by

Pencabul Terancam 10 Tahun Bui

Ambon, BKA- Obet Lelauw, Warga Desa Porto, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) terbilang bejat.
Pria 55 Tahun ini melakukan persetubuhan terhadap korban yang baru berusia 12 tahun secara ulang-ulang di dalam kiosnya di Desa Porto, sejak November 2019 lalu.

Akibat perbuatannya, lelaki bejat itu kini harus dihadapkan dengan ancaman10 tahun penjara, oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Malteng.

Menurut JPU, Rian Jose Lopulalan, dalam berkas tuntutannya, terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 81 ayat (2) UU.RI No. 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.1 tahun 2016, tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang Jo pasal 64 ayat (1) KUHPIdana.

“Selain 10 tahun penjara, terdakwa juga dibebankan membayar denda Rp 500 juta, subsider enam bulan kurungan. Serta memerintahkan supaya terdakwa tetap ditahan,” ungkap JPU dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri Ambon, yang diketuai Christina Tetelepta, dibantu Hamzah Kailul dan Lucky Rombot Kalalo selaku hakim anggota. Sedangkan terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Robert Lesnussa, Kamis (2/7).

Pertimbangan meringankan, terdakwa belum pernah di hukum dan mengakui perbuatannya. Sedangkan pertimbangan yang memberatkan, perbuatan terdakwa membuat korban mengalami trauma yang mendalam.

Sesuai amar tuntutan JPU, terdakwa diketahui melakukan aksi bejatnya pada pertengahan November 2019 kemarin hingga Desember, di kios milik terdakwa di Desa Porto, Kecamatan Saparua, Malteng.

Kejadian bermula ketika korban mendatangi kios milik terdakwa untuk membeli bumbu masakan. Terdakwa lalu meminta korban datang Sore hari, untuk mengambil uang jajan dan uang ojek milik ibu korban.

Keesokan harinya, korban mendatangi kios terdakwa. Saat itu, korban sendirian duduk di depan kios. Terdakwa langsung menarik korban masuk ke dalam kios, seraya melakukan perbuatan tidak senonohnya itu.

Terdakwa terus melakukan perbuatan tersebut setiap kali korban datang untuk mengambil uang ojek milik ibunya. Bahkan ketika korban datang bersama ibunya untuk mengambil uang, terdakwa selalu menyuruh ibunya pulang lebih dulu.

Persetubuhan yang dilakukan terdakwa kepada korban lebih dari sepuluh kali. Setiap kali terdakwa melakukan perbuatannnya itu, dia selalu memberikan uang kepada korban sebesar Rp. 25.000, sambil mengatakan tidak boleh memberitahukan kejadian tersebut kepada siapapun.

Saat perbuatannya itu dilakukan kepada korban terakhir kali, saksi Yohan Aponno mengetahui hal tersebut. Saat itu, Yohan sedang berdiri di depan kios milik terdakwa. Karena merasa curiga, ia langsung masuk ke dalam kios dan melihat kejadian tersebut. Saksi langsung memukul terdakwa dan melaporkan hal tersebut ke pihak kepolisian.

Setelah mendengarkan tuntutan JPU, hakim menunda sidang hingga pekan depan untuk agenda pledoi kuasa hukum terdakwa.(SAD)

Comment