by

Nestapa Advokat di Maluku

Dalam Cermin Inspirasi Novelis John Grisham

Oleh: Rony Samloy, SH
(Advokat dan jurnalis di Maluku)

Ambon, BKA- Ironi di antara Personifikasi Sebastian Ruud dan Kisah Tragis Andre Ribeiro, Dragoslav Ognjanovic, Jose Maturbongs, Muhamad Rumagiar, Johanis Balubun dan Alexander Sangur

KASUS pembunuhan yang menimpa advokat muda Alexander Sivilius Sangur sungguh tragis dan menyayat sukma. Kisah tragis itu terjadi pada Selasa, 5 Mei 2020 sekira pukul 15:00 WIT di sekitar kawasan Jalan Tol Bandara Ibra, Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Pattimura, Ambon, angkatan 2007 ini menjadi salah satu korban pembantaian akibat sengketa lahan yang merupakan warisan keluarga. Para pelaku dan 4 korban termasuk Sangur masih memiliki hubungan kekeluargaan dari marga Rumangun. Sangur terkapar dengan sejumlah luka di bagian kepala, badan dan lengan akibat sabetan parang dan hantaman benda tajam lainnya.

Tapi, jangan lupa. Ternyata, Sangur bukan satu-satunya advokat yang mengalami nasib tragis saat menjalankan tugas mulia profesinya (officium nobile).

Sangur ikut menambah panjang daftar hitam tentang tindakan-tindakan kekerasan yang memakan korban di pihak advokat di Kepulauan Kei, Maluku. Sebelumnya di Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara juga telah terjadi kasus pembunuhan yang menimpa para ’’Macan Pengadilan’’ ini.

Masih hangat di tahun 2016 kasus pembunuhan yang menimpa advokat Jose Maturbongs (2016) dan Muhamad Rumagiar (2017). Ada juga advokat-advokat yang mengalami tindakan kekerasan sekalipun nyawa mereka tidak sampai melayang. Sebut saja yang dialami advokat Aloysius Gery Balriyanan dan advokat Wily Renyaan. Kasus Balriyanan sempat diproses, sedangkan kasus Renyaan tidak. Para pelakunya pun masih misterius hingga saat ini.

Di Ambon sebagai barometer pencerahan bidang hukum di Maluku pada Rabu,6 April 2016, juga kasus memilukan dengan korban advokat mencuat dan menjadi perbincangan sekaligus penyesalan khalayak nasional dan internasional. Adalah Johanis Balubun, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) tewas mengenaskan di atas sepeda motornya di Jalan Haruhung, Kelurahan Waihoka, Karang Panjang Pule, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Hasil autopsi yang dilakukan dr. Arkipus Pamuttu, M.Kes, Sp.F dari Rumah Sakit Masohi, Maluku Tengah, memastikan mendiang Balubun tewas akibat mengalami tindakan kekerasan. Banyak kecaman yang datang dari berbagai pihak, terutama pegiat Hak Azasi Manusia (HAM) dan pembela masyarakat adat, pascakematian Balubun.

Ironisnya hingga saat ini jejak sang pelaku tak mampu dicium aparat penegak hukum di Negara ini. Ada impunitaskah terhadap para pelaku? Tidak juga!. Sederhana jawabannya. Advokat belum mampu bersuara keras menggalang solidaritas dan membangun komitmen melawan kekerasan terhadap advokat (#Save Advokat#).

Atas tragedi yang menimpa rekan-rekannya, advokat Cornelis Kelanit angkat bicara. Dia mengecam aksi tak berperikemanusiaan di Kabupaten Maluku Tenggara dan di tempat-tempat lain di Kota Tual yang menjadi ’’locus delicty’’ terbunuhnya beberapa advokat-advokat potensial asal Kei.

Kelanit menyayangkan terjadinya peristiwa kelabu itu. Kelanit menggunakan akun fesbuknya dengan menulis :’’Falsafah hidup orang Kei “It mat nan lafik renad urad ne nuhu tanat soen” harus ditinjau kembali dan diluruskan pemahamannya kepada generasi Kei saat ini. Sebab, jika hal itu tidak dilakukan, yakin Kelanit, hukum adat Larvul Ngabal akan kehilangan maknanya, kehilangan nilai-nilai perdamaian, kehilangan nilai-nilai persaudaraan dan secara utuh kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya. ’’Setiap saat terjadi kekerasan terhadap manusia dan harta benda yang menyebabkan manusia mati secara sadis dan harta benda hancur berantakan. Ini membuktikan bahwa orang Kei sudah tidak menghargai hukum adatnya sendiri. Anehnya, para Rat sebagai pemangku hukum adat tertinggi di kepulauan Kei tidak ada yang berani membuka mulut mengenai peristiwa tragis di Faan. Padahal salah satu tujuan pengangkatan Rat di kepulauan Kei adalah untuk menegakkan hukum adat Larvul Ngabal itu di tanah Kei’’.

Hukum adat Larvul Ngabal itu masih perlu dipertahankan dan dilestarikan untuk generasi saat ini dan di generasi mendatang.
Advokat Yanno Dumatubun menambahkan di zaman mulai berlakunya Hukum Larvul dan Hukum Ngabal sudah ada larangan akan perbuatan memotong dan memenggal dengan istilah ’’Tetat Vanga’’. Aturan-aturan hukum Larvul Ngabal ini perlu disosialisasikan dan melalui penerapan dalam muatan lokal di sekolah-sekolah.

Tak hanya di Maluku dan Indonesia kasus-kasus pembunuhan yang menimpa advokat juga pernah terjadi di beberapa Negara lain di dunia. Di Brasil pada 14 Juli 2018 juga ada kisah pembunuhan berdarah dingin yang menimpa advokat terkenal ’’Negeri Samba’’ itu, Andre Ambrosio Ribeiro Pessoa,46 tahun. Sebelum tewas ditembaki pria tak dikenal dengan pistol berisi enam peluru, aksi Riberio yang menyerahkan putri kesayangannya berusia 18 bulan ke wanita bergaun merah sempat terekam kamera CCTV di Caruaru, Negara bagian Pernambuco, Brasil.

Dalam rekaman itu terlihat Andre kemudian keluar lalu membuka pintu belakang mobil untuk mengambil putrinya yang mengenakan baju berwarna merah muda dengan pita putih di rambutnya. Sementara itu, seorang perempuan berpakaian merah yang diduga adalah kekasih dan pengasuh keluar dari mobil yang sama. Beberapa detik setelah Andre dan putrinya serta perempuan bergaun merah itu berada di luar mobil, tiba-tiba muncul seorang pria bersenjatakan pistol. Pria yang mengenakan T-shirt putih dan topi baseball kemudian mengacungkan senjatanya kea rah Andre dan menghampiri mereka. Di saat-saat genting itu, Andre dengan tenang membalikkan badannya dan menyerahkan sang putri kepada perempuan bergaun merah itu. Setelah memastikan sang putrid aman, Andre kemudian berlutut di jalanan. Tanpa memedulikan si perempuan bergaun merah yang mengendong putrid Andre, pria berpistol itu langsung menembaki Andre. Lima peluru yang bersarang di tubuh Andre menyebabkan dia tersungkur ke tanah dan meninggal pada saat itu. Andre tewas di depan putrinya sendiri. Tidak diketahui motif di balik pembunuhan Andre.

Kisah miris serupa juga datang dari bekas Negara Yugoslavia. Di Negara yang pernah dipimpin Joseph Bros Tito itu seorang pengacara terkemuka Dragoslav Ognjanovic yang membela penjahat perang Serbia, Slobodan Milosevic, tewas ditembak di Serbia.

Sebagaimana dilaporkan Associated Press, 29 Juli 2018, polisi mengatakan Dragoslav Ognjanovic tewas Sabtu malam 28 Juli 2018, di luar rumahnya di Beograd, ibu kota Serbia. Polisi juga mendapati putra Ognjanovic yang berusia 26 tahun terluka di lengan kanannya.

Ognjanovic adalah bagian dari tim hukum yang membela Milosevic di Pengadilan untuk Kejahatan Perang, di Den Haag, Belanda, di mana dia diadili karena kejahatan perang pada perang Balkan tahun 1990-an. Milosevic meninggal karena serangan jantung pada tahun 2006 sebelum persidangan selesai.
Ognjanovic ditembak di depan gedung apartemennya di lingkungan Novi Beograd. Selama bertahun-tahun, Ognjanovic juga membela beberapa tokoh bawah tanah Serbia yang terkemuka. Beberapa anggota terkemuka jaringan kejahatan terorganisir Serbia dan Montenegro telah tewas di Beograd dalam dua tahun terakhir.

Pendampingan hukum Ognjanovic yang terkenal adalah saat membela Mantan pemimpin Yugoslavia, Slobodan Milosevic, yang disebut “penjagal dari Balkan”. Namun Milosevic ditemukan tewas Sabtu 11 Maret 2006 di sel penjara. Dia berumur 64 tahun.

Milosevic telah diadili sejak Februari 2002, didakwa atas 66 tuduhan kejahatan, termasuk genosida, di Kroasia, Bosnia dan Kosovo.

Dia dituduh mendalangi kampanye brutal pembersihan etnis terhadap orang-orang non-Serbia selama runtuhnya federasi Yugoslavia sebagai usahanya untuk menghubungkan negara balkan dengan daerah-daerah Serbia yang didominasi Serbia dan Bosnia untuk menciptakan Serbia baru yang lebih besar.

Novel laris berjudul Pengacara Bajingan atau ’’Roque Lawyer’’ ditulis apik Novelis sekaligus pengacara Amerika Serikat yang dikenal dengan novel-novel bergenre hukum, John Grisham.
Dilansir dari My Modern Metropolis, Selasa 15 September 2015, penulis favorit Hollywood era awal 1990-an merupakan salah satu novelis terlaris di Amerika. Bukunya mampu mengaduk-aduk perasaan dan perhatian pembacanya.

Dalam Roque Lawyer, Grisham menceritakan tentang pengacara jalanan yang bernama Sebastian Rudd. Ia tidak memiliki kantor, kerja sesuai dengan waktunya, bekerja di dalam van yang dilengkapi oleh jendela anti peluru, Wi-Fi, kulkas kecil, bar untuk minuman keras, kasur dan perlengkapan senjata lainnya.
Sebastian juga tidak memiliki perusahaan, mitra kerja, karyawan maupun petugas lainnya. Ia tinggal sendirian di sebuah apartemen kecil. Profesinya sebagai pengacara dengan mengambil kasus yang tak disentuh oleh pengacara lainnya.
Seperti penggunaan obat-obatan, tuduhan penganiayaan, pembunuhan dua gadis kecil, pemilik rumah yang dituduh menembak tim SWAT yang menyerbu rumah yang salah, dan lain-lain. Bahkan, dalam kasus tertentu ia juga berkonflik dengan departemen kepolisan dan politisi lokal.

“Sebastian juga membenci asosiasi pengacara. Terkadang ia sering memberikan bocoran kepada wartawan secara cuma-cuma,” kata Grisham seperti dilansir dari situs pribadinya, Selasa 15 September 2015.

Dalam sebuah wawancara, Grisham mengatakan kisahnya bukan terinspirasi dari pengalaman pribadi. “Aku diam-diam mengagumi pengacara yang memiliki sedikit waktu di kantor dibandingkan mereka yang bertempur di depan juri atau klien,” katanya.

Grisham pun tidak pernah menawarkan diri mengambil kasus pria yang akan dihukum mati. Memiliki profesi sebagai pengacara selama 10 tahun membuatnya benar-benar ingin menjadi pengacara nakal. “Jauh dari dalam hati, saya ingin menjadi seperti Sebastian Rudd.”
Sebelumnya, ia pernah menerbitkan ‘A Time to Kill’ (1989), ‘The Firm’ (1991), ‘The Pelican Brief’ (1992), ‘The Runaway Jury (1996), dan lain-lain.

Inspirasi novelis dan pengacara terkenal Amerika Serikat John Grisham dalam novelnya berjudul Advokat Bajingan (Roque Lawyer) yang menginspirasi keberadaan advokat bajingan dalam diri Sebastian Ruud adalah ’’oase di padang pasir’’ dalam dimensi penegakkan hukum di Maluku.

Dalam cermin inspirasi Grisham masih terasa sulit mendapatkan sosok Sebastian Ruud dalam lakon advokat-advokat di Maluku yang hanya menggunakan kecakapan bidang hukum dipadu nyali berkelahi tangan kosong menghadang masyarakat yang datang dengan berbagai kepentingan dan beragam pendapat mengenai sebuah persoalan hukum. Apalagi, jika menyangkut harga diri dan batas tanah. Keinginan advokat-advokat di Maluku mengikuti apa yang diinspirasikan Grisham adalah mimpi di siang bolong.

Advokat ternyata rawan aksi premanisme dan tindakan kekerasan. Apakah sudah saatnya dipikirkan bagaimana mempersenjatai advokat dengan senjata api organic sebagaimana lakon Sebastian Ruud. Itu angan-angan yang masih terlalu sulit diwujudkan dalam iklim dunia peradilan dan penegakkan hukum di Indonesia. Namun, nilai utama yang perlu dipetik dari buku novel karangan Grisham itu adalah ’’keberanian mengambil keputusan’’ berdasarkan indera keenam (instink) untuk menghindari maut menjadi sangat penting.

Jurnalis dan advokat harus sama-sama punya instink seperti itu. Sebab, faktanya kedua profesi ini rawan mengalami kekerasan hingga pembantaian. Butuh gerakan solidaritas advokat Maluku #SAVE ADVOKAT# agar tak akan muncul lagi kisah-kisah tragis yang pernah dialami Andre Ribeiro, Dragoslav Ognjanovic, Jose Maturbongs, Muhamad Rumagiar, Johanis Balubun, Alexander Sangur dan advokat-advokat lainnya yang telah terbunuh namun tak dituliskan namanya di kemudian hari. Kalau bukan saat ini, kapan lagi? (**)

Comment