by

Pasien Meninggal di Ambon, Masih Tunggu Hasil Swab

Ambon, BKA- Pasca sebelumnya dinyatakan positif lewat hasil rapid test, pasien yang meninggal di salah satu rumah sakit umum di Kota Ambon itu, masih ditunggu hasil swabnya oleh Gugus Tugas (Gustu) Penanganan Covid 19 Kota Ambon.

Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Covid 19 Kota Ambon, Joy Adriaansz mengakui, pasien tersebut sudah dilakukan rapid test dan hasilnya positif. Dan sampel swab juga telah diambil untuk dipastikan apakah pasien tersebut memang meninggal karena Covid 19 atau tidak.

Pasalnya, rapid tes yang dilakukan belum dapat memastikan pasien yang meninggal itu memang positif Covid 19. Sehingga masih menunggu beberapa hari kedepan sampai hasil swabnya keluar.

“Kepada pasien sudah dilakukan rapid test dan hasilnya positif, namun rapid test tidak memastikan seorang pasien adalah positif Covid 19. Sampel swab test telah diambil, untuk memastikan penyebab kematian yang bersangkutan dan hasilnya baru dapat diketahui beberapa hari kedepan,” ungkap Joy, kepada wartawan, Jumat (1/5).

Pasien yang meninggal tersebut, dikatakan mengalami gangguan pernapasan karena penyakit bawaan, seperti asma dan TBC paru. Ketika dibawah ke rumah sakit umum, pasien tersebut tak tertolong dan meninggal dunia di rumah sakit.

Akibat pasien tersebut ketika dirujuk ke rumah sakit, keluhannya menyerupai keluhan pasien Covid-19, sehingga diterapkan prosedur penanganan Covid-19. Dan karena telah meninggal, proses pemakaman juga dilakukan dengan menggunakan protap Covid-19.

“Ini adalah langkah yang diambil oleh pihak rumah sakit untuk mengantisipasi dengan melakukan prosedur pemakaman sesuai protokol Covid-19. Mulai dari kesiapan jenazahnya, sampai dengan lokasi pemakaman yang telah disiapkan pemerintah,” tuturnya.

Untuk diketahui, prosedur penanganan sesuai protokol Covid-19. Dilakukan untuk mencegah dan mengantisipasi dini penyebaran Covid-19 pada wilayah yang rentan dan sudah terdampak transmisi lokal.

Rapid Test adalah test awal yang dilakukan untuk mengantisipasi dini penyebaran, namun bukan test konkrit untuk memastikan seorang pasien positif Covid-19. Karena test konkrit untuk memastikan seorang positif Covid-19 adalah swab test.

Saat ini, Joy menambahkan, sudah dilakukan prosedur penanganan pasien di rumah sakit terkait protokol Covid-19. Dan prosedur tersebut sudah berlaku di Kota Ambon.

Pihak RSU Dr. Haulussy telah mengeluarkan surat edaran terkait prosedur penanganan pasien yang datang melakukan pemeriksaan atau dirujuk ke IGD dengan gejala covid-19.

“Hal ini tidak lepas dari kondisi Kota Ambon yang sudah terjadi transmisi lokal penyebaran Covid-19. Dalam surat edaran tersebut dijelaskan, seorang pasien yang datang dengan keluhan tenggorokan seperti batuk, pilek, sesak napas, nyeri tenggorokan serta demam, akan langsung dimasukan ke ruang isolasi IGD. Pasien tersebut akan langsung mengisi formulir skrining Covid-19 dan melakukan pemeriksaan darah dan rapid test,” tambah Joy.

Secara otomatis, tambah dia, pasien tersebut berstatus ODP atau PDP. Semisal hasil pemeriksaan awal, pasien tersebut negatif, maka pasien tersebut dapat melakukan rawat jalan dengan edukasi isolasi mandiri dan wajib melaporkan kepada Dinas Kesehatan Kota Ambon.

“Kalau pasien tersebut berstatus PDP, maka langsung dirawat diruang isolasi serta dilakukan foto rontgen disana. Dan bila hasil test awal adalah positif, pasien akan mengikuti swab test,” ungkapnya.

Dituturkan, pasien yang hasil rapid testnya negatif, akan tetap mengikuti prosedur pemeriksaan rapid test kedua 10 hari setelah rapid test pertama.
Hal senada ditambahkan Ketua Harian Gustu Covid 19 Provinsi Maluku, Kasrul Selang. Menurutnya, pasien yang diketahui berinisial MA (32), yang dimakamkan di TPU Dusun Taeno, Desa Rumah Tiga, Kecamatan Baguala itu masih berstatus PDP.

Pihaknya hingga saat ini belum mendapatkan swab dari pusat. Dimana almarhum masih diperiksa melalui rapid test dan hasilnya positif.

“Sebelumnya kita sudah berupaya untuk melakukan swab, tapi petugas swab datang untuk persiapan mau masuk, tiba-tiba tuhan berkata lain. Dan kita melakuka swab hanya dari hidung. Dan swab itu sudah kita kirim ke Jakarta,” ujar Selang.

Dikatakannya, MA saat masuk ke rumah sakit (RS) diduga memiliki gejalah mirip Covid-19 seperti sesak nafas dan batuk-batuk. Sehingga hal ini mesti dibawah ke IGD untuk diperiksa melalui rapid test. Tetapi sebelum masuk rumah sakit, MA sudah memiliki riwayat penyakit yang sama.

“Tindakan pencegahan itu lebih besar, sehingga ada dua opsi. Kalau kita menunggu hasil swab otomatis paling cepat mungkin empat hari. Kita punya swab, kita terpaksa kirim lagi ke Labkes Jakarta. Karena ada sedikit kendala teknis di BTKL kita, sehingga kita terpaksa harus kirim swab itu ke Jakarta,” bebernya.

Sekda Maluku ini juga menepis pernyataan warganet dan masyarakat sekitar, kalau MA yang sudah dimakamkan siang tadi, belum dapat dikatakan sebagai orang yang terjangkit positif Covid-19.

“Informasi yang beredar ke masyarakat bahwa pasien itu adalah pasien covid-19. Sekali lagi kami di gugus tugas maupun yang lain di Kota Ambon maupun di Provinsi, kita tidak mengatakan pasien tersebut adalah Covid-19 sebelum kita mendapatkan hasil swab” tegasnya.

Selang juga amat menyayangkan masih ada masyarakat yang mempunyai stigma terhadap orang yang berstatus ODP maupun PDP serta yang sudah positif Covid-19.

“Jadi ini yg harus kita edukasi kepada masyarakat bahwa ini orang yang kebetulan mengalami sakit. Kalau kejadian ini terjadi ke kita atau keluarga kita atau pasien yang tidak mau ditrima pastinya kita sedih. Tapi tidak perlu takut, harusnya kita waspada. Keluar rumah harus cuci tangan, keluar pakai masker dan seterusnya. Tetapi kalau ada ketakukan maka hal-hal yang negatif bisa terjadi,” tutup Selang. (DHT/BKA-1)

Comment