by

Pajak Rumah Kos Sulit Ditagih

Ambon, BKA- Merebaknya Corona Virus Disease (Covid-19) di kota Ambon, turut mempengaruhi penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Ambon salah satunya sumber pajak rumah kos-kosan. Dimana penagihan pajak rumah kos tidak dapat dilakukan oleh Pemerintah Kota Ambon.

Kepala Bidang Pengelolaan Pajak dan Retribusi, Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Ambon, Richard Tengko mengatakan, kondisi yang sementara terjadi membuat penagihan pajak di rumah-rumah kos terhenti. Hal ini disebabkan penyewa kamar kos pada sejumlah rumah kos-kosan memilih kembali ke kampung halaman masing-masing.

“Tadi (kemarin) yang punya rumah kos di Passo menelepon saya, bahwa pak kami tidak dapat membayar pajak karena anak-anak kos lari pulang ke kampung mereka. Akibatnya penagihan kosong,” ujar Tengko kepada wartawan di Balai Kota, Selasa (28/4).

Menurutnya, dengan tidak tertagihnya pajak tersebut, pihaknya menyarankan pemilik kos untuk membuat surat pernyataan terkait tidak adanya pemilik kos di tempat.

Dengan begitu, akan mempermudah Pemerintah Kota dalam mengenventarisir pemilik kos yang ada di Kota Ambon. “Saya sampaikan buat mereka buat surat saja pernyataan kalau kos-kosan kosong,” tuturnya.

Ia mengakui, pemilik kos yang membuat pernyataan akan lebih terbantu di kondisi saat ini. Mengingat pendapatannya yang juga berkurang karena wabah tersebut. Dan pernyataan tersebut akan memberikan keringanan dari Pemerintah Kota kepada pemilik kos di tengah pandemi Covid-19.

Walaupun demikian, tidak tertagihnya pajak rumah kos tersebut mempengaruhi PAD yang secara otomatis menurun dari tahun sebelumnya.

“Karena banyak rumah kos yang juga tutup dan kita mau tagih bagaimana, pajak nol. Hal tersebut mempengaruhi pendapatan daerah ikut menurun,” tambahnya.

Tengko menambahkan, dengan adanya ajuran Pemerintah yang mengharuskan Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja dari rumah maka, pihaknya juga mengikuti keputusan Pemerintah Pusat (Pempus) tersebut.
Sehingga untuk memperoleh informasi kos-kos mana yang tak lagi ada penghuninya, pihaknya hanya memperoleh informasi dari pemilik kos.

“Kita hanya tunggu bola dan tidak bisa jemput bola. Kita juga tidak bisa paksa anak-anak turun cek. Sekarang kalau mereka kena virus, siapa yang mau tanggung jawab untuk mereka keluarga. Sementara anjuran dari Presiden work form home atau bekerja dari rumah. Tapi kita yang merasa bertanggung jawab masuk,” terangnya.

Ia juga berharap pandemi tersebut dapat segera berakhir sehingga aktivitas dapat berjalan dengan normal kembali. (DHT)

Comment