by

Pembunuh di Haruku Minta Hakim Bersikap Adil

Ambon, BKA- Jecky Mustamu (33), terdakwa kasus tindak pidana pembunuhan di Negeri Haruku, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), yang dituntut penjara selama 12 Tahun, meminta kepada tiga majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara agar bersikap adil dan bijak ketika memutuskan perkara tersebut.

Melalui Penasehat Hukum (PH) Terdakwa, Dominggus Huliselan di dalam persidangan mengatakan, terhadap putusan majelis hakim, sebagai PH, dirinya menyerahkan semua keputusan kepada majelis hakim yang mulia untuk dapat memutuskan perkara ini dengan baik dan seadil mungkin.

“Yang mulia kami berharap kasus ini, dapat diputus dengan seadil mungkin,” ungkap Huliselan dalam nota pledoi yang dibacakan dalam persidangan, yang di pimpin tiga majelis hakim, yakni Lucky R. Kalalo sebagai hakim ketua di bantu Christina Tetelepta dan Hamzah Kailul sebagai hakim anggota, pada sidang Kamis (13/8).

Menurut Huliselan, terdakwa dalam kasus ini, sudah benar-benar bersikap sopan, menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulagi lagi perbuatan yang dilakukan. Untuk itulah, melalui nota pledoi yang disampaikan dalam persidangan tersebut, supaya majelis hakim dapat menjadikan pertimbangan untuk memutus perkara ini.

“Intinya kita serahkan semuanya kepada majelis hakim, semoga memutuskan perkara ini dengan seadil mungkin,” tandas Huliselan seraya menyerahkan nota pledoi kepada majelis hakim dipersidangan.

Setelah menerima nota pledoi PH terdakwa, majelis hakim menunda sidang hingga, pekan depan untuk agenda putusan majelis hakim.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Malteng, Inggrid Louhenapessy menuntut terdakwa Jecky Mustamu dengan penjara selama 12 Tahun.

Tuntutan ini dibacakan dalam persidangan yang berlangsung, Rabu (29/7), di Pengadilan Negeri Ambon.

Menurut JPU, terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 338 KUHPidana dan pasal 351 ayat (3) KUHPidana.

JPU dalam berkas dakwaannya menyebut, pada Kamis 19 Maret 2020 sekitar pukul 02.00 wit di depan rumah Christian Mustamu di Negeri Haruku Kabupaten Maluku Tengah.
Awalnya, terdakwa ke pesta pernikahan Meike Lesmanuwaya. Di perjalanan, terdakwa bertemu korban Daniel Tahya, saksi Julius Tahya, dan saksi Helmi Rahayaan. Terdakwa lalu menanyakan apakah ada minuman tradisional jenis sopi.

Karena tidak ada, terdakwa hendak menuju ke pesta pernikahan itu mengambil sopi. Namun, terdakwa mendengar saksi Julius Tahya mengundangnya berkelahi. Korban dan saksi Julius Tahya lalu mengejar terdakwa untuk memukulinya.

Setelah kejadian tersebut, terdakwa pulang ke rumahnya dan mengambil sebuah parang panjang. Dia lalu mencari saksi Julius Tahya, namun mereka tidak bertemu. Sementara itu, ketika terdakwa sedang marah-marah di depan rumahnya, ia melihat korban.

Terdakwa lalu menghampiri korban. Mereka berdua terlibat pertengkaran. Dalam pertengkaran itu, korban mengatakan kalau dirinya lebih sadis. Mendengar itu, terdakwa langsung membacok korban menggunakan parang di bagian leher. Korban sempat berusaha berlari menyelamatkan diri. Namun, terdakwa kembali membacok dia.

Terdakwa yang melihat korban terluka langsung melarikan diri ke hutan. Sementara korban berjalan mencari pertolongan.(SAD).

Comment