by

PDAM dan DSA Diingatkan Serius Tangani Krisis Air

Ambon, BKA- Pemerintah Kota Ambon melalui Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) dan PT Dream Sukses Airindo, diingatkan untuk lebih serius tangani persoalan krisis air bersih di sebagian wilayah Kecamatan Sirimau. Sebab, hingga saat ini warga sekitar masih kesulitan air bersih.

Sebelumnya, Direktur PDAM sekaligus Plt DSA, Apong Tetelepta menjelaskan, krisis air bersih yang terjadi di kota Ambon diakibatkan karena debit air yang berkurang akibat musim kemarau sejak akhir 2019 lalu.

Selain kemarau, puluhan kasus kebakaran hutan yang terjadi di kota Ambon diakuinya turut mempengaruhi penurunan debit air, sehingga sebagian pelanggan DSA serta PDAM di kecamatan Sirimau dan Nusaniwe, kesulitan memperoleh air bersih.

Penjelasan ini disampaikan resmi oleh Apon Tetelepta saat menghadiri undangan Komisi II DPRD Kota Ambon sekitar pertengahan Februari 2020 lalu. Sementara saat ini, sebagian warga Kecamatan Sirimau, masih kesulitan memperoleh air bersih.

Ketua DPRD Kota Ambon, Elly Toisuta menilai, jika salah satu penyebab krisis air adalah kemarau, maka dengan kondisi musim penghujan saat ini debit air telah bertambah. Sehingga mampu menjawab seluruh keluhan masyarakat yang sebelumnya kesulitan memperoleh air bersih.

“Ambon sekarang sudah memasuki musim penghujan. Kita tahu sendiri kan musim hujan ini sudah terjadi sekitar bulan April kemarin. Kalau memang krisis air akibat kemarau, maka bisa terjawab dengan adanya musim hujan saat ini. Lalu kenapa masih ada warga yang kesulitan air bersih ? ini yang harus diseriusi oleh Pemerintah Kota, terkhusus PDAM dan DSA,” tegas Toisuta, saat dihubungi koran ini, Sabtu (9/5).

Menurutnya, DSA dan PDAM harus lebih serius melihat persoalan krisis air bersih di kota Ambon. Dan Pemerintah Kota selaku pegambil kebijakan atas dua perusahaan daerah tersebut harus lebih serius melihat persoalan ini.
Sehingga dengan adanya musim penghujan, warga kecamatna Sirimau maupun Nusaniwe, tidak lagi kesulitan memperoleh air bersih.

“Masalah ini kan tiap tahun terjadi dan berulang-ulang. Langkah kongkrit apa yg harus disiapkan PDAM dan DSA melihat ini. Saya rasa, dari sisi anggaran tiap tahun kan disediakan untuk PDAM dan DSA, tapi saat saat ini masih tetap sama dan terus berulang,” heran Toisuta.

Politisi Golkar ini kembali mengingatkan, agar ada keseriusan dari PDAM dan DSA untuk melihat debit air dan menjawab keluhan masyarakat terkait krisis air bersih. Pasalnya, dengan kondisi pandemi Covid-19, warga harus terbantu dengan air bersih agar dapat menjalankan anjuran pemerintah untuk selalu mencuci tangan dan sebagainya.

“Kami minta keseriusan Pemerintah Kota untuk melihat persoalan ini. Dan setelah ini kita akan minta Komisi II untuk kembali mengundang PDAM dan DSA serta Pemerintah Kota untuk menindaklanjuti presoalan ini.

Karena rapat sebelumnya itu dilakukan tapi tak ada realisasi. Dan pemerintah Kota juga jangan diam, tetapi harus serius karena masyarakat masih berteriak soal krisis air bersih,” pungkasnya.

Terpisah, Sekretaris Kota (sekkot) Ambon, A. G. Latuheru menyebutkan, pihaknya masih melakukan operasi penyaluran air lewat mobil BPBD dan Damkar. Namun Ia berharap, musim penghujan untuk kota Ambon saat ini dapat menjawab krisis air tersebut.

“Kita operasi, baik mobil BPBD dan Damkar masih operasi di kawasan Sirimau. Tapi Nusaniwe masih aman-aman saja. Semoga hujan yang sudah mulai turun belakangan ini debit air bisa bertambah,” harapnya.

Latuheru menambahkan, krisis air yang terjadi dikarenakan sumber air bersih di beberapa titik telah mengering karena faktor musim kemarau sebelumnya. Dan yang paling fatal akibat kawasan resapan air yang sudah ditempati warga.

“Sumber air di Arbes memang sudah kering karena faktor cuaca. Tapi yang paling fatal, warga sudah mengambil daerah tempat dimana lahan itu menjadi sumber air, yaitu daerah resapan air. daerah Itu sudah tidak ada. Dan siapa yang tinggal di daerah resapan, maka ikut bertanggung jawab terhadap krisis air bersih,” tutup Latuheru. (UPE)

Comment