by

Pemuda Cabul 8 Tahun Bui

Ambon, BKA- Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Ambon akhirnya mengganjar Obet Lelauw, pemuda yang bermukim di Desa Porto, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), dengan pidana penjara selama delapan (8) tahun dalam persidangan yang di gelar di PN Ambon, Kamis (9/7).

Di dalam amar putusan majelis hakim, terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 81 ayat (2) UU.RI No. 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang Jo pasal 64 ayat (1) KUHPIdana.

Selain pidana badan, terdakwa juga dibebankan membayar denda sebesar Rp. 500 juta subsider 6 bulan kurungan.

“Mengadili, menyatakan terdakwa terbukti bersalah dan vonis penjara selama 8 Tahun,serta denda Rp.500 juta subsider enam bulan kurungan,” ucap ketua majelis hakim, Christina Tetelepta, dibantu Hamzah Kailul dan Lucky Rombot Kalalo selaku hakim anggota, dalam amar putusannya. Sedangkan terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Robert Lesnussa dan JPU dihadiri, Rian Jose Lopulalan.

Putusan majelis hakim ini jauh lebih ringan daripada tuntutan JPU yang sebelumnya menuntut terdakwa agar dipenjara selama 10 tahun penjara dalam persidangan, Kamis (2/7) kemarin.

Sesuai amar putusan majelis hakim, terdakwa diketahui melakukan aksi bejatnya pada pertengahan November 2019 kemarin, hingga Desember, di kios milik terdakwa di Desa Porto, Kecamatan Saparua, Malteng.

Kejadian bermula ketika korban mendatangi kios milik terdakwa untuk membeli bumbu masak. Terdakwa lalu meminta korban datang sore hari untuk mengambil uang jajan dan uang ojek milik ibu korban.

Keesokan harinya, korban mendatangi kios terdakwa. Saat itu, korban sendirian duduk di depan kios. Tedakwa langsung menarik korban masuk ke dalam kios dan melakukan perbuatan tidak senonohnya itu.

Terdakwa terus melakukan perbuatan tersebut setiap kali korban datang untuk mengambil uang ojek milik ibunya. Bahkan ketika korban datang bersama ibunya untuk mengambil uang, terdakwa selalu menyuruh ibunya pulang lebih dulu.

Persetubuhan yang dilakukan terdakwa kepada korban lebih dari sepuluh kali. Setiap kali terdakwa melakukan perbuatannnya itu, dia selalu memberikan uang kepada korban sebesar Rp. 25.000, sambil mengatakan tidak boleh memberitahukan kejadian tersebut kepada siapapun.

Saat perbuatannya itu dilakukan kepada korban terakhir kali, saksi Yohan Aponno mengetahui hal tersebut. Saat itu, Yohan sedang berdiri di depan kios milik terdakwa. Karena merasa curiga, ia langsung masuk ke dalam kios dan melihat kejadian tersebut. Saksi langsung memukul terdakwa dan melaporkan hal tersebut ke pihak kepolisian. (SAD)

Comment