by

Pemuda Bejat di Malteng Dituntut 13 Tahun Penjara

Ambon, BKA- Terdakwa kasus persetubuhan terhadap anak dibawah umur, Semual Hetharia alias Semi (65), dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Malteng dengan pidana penjara selama 13 tahun pada persidangan di Pengadilan Negeri Ambon, Kamis (13/8).

Sidang agenda tuntutan tersebut dipimpin Ketua Majelis Hakim, Lucky R. Kalalo Cs. Sedangkan terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Ronald Salawane.

JPU menyebutkan, pemuda yang bermukim di Negeri Nalahia-Kasuari, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) ini terbukti bersalah melakukan tindak pidana persetubuhan terhadap anak dibawah umur, sebagaimana diatur dalam pasal 81 ayat (2) UU Nomor 16 Tahun 2016, tentang penetapan peraturan pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016, tentang perubahan kedua atas UU nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Menjatuhi hukuman pidana kepada terdakwa dengan penjara selama 13 tahun, dipotong masa tahanan selama terdakwa berada dalam tahanan,” ungkap JPU Kejari Malteng, Inggrid Louhenapessy, dalam berkas tuntutannya.

JPU dalam berkas dakwaanya menjelaskan, perbuatan bejat yang dilakukan terdakwa terjadi pada Januari 2020 lalu. Saat itu, korban yang merupakan tetangga terdakwa meminta mangga yang pohonnya ada dibelakang rumah terdakwa.

Namun sebelum terdakwa membiarkan korban mengambil mangga, terlebih dahulu terdakwa membawa korban ke dalam rumahnya yang tengah sepi, untuk melancarkan aksi bejatnya.

Korban yang masih polos sempat menolak ajakan terdakwa, namun dipaksa terdakwa. Sehingga aksi bejat itu pun terjadi.

Setelah puas, baru terdakwa membawa korban ke belakang rumahnya untuk mengambil mangga. Kemudian korban pulang ke rumahnya.

Tidak sampai disitu, korban kembali melancarkan aksinya terhadap pada Maret 2020. Saat itu terdakwa datang ke rumah korban, meminta korban ke rumahnya. Ternyata pria bejat itu kembali menyetubuhi korban.

Namun kali ini, aksi bejat terdakwa diketahui oleh tetangga lainnya, yang kemudian melaporkan hal itu kepada orangtua korban. “Kemudian orangtua korban melaporkan hal itu ke Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease untuk diproses hukum,” tandas JPU.

Setelah mendengarkan amar tuntutan JPU, hakim menunda sidang hingga pekan depan untuk agenda pledoi/pembelaan dari kuasa hukum terdakwa.(SAD).

Comment