by

Orang Tua Keluhkan Belajar Daring

Ambon, BKA- Penerapan kurikulum berbasis daring yang sementara diterapkan Pemerintah Kota Ambon, makin dikeluhkan orang tua murid. Pasalnya, butuh biaya besar untuk bisa memfasilitasi anak demi belajar secara daring atau online.

Pantauan koran ini, selain belajar daring, Pemerintah Kota Ambon lewat dinas terkait juga menerapkan belajar luring (offline). Namun sistim belajar tersebut lebih dikhususkan untuk wilayah yag belum tersentuh fasilitas internet, seperti beberapa desa/negeri di kecamatan Leitimur Selatan (Leitisel).

Sementara bagi wilayah di kecamatan lainnya, diharuskan untuk belajar secara online tanpa tatap muka. Dikarenakan kota Ambon telah kembali ke zona merah dan angka kluster baru makin bertambah.

Disisi lain, banyak orang tua yang mengeluh, karena harus mengeluarkan uang banyak agar anak-anak mereka tetap terfasilitasi dengan kuota internet.

“Katong (kita) pusing, harus kasi siap anak-anak punya paket data internet kalau sudah habis. Bagimana mau belajar kalau tidak ada internet di HP (handphone). Mau pikir makan hari hari ka (atau) mau pikir internet buat belajar,” keluh Helmina, seorang Ibu Rumah Tangga dengan dialeg Ambon, di salah satu kios pulsa, Rabu (12/8).

Menurutnya, Pemerintah Kota harus melihat sebagian orang tua murid yang tidak mampu memenuhi kebutuhan anak terhadap fasilitas internet. Termasuk menyediakan smartphone bagi anak belajar secara online di rumah.

“Harusnya ada fasilitasi dari Pemerintah, kalau mau berlakukan belajar online ini. Karena tidak semua orang tua mampu. Beta (saya) sendiri saja bingung karena anak ada tiga orang. HP itu baku pinjam. Coba kalau jam belajar sama, pikiran,” ungkap Helmina.

Anggota Komisi II DPRD Kota Ambon, Rawidin La Ode Ido, saat dikonfirmasi mengatakan, sesuai hasil rapat pembahasan dengan Dinas Pendidikan Kota Ambon beberapa waktu lalu, pembelajaran daring dan luring sementara diterapkan oleh Pemerintah Kota Ambon akibat pandemi Covid-19, sambil menunggu kebijakan walikota.

Bahkan saat ini, kata dia, sementara diupayakan agar dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bisa didorong demi mengurangi beban siswa dalam belajar daring.

“Rapat kemarin denga dinas itu sudah disampaikan, bahwa belajar daring ini harus juga melihat kemampuan orang tua murid, mulai soal smarphone hingga fasilitas internet. Makanya dinas sementara dorong agar ada dana BOS untuk jawab itu,” tutur Rawidin.

Ketua Fraksi Perindo Kota Ambon ini mengaku, sejumlah keluhan yang sama terkait belajar daring, juga dikeluhkan sejumlah orang tua.

Sehingga hal tersebut akan disampaikan ke komisi, untuk kembali mengundang dinas terkait membahas sikap Pemerintah Kota terhadap hal tersebut.

“Kita akan bahas lagi dengan dinas untuk melihat berbagai kendala itu. Karena bukan saja dana BOS, tapi bisa juga dana desa atau dana kelurahan dikucurkan untuk fasilitasi internet di masing-masing lingkungan. Sehingga anak-anak dapat menggunakan internet secara gratis,” pungkas Rawidin. (UPE)

Comment