by

Pedagang Emas Sepi Pembeli

Ambon, BKA- Dampak ekonomi mulai dirasakan para pedagang emas di masa pandemi Covid-19. Terutama sejak Kota Ambon ditetapkan sebagai daerah zona merah, Pembatasan Sosial Berskala Regional (PSBR) hingga Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) lewat Perwali nomor 16 tahun 2020.

Dampak tersebut dirasakan langsung para pedagang emas yang berjualan pada emperan toko maupun para pengusaha toko emas, terhadap sepinya pembeli.

Uda Agus (37) salah seorang pedagang emas emperan di Jalan Sam Ratulangi, mengungkapkan, hingga kini pembeli yang mampir untuk melihat-lihat emas, sudah sangat jarang. Apalagi yang datang membeli.

Akibatnya, dia mulai merasa kesulitan keuangan karena pemasukan dari omset penjualannya berkurang drastis. “Orang yang datang untuk beli, sudah sangat jarang. Ini yah karena corona ini,” ujarnya, Senin (15/6).

Karena sepinya pembeli, katanya, membuat banyak pedagang emas lainnya memilih untuk tidak beraktivitas.

Tapi baginya, tidak ada pilihan lain selain tetap berjualan. “Mau bikin bagaimana, kalau tidak berjualan mau makan apa? Jadi tetap buka saja, mungkin ada yang mau beli,” tutur, kepada koran ini, Senin (15/6).

Untuk harga emas saat ini, akui dia, untuk emas yang di jual pada toko perhiasan berkisar Rp 850 ribu per gram. Sedangkan untuk yang dijual di emperan, berkisar Rp 700 ribu per gramnya.

Dengan adanya harga yang ditawarkan tersebut, memang membuat masyarakat sedikit enggan untuk melakukan pembelian. Meski demikian, tetap saja ada pembeli. Walau satu atau dua orang.

“Iya, biar tinggi, tapi tetap ada yang beli, walaupun itu satu atau dua orang saja per hari. Itu juga tidak menentu. Tapi tetap saya jualan saja,” tutur Agus.

Ia berharap, pandemi ini segera berakhir, sehingga seluruh aktivitas dapat berjalan dengan normal. “Mudah-mudahan masalah wabah ini cepat selesai, supaya saya maupun masyarakat lain bisa memperoleh penghasilan yang normal. Seperti sebelum adanya pandemi Covid-19 ini,” harapnya. (DHT)

Comment