by

Pendidikan dan Peran Keluarga di Era Covid 19

Oleh: Ustadz Drs. HM. Fathoni, M.Pd
(Direktur Yayasan Assalam Maluku)

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah mengeluarkan surat edaran No. 20 tentang Pelaksanaan Pendidikan Masa Darurat Penyebaran Covid-19 tangal 24 Maret 2020 dan sampai saat masih berlaku. Dalam surat edaran tersebut mengatur ketentuan proses belajar di rumah selama selama siswa dialihkan tempat belajarnya dari sekolah ke rumah dan dari kelas tatap muka ke kelas jarak jauh. Dengan tujuan agar proses pendidikan tetap berjalan walaupun saat terjadi pandemi Covid 19.

Sebagaimana kita ketahui Covid-19 atau lebih dikenal Virus Corona merupakan virus baru menular melalui pernapasan, virus ini sendiri di identifikasi pada bulan Desember 2019 di Wuhan. Berkembangnya virus Corona ini ternyata tidak hanya berdampak di bidang kesehatan saja namun juga pada sektor lainnya termasuk ekonomi, pendidikan dan lainnya. Pada sektor pendidikan adanya virus Corona ini pemerintah mengeluarkan aturan bahwa proses pendidikan dan pembelajaran pada setiap tingkat satuan pendidikan dilakukan di rumah dengan pendampingan orang tua. Dampak lainnya dari virus corona menyebabkan tidak terselenggaranya Ujian Nasional (UN) pada tingkatan satuan pendidikan dan pembelajaran secara langsung dalam ruang kelas.

Pendidikan itu sendiri merupakan usaha yang dilandasi kesadaran dan terencana untuk menciptakan proses pembelajaran dan suasana belajar, agar murid dapat mengembangkan potensi diri secara aktif untuk mendapatkan keterampilan, akhlak mulia, kecerdasan, kepribadian, pengendalian diri, dan kekuatan spiritual keagamaan yang diperlukan oleh dirinya sendiri dan masyarakat.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan bahwa pendidikan terdiri dari kata didik dan dilengkapi dengan imbuhan pe dan akhiran an yang artinya adalah cara atau proses atau disebut juga perbuatan mendidik. Dengan kata lain pendidikan merupakan proses untuk mengubah tata laku dan sikap seseorang atau kelompok dan usaha untuk mendewasakan manusia dengan cara pelatihan dan pengajaran. Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, KI Hajar Dewantara menjelaskan bahwa pendidikan merupakan tuntutan hidup dalam kehidupan anak-anak. Artinya adalah menuntun semua kodrat pada kekuatan anak-anak tersebut sehingga anak-anak dapat mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya. Menurut UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 dijelaskan bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Di keluarkan surat edaran tersebut tidak lain agar proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik sesuai tujuan pendidikan, maka membutuhkan peranan guru yang lebih kreatif, inovatif khusunya pemanfatan teknologi juga peran dari orang tua. Pendidikan pada hakekatnya keluarga yang paling utama untuk meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan baik agama maupun umum. Sebagaimana kita fahami keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga serta beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di satu atap dalam keadaan saling bergantungan, (Depkes RI, 1988). Dengan diberlakukan kebijakan pemerintah belajar di rumah, bekerja di rumah maka fungsi esensial keluarga menjadi sangat terasa dan lebih terasa di masa physical distancing. Di saat semua orang sangat dibatasi keluar rumah, kehadiran keluarga menjadi solusi bagi pemenuhan kebutuhan dasar sebagai makhluk sosial. Keharmonisan keluarga menjadi salah satu cara untuk mengurangi stress dan tetap dalam zona kebahagiaan. Bila tidak stress dan tetap bahagia, imunitas terjaga.

Hal ini sejalan dengan fungsi-fungsi utama keluarga yaitu fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, dan pembinaan lingkungan (Wirdhana et al., 2012). Jika semua fungsi tersebut dijalankan dengan baik, keluarga benar-benar dapat menjadi miniatur dunia yang indah dan berkah. Tidak akan ada rasa sepi dan kesepian, tidak akan ada rasa terasing dan sendirian. Semua anggota keluarga akan mendapatkan social support menghadapi wabah dari orang-orang yang terdekat dan terpenting dalam hidupnya. Oleh karenanya orang tua seyogyanya pandai-pandai betul mengenali karakter putra-putrinya sehingga pendampingan proses pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan di rumah benar-benar tepat sasaran, artinya proses pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan berlangsung secara psikologis (sesuai kebutuhan dan karakter anak).

Di masyarakat luas tidak jarang ditemukan orang tua dalam melakukan pendampingan pola asuh pada putra-putrinya masih dilakukan dengan cara keras, membentak, memaksa dan bahkan sampai memukul jika anaknya tidak mau menuruti kemauan orang tuanya dalam hal belajar hingga anaknya menangis. Jika tekanan-tekanan yang demikian ini setiap hari dilakukan orang tua walaupun tujuannya baik yakni supaya anaknya pintar tapi dengan pendekatan yang kurang tepat, sama halnya setiap hari yang disaksikan anak adalah seperti monster –monster pendidikan yang selalu menakutkan. Pola asuh demikian ini termasuk cara-cara otoriter yakni pola asuh orang tua yang lebih mengutamakan membentuk kepribadian anak dengan cara menetapkan standar mutlak harus dituruti , biasanya dibarengi dengan ancaman- ancaman. Ciri-cirinya antara lain adalah; 1)Anak harus tunduk dan patuh pada kehendak orang tua, 2) Pengontrolan orang tua terhadap perilaku anak sangat ketat, 3) Anak hampir tidak pernah diberi pujian, 4) Orang tua tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah, 5) Orang tua menerapkan peraturan yang ketat, 6) Tidak adanya kesempatan untuk mengemukakan pendapat, 7) Segala peraturan yang dibuat harus dipatuhi oleh anak, 8) Berorientasi pada hukuman (fisik maupun verbal).

Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri, anak mudah tersinggung, pemurung dan merasa tidak bahagia, mudah terpengaruh, mudah stress, tidak mempunyai arah masa depan yang jelas. Itulah dampak dari model pola asuh yang hanya dilakukan oleh mereka yang berperan sebagai monster-monster pendidikan yang tidak pernah mau mengenal anak dan tidak pernah tahu kepribadian anaknya secara utuh.

Oleh karena itu saat ini untuk menyikapi kebijakan pemerintah terkait dengan pembelajaran yang dilakukan di rumah akibat munculnya Covid-19 ini, orang tua harus lebih hati-hati dalam melakukan pendekatan selama proses pendampingan belajar di rumah bagi putra-putrinya supaya tidak salah langkah. Perlakuan orang tua dalam layanan bimbingan pada anak di rumah setidaknya harus menampilkan hal-hal berikut; 1) Menerima anak apa adanya, 2) Memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang, 3) Tidak menuntut anak untuk menunjukkan perubahan perilaku dengan segera, 4) Tidak memaksa anak untuk memenuhi keinginan orang tua, 5) Sabar, penuh kehangatan dan toleransi 6) Pemaaf, menghargai dan memberi kebebasan pada anak. Jika ini yang dilakukan orang tua, maka tidak akan ditemui lagi monster-monster pendidikan yang menakutkan dalam rumah.

Lantas bagaimana peran keluarga di era Covid 19. Sebagaimana Islam menyebutkan dalam Al qur’an, Allah SWT berfirman yang artinya :
“Dan orang orang yang berkata : “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS Al furqan : 74)

Keluarga memegang peranan penting dalam kehidupan, karena setiap manusia tentunya berangkat berawal dari sebuah keluarga. Jadi bisa disimpulkan bahwa keluarga adalah tempat dimana pondasi nilai-nilai agama diajarkan oleh kedua orangtua dan anggota keluarga lainnya kepada seorang anak. Olehnya itu peran keluarga antara lain :

  1. Menanamkan Pendidikan Moral
    Pendidikan moral tidak lain pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimilik anak sebagai dasar pembelakalan kehidupan selajutnya bagi anak. Keluarga adalah tempat pertama dimana seorang anak belajar tentang adab dan akhlak. Dalam sebuah keluarga, suami istri yang menikah akan menjalankan dan membangun rumah tangga dengan ajaran agama islam dan hal tersebut juga akan diajarkan pada anak-anaknya.
    Dari sebuah keluarga, seorang anak akan melihat bagaimana orangtuanya shalat, berpuasa, membaca alqur’an dan lain sebagainya. Sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah akan senantiasa menanamkan iman dan membentuk anak-anaknya menjadi pribadi dengan akhlak dan budi pekerti yang baik terutama saat bergaul dalam masyarakat.
  2. Memberikan Rasa Tenang
    Keluarga adalah orang terdekat bagi setiap manusia dan tempat mencurahkan segala isi hati maupun masalah. Keluarga juga merupakan tempat berkeluh kesah bagi setiap anggotanya karena hanya keluargalah yang ada dan senantiasa memberikan perhatian kepada setiap orang meskipun keadaan keluarga setiap orang berbeda-beda. Dalam Alqur’an sendiri disebutkan bahwa keluarga yang sakinah adalah keluarga yang dipenuhi dengan ketentraman dan ketenangan hati.
  3. Menjaga Dari Siksa Api Neraka
    Telah disebutkan sebelumnya bahwa keluarga adalah tempat dimana nilai-nilai islam dan ajaran agama diajarkan untuk pertama kali dan dalam keluarga juga, orangtua serta anak-anaknya akan menjaga satu sama lain dari perbuatan maksiat dan saling mengingatkan. Seperti yang disebutkan dalam QS. At Tahrim ayat 6 bahwa seorang muslim harus menjaga dirinya dan keluarganya dari perbuatan dosa dan siksa api neraka. “Hai orang-orang beriman ! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari (kemungkinan siksaan) api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah para malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”( QS. Al Tahrim : 6).
  4. Membiasakan Dengan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat
    Kondisi pandemi virus corona saat ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Di mana dituntut dalam perilaku hidup selalau bersih dan sehat. Setiap saat dianjurkan untuk cuci tangan denan menggunakan sabun atau sejenisnya, memilih makanan dengan gizi seimbang, mendorong kita untuk selalu menjaga kesehatan dengan berolahraga secara rutin agar tetap bugar juga menjaga imunitas.
    Peran Ayah dan Bunda sebagai orangtua yang paling utama adalah mempraktekkan ajaran agama dan menumbuhkan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari melaui pengajaran langsung, keteladanan, dan pembiasaan : ajarkan, contohkan dan biasakan (ACD). Dari sinilah akan melahirkan keluarga-keluarga yang hebat era Covid 19, semoga.(**)

Comment