by

Pasutri Penganiaya Petugas Kebersihan Belum Tersangka

Ambon, BKA- Hingga kini, Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease terkesan mendiamkan penyelidikan kasus dugaan tindak pidana penganiayaan bersama yang dilakukan pasangan suami dan istri (Pasutri) terhadap petugas kebersihan Kota Ambon inisial EN.

Wanita 33 Tahun, Warga Halong Atas, Kecamatan Baguala ini dianiaya kedua pasutri, yaitu Yacub Louhena dan Dina Louhena hingga babak belur. Aksi membabibuta kedua pelaku terjadi pada 25 Juli 2020 lalu di jalan Tulukabessy, Mardika, Ambon.

Akibat dari kejadian tersebut, korban harus mengalami luka di bawah telinga, memar di seluruh wajah dan cidera serius di bagian kepala.

Theodoron Makarios Soulisa, Kuasa Hukum korban kepada Beritakota Ambon mengungkapkan, kasus penganiayaan bersama yang dilaporkan ke Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease tertuang dalam Laporan Polisi (LP) Nomor.LP-B/585/K/VII/2020/SPKT, 25 Juli 2020.

Dan terhitung jedah waktu dua bulan lebih penyidik melakukan pengusutan terhadap kasus ini, tetapi belum ada penetapan tersangka.

“Jadi terhitung sudah dua bulan lebih, kasus ini masih jalan di tempat. Kita hanya mempertanyakan, mengapa belum ditetapkan kedua pelaku itu sebagai tersangka,” ungkap Soulisa, Senin (14/9).

Rio, sapaan Theodoron Makarios Soulisa ini melanjutkan, proses penetapan tersangka masih terkendala menurut versi penyidik, belum mengantongi hasil visum dokter RS Bhayangkara Polda Maluku. Padahal, disaat dirinya melakukan koordinasi dengan pihak medis di RS Bhayangkara, mereka mengatakan kalau sampai kini belum ada penyidik yang datang untuk mengambil hasil visum tersebut.

“Pernah kita ke RS, tim medis mengatakan kalau penyidik belum ada yang datang mengecek hasil visum. Makanya kita minta supaya penyidik jangan lama-lama dalam penyelidikan kasus ini. Mintakan saja hasil visumnya untuk dijadikan alat bukti dalam menetapkan tersangka,” jelasnya.

Dia pun membeberkan, bukti-bukti yang dikantongi penyidik, dipastikan 75 persen sudah memenuhi dua unsur untuk dilakukan ekspos kasus tersebut. Sebab, saksi-saksi yang sudah diperiksa dalam perkara ini berjumlah 5 orang termasuk saksi korban.

“Jadi kejadian ini awalnya polisi memeriksa 4 saksi lebih dulu, karena korban masih di rawat di RS saat itu. Dan ketika korban sudah sembuh, saya dampingi korban ke Polresta untuk di BAP, nyatanya sampai hari ini status hukum kasus ini masih misterius,” kesalnya.

Untuk itu dia berharap, penyidik Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease lebih serius dalam menanganan kasus ini, sebab, murni tindakan yang dilakukan kedua pelaku merupakan kriminal murni tidak dapat direkayasa dengan bukti palsu . Belum lagi, korban merupakan seorang ibu rumah tangga, yang saban hari juga bekerja sebagai petugas kebersihan di Kota Ambon.

Selain itu, Soulisa menambahkan, aksi penganiayaan bersama terhadap korban ini, tanpa ada alasan yang jelas. Kedua pelaku melakukan penganiayaan terhadap korban. Usai dianiaya, korban bersama keluarganya ke RS Bhayangkara Tantui untuk menjalani perawatan medis serta melakukan visum, setelah itu dilaporkan ke Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease untuk ditindak sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

“Jadi intinya semua kewenangan penetapan tersangka ada pada penyidik. Namun perlu kita kawal proses ini, agar penyelidikan kasus ini tidak terkatung-katung,” tandas Soulisa.

Terpisah, Kasat Reskrim Polresta Pulau Ambon dan pulau-pulau Lease AKP Mido J Manik yang di konfirmasi Beritakota Ambon melalui pesan pendek WhatsApp Senin petang mengaku, akan memberikan keterangan terkait hal tersebut,sayangnnya sampai berita ini naik cetak, belum ada keterangan resmi dari yang bersangkutan. (SAD)

Comment