by

Pembunuh Anak Kandung Divonis 13 Tahun Penjara

Ambon, BKA- Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Ambon memvonis Vantje A. Loppies alias Vance alias Vavo, dengan pidana penjara selama 13 tahun, dalam sidang yang berlangsung secara virtual, Kamis (23/7).

Pada sidang virtual itu, majelis hakim membacakan vonis itu dari PN Ambon, sedangkan JPU mengikuti sidang dari Kantor Kejari Ambon, sementara penasehat hukum mendampingi terdakwa mengikuti sidang dari Rutan Kelas II A Ambon.

Selain pidana badan, Warga Negeri Silale, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, ini juga dibebankan membayar denda sebesar Rp1 miliar, subsider enam bulan kurungan.

Di dalam amar putusan majelis hakim, terdakwa dinyatakan terbukti melanggar pasal 80 ayat (4), jo pasal 76 C Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.

“Berdasarkan keterangan saksi-saksi, pemeriksaan terdakwa, dan tuntutan JPU, maka majelis hakim berkesimpulan, terdakwa terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap anak kandungnya sendiri hingga meninggal dunia,” ungkap Ketua Majelis Hakim, Hamjah Kailulu, didampingi dua Hakim Anggota, Lucky Rombot Kalalo dan Christina Tetelepta. Sedangkan terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Franky Tutupary dan Ronald Salawane.

Terhadap putusan majelis hakim, terdakwa bersama JPU Fitria Tuahuns mengatakan menerima putusan majelis hakim tersebut terhadap terdakwa.

Putusan majelis hakim ini lebih ringan bila dibandingkan dengan tuntutan JPU, yang sebelumnya menuntut terdakwa supaya dipenjara selama 15 tahun penjara, dan membayar denda sebesar Rp 1 miliar, subsider satu tahun kurungan badan.

Dalam berkas dakwaanya, JPU menguraikan, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi 27 Januari 2020, sekitar pukul 16.00 WIT, tepatnya di rumah terdakwa Vantje A. Loppies di Negeri Silale, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

Awalnya, ketika saksi Fredrik Lopies bersama dengan anaknya Hendrik Lopies, serta saksi Richard Lopies dan korban G.L, baru saja bangun tidur dan duduk diatas kubur yang berada di halaman rumah terdakwa.

Saat itu, terdakwa terlihat baru saja selesai minum minuman keras. Pulang ke rumah sambil marah-marah dan mengeluarkan makian.

Saksi Fredrik Lopies yang sedang menyapu halaman rumah, menegur terdakwa agar tidak boleh mengeluarkan kata-kata kotor. Tapi terdakwa tidak mau ambil pusing, malah memukul bagian kepala dan hidung saksi hingga berdarah. Saksi kemudian lari.

Terdakwa kemudian mengambil sebilah parang, kemudian mengejar saksi lain, yaitu, Richard Lopies. Karena takut, saksi Richard pun lari.

Bukan hanya Richard, semua saksi yang saat itu berada di rumah terdakwa, lari ketakutan.

Karena semua saksi telah lari, terdakwa kemudian masuk ke rumahnya. Dia melihat anaknya atau korban sedang nonton TV. Terdakwa memanggil korban yang masih berusia tiga tahun itu, berniat memandikannya.

Saat korban mendatangi korban disamping bak, terdakwa lantas membuka pakaian korban. Saat membuka pampers korban, terdakwa langsung emosi karena oampers korban sudah dipenuhi kotoran.

Karena emosi, terdakwa langsung menganiaya korban yang merupakan anaknya sendiri, hingga tidak sadarkan diri. Beberapa saksi yang merupakan tetangga terdakwa yang melihat kondisi korban, berusaha membawa korban ke RS untuk mendapat pertolongan medis. Tapi sayangnya nyawa korban tak tertolong.(SAD).

Comment