmat-nikmat inilah yang akan menjadi penyelamat di hadapan pengadilan Allah. Maka sepantasnya bagi kita sebagai muslim bersyukur atasnya. Banyak diantara kita di luar sana yang dilimpahkan harta, pangkat, jabatan, kedudukan, tapi justeru mereka dimurkai Allah. Semua itu jadi istidroj baginya. Akhirnya kenikmatan-kenikmatan semu itu akan jadi pengantar baginya menuju nerakanya Allah swt.

Sedangkan kemenangan yang ketiga adalah shiratal mustaqiim. Senantiasa diberi petunjuk oleh Allah swt., menuju jalan yang lurus yang diridho oleh-Nya. Ini yang setiap saat kita mohonkan ke Allah pada saat sholat 5 waktu. “ihdinasshirotal mustaqiim” tunjukilah kami ke jalan lurus, yaitu “Shirathallaziina an’am ta’alaihim ghoiril magduubi alaihim waladdhoolliin”, jalan yang Engkau beri nikmat. Bukan jalan yang dimurkai dan bukan pula jalan yang sesat.

Ramadan sebagai ladang untuk bertempur, agar hasil dari perjuangan itu adalah memperoleh kemenangan paripurna. Kita hari ini yang istiqomah beribadah selama Ramadhan adalah para pemenang insya Allah. Maka sia-sialah mereka yang lalai selama ramadan. Waktu dibiarkan berlalu sia-sia tanpa diisi dengan ibadah, sehingga hari ini mereka gagal mencapai kemenangan itu, justeru hadir sebagai orang-orang gagal.

Semoga kemenangan ini terus kita pertahankan hingga menjemput ramadan yang akan datang atau dijemput oleh Allah swt., menuju keridhoaan-Nya.(**)

Comment