by

Pelaku UMKM Keluhkan Penjualan Menurun

Ambon, BKA- Bisnis UMKM menjadi salah satu sektor yang paling merasakan dampak wabah Virus Corona (Covid-19). Bahkan berdasarkan info dari Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) (Kompas, 27 Maret 2020), setidaknya terdapat 949 laporan dari pelaku koperasi serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang terkena dampak wabah virus Corona (Covid-19).

Hal ini terbukti, sektor UMKM di Provinsi Maluku juga merasakan hal yang sama. Salah satu pelaku UMKM, Udy Salampessy, mengungkapkan, kondisi saat ini sangat berdampak bagi para penjual rujak Natsepa. Bermula dari ditutupnya tempat-tempat pariwisata.

“Kami biasanya berjualan didalam tempat wisata. Namun sekarang ditutup. Kalau yang berjualan di sebelah luar, masih bisa jualan. Tapi yang belim hitung dengan jari juga tidak habis. Untuk Pantai Sopapei dan Natsepa dalam banyak yang ditutup. Kami kehilangan mata pencarian. Kami harus berpikir untuk mencari alternatif usaha yang lain dan berusaha mengubah cara berjualan secara online. Namun dengan adanya PSBB, kami pun sangat kesulitan memasarkan, karena wilayah kami di Maluku Tengah, sementara peminat ini sebagian besar di wilayah Kota Ambon,” ungkapnya kepada koran ini, Rabu(10/6).

Dirinya berharap, tempat-tempat pariwisata bisa dibuka dengan menerapkan protokoler Covid, agar sektor UMKM ini masih bisa terus berkembang.

“Dengan begitu, kami bisa mencari nafkah. Walau memang tidak seperti kondisi normal. Kami juga harapkan bantuan pemerintah, entah sembako atau dana bagi kami atau kelompok, untuk bisa memulai usaha sampingan yang lain. Entah jualan kue atau yang lain ditengah kondisi sulit seperti ini,” harapannya.

Terpisah, Pimpinan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Ambon, Ridul Akbar, mengakui, sejak terjadinya wabah corona, sangat berdampak pada daya beli masyarakat. Hal inilah yang membuat sektor UMKM mengalami penurunan penjualan.

“Pandemi ini yang paling terasa dampaknya, pastinya sektor UMKM. Makanya dari dua bulan ini, kami fokus melihat nasabah-nasabah kami, realitas di lapangan seperti apa.

Dua bulan ini juga kami lakukan pemetaan usaha mereka, dimana nasabah yang terkena dampak Covid, kita berikan relaksasi sesuai peraturan OJK. Dan sampai saat ini sudah 26 persen nasabah kita berikan keringanan pembayaran, dikarenakan kondisi yang terjadi saat ini,” tuturnya.

Ditambahkan, PNM sebagai salah satu perusahaan pembiayaan, pendamping dan pembinaan usaha kepada pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), berupaya agar sektor UMKM ini tetap berkembang.

“Makanya kami juga melihat usaha-usaha mana saja yang maish bisa dan perlu untuk dikembangkan, kita lakukan pembiyaan agar bisa tersu berputar usaha dari nasabah-nasabah kita. Ada dua produk unggulan yang kita berikan, yaitu Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) yang diperuntukkan bagi pelaku UMKM, serta membina ekonomi keluarga sejahterah (Mekaar) yang memberikan layanan kepada perempuan prasejahterah pelaku usaha ultra mikro,” jelasnya.

Dia juga berharap, UMKM di daerah ini bisa bangkit kembali dan meningkatkan kapasitas usaha serta mampu bersaing dengan produk-produk dari luar.

“Saat ini produk banyak tapi pasaran masih cukup sulit, sehingga UMKM ini tetap kami bantu untuk pembiyaan tapi dengan harapan bisa meningkatkan kapasitas usaha serta mampu bertahan dan terus berkembang dari segi punjualan,” harap Akbar. (KJH)

Comment