by

Pencegahan Covid-19 Di MBD Jangan Kaitkan Dengan Pilkada

Ambon, BKA- Ketua Gugus Tugas (Gustu) Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Benyamin Th Noach, menegaskan, upaya pencegahan Covid-19 yang tengah dilakukan, jangan dikaitakan dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

“Jangan membelok-belokan cerita dengan mengkait-kaitkan dengan Pilkada, karena kita sekarang berhadapan dengan musuh yang tidak kelihatan, yang bisa saja membunuh kita semua. Apa artinya Pilkada dibanding keselamatan masyarakat. Masyarakat harus hidup dan sehat, baru pikirkan yang lain,” tegas Noach, dalam konferensi pers di ruang rapat Kantor Bupati, Senin (25/5).

Noach mengungkapkan, upaya pencegahan yang dilakukan Gustu Covid-19 saat ini, merupakan tindakan murni untuk keselamatan masyarakat. Bukan untuk kepentingan politik. Sehingga tidak ada kaitan antara persoalan wabah corona ini dengan agenda Pilkada mendatang.

“Bahwa tidak ada kepentingan lain dari karantina terpusat yang dilakukan saat ini. Hanya satu kepentingan, yaitu, bahwa keselamatan rakyat diatas segala-galanya. Itu yang menjadi pedoman Pemerintah Daerah (Pemda) dan Gugus Tugas dalam penanganan Covid-19,” ungkap Bupati MBD ini.

Noach menyampaikan, upaya penanganan penyebaran Covid-19 sesuai Surat Edaran (SE) Bupati MBD, tertanggal 19 Maret 2020, intinya, setiap Pelaku Perjalanan yang masuk wilayah MBD harus melakukan karantina mandiri.

SE itu, terangnya, dibuat berdasarkan hasil video conference dengan Sekda Provinsi Maluku, Kasrul Selang, pada 5 Mei 2020 lalu. Saat itu, Pemrintah Kabupaten MBD mengajukan permohonan penutupan arus penumpang dari Kota Ambon, karena adanya peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 yang signifikan.

Berdasarkan pertimbangan itu, lanjut Noach, maka semua Pelaku Perjalanan yang menggunakan KM Sabuk Nusantara 87 dari Kota Ambon harus dikarantina.

“Sesuai protokol kesehatan, bahwa pelaku perjalanan yang akan menggunakan jasa pelayaran dan penerbangan wajib menunjukan hasil Rapid Test Negatif dari daerah asal keberangatan. Dan pada tanggal 6 Mei lalu, Gustu mendapat laporan bahwa ada 32 pelaku perjalanan yang menggunakan KM Sabuk Nusantara 87 dari Ambon, yakni, sejumlah Anggota Polri dan ASN. Saat mereka tiba, ternyata hanya 6 orang yang mempunyai hasil Rapid Test. Sehingga Gustu memutuskan untuk melakukan karantina terpusat bagi ke-32 Pelaku Perjalanan tersebut. Karena selama 4 hari dalam pelayaran bisa saja ada interakasi dalam kapal. Jadi jangan disalah artikan soal ini,” tuturnya.

Setelah mereka mengikuti masa karantina selama 13 hari pasca tiba di MBD 10 Mei lalu, sesuai protokol kesehatan, 32 Pelaku Perjalanan itu wajib melakukan Rapid Test kembali
sebelum dipulangkan ke rumah masing-masing.

Dari hasil Rapid Test kembali itu, ternyata, dua dari 32 Pelaku Perjalanan tersebut menunjukkan hasil reaktif atau positif Covid-19. Sedangkan 30 lainnya negatif atau non reaktif.

“Pemda dan Satgas Covid-19 MBD, tidak mau mengambil resiko. Segala kemungkinan sekecil apaupun harus dijaga demi keselamatan masyarakat MBD. Karena persoalan besar biasanya terjadi hanya karena kelengahan kita pada hal-hal yang kecil. Orang tidak tersandung pada batu yang besar, tetapi orang tersandung pada batu yang kecil,” katanya.

Lanjutnya, karena ditemukan dua yang positif, maka terhadap 30 Pelaku Perjalanan lainnya akan kembali mengikuti Rapid Test pada 10 hari berikutnya. Sehingga perlu dilakukan karantina kembali.

“Sebab, 2 orang ini selama di atas kapal, sudah berinteraksi dengan para pelaku perjalanan yang lain,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, ada kekhawatiran juga dari tim Gustu terhadap para Pelaku Perjalanan selama masa karantina. “Kita khawatir juga, karena selama karantina, banyak yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Diantaranya, tidak menjaga jarak dan tidak memakai masker. Bahkan Gustu mendapat laporan, bahwa banyak pengunjung yang datang ke tempat karantina. Ini yang ditakutkan. Jangan sampai, kita mencegah penyebaran dari dalam, namun ternyata dari luar telah berinteraksi tanpa disadari, sehingga telah menyebar keluar. Ini bahaya besar. Saya berdoa semoga alat ini salah,” lanjut Noach.

Untuk itu, kata Noach, pihaknya telah mengambil langkah untuk penanganan 2 orang Reaktif itu. Yakni telah dikarantina terpisah di Mess Pemda. Sambil menuggu hasil swabnya.

Dia berharap, semua pihak dapat mendukung pemerintah dan Gustu dalam upaya mencegah penyakit mematikan ini. Bukan justru menilai yang bukan-bukan.

“Ini untuk keselamatan masyarakat. Tidak ada kepentingan lain. Karena itu, saya menghimbau kepada seluruh masyarakat, seluruh stakeholder, untuk tidak panik dengan kondisi ini. Mari kita bekerja sama, kooperatif dan bergandengan tangan dalam menyelesaikan masalah ini. Kalwedo,” pungkas Noach. (LAM).

Comment