by

Pengacara Minta Tuhumury Divonis Ringan

Ambon, BKA- Terdakwa George Tuhumury(42), yang terlibat perkara dugaan penyelundupan batu cinabar dalam botol air mineral dan jirigen di Dermaga Pelabuhan Yos Sudarso, Kecamatan Sirimau Kota Ambon, agar vonis ringan majelis hakim.

Sebab, tuntutan yang disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Ambon, Lilia Helut dinilai terlalu berat.

Hal tersebut diungkapkan penasehat hukum terdakwa, Peny Tupan dalam sidang yang berlangsung secara online di pengadilan Negeri Ambon, dengan agenda pledoi dari penasehat hukum terdakwa,pada Senin (27/4).

Menurut Tupan, klienya itu sudah berlaku sopan dipersidangan, sudah mengakui perbuatannya, sehingga majelis hakim yang mulia diminta agar meringankan hukuman terdakwa dari jeratan hukum yang disampaikan JPU.

“Prinsipnya kita minta keringananan hukuman, lantas klien saya sudah mengakui semua perbuatannya,” jelas Tupan.

Sebelumnya diberitakan, JPU Kejari Ambon mengancam terdakwa untuk dipenjara selama tiga tahun dalam persidangan Senin kemarin.
Selain tuntutan tiga tahun penjara, terdakwa juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp. 50 juta subsider 6 bulan penjara.

Didalam amar tuntutan JPU, terdakwa dinyatakan bersalah melanggar pasal 161 UU nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara. “Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa George Tuhumury (42) berupa pidana penjara tiga tahun dan dipotong masa tahanan yang telah dijalani dengan perintah agar terdakwa tetap ditahan,” ucap JPU Kejari Ambon Lilia Helut saat membacakan tuntutan dipersidangan.

Sidang tuntutan itu dipimpin Ketua Majelis Ahmad Hikayat, didampingi Jenny Tulak dan Felix Wiusan selaku hakim anggota. Jaksa Penuntut Umum dalam kasus itu adalah Lilia Heluth. Sedangkan terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Penny Tupan.

Pada sidang yang dilakukan secara online melalui sarana video conference dengan menggunakan aplikasi zoom itu, Majelis Hakim bersidang di Ruang Sidang Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Ambon. Penuntut Umum bersidang di Aula Kantor Kejaksaan Negeri Ambon. Sedangkan terdakwa didampingi kuasa hukumnya Penny Tupan bersidang di Rutan Kelas II A Ambon.

Kasus ini bermula pada Sabtu 21 September pukul 08.00 di Dermaga Pelabuhan Yos Sudarso Ambon Kecamatan Sirimau Kota Ambon tepatnya di tangga naik padal Kapal Pelni KM Ngapulu telah melakukan usaha penambangan tanpa disertai dengan Izin Usaha Pertambangan (IUP), Izin Pertambangan Rakyat (IPR), atau Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

Awalnya sekitar pukul 07.00 wit saksi Abdul Kadir Kiat bersama saksi Rudolf Saiya, Usman Sarif, dan Rinto Mulud, yang merupakan anggota Polri sementara melakukan pengamanan pada saat kapal Pelni KM Ngapulu berlabuh di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon sambil mengawasi para penumpang yang naik ke kapal Pelni KM Ngapulu.

Pada saat penumpang berjalan naik ke kapal seperti biasanya saksi Abdul Kadir Kiat (selaku Wakapolsek) melakukan pengawasan terhadap para anggota yang sementara melakukan pemeriksaan terhadap barang penumpang. Pada saat bersamaan Abdul Kadir Kiat melihat terdakwa yang berjalan dari arah ruang tunggu dan menuju ke tangga kapal sambil mengangkut satu buah tas ransel warna hitam yang diletakkan di punggungnya. Namun tas tersebut terlihat berat saat dibawa oleh terdakwa sehingga timbul kecurigaan saksi Abduk Kadir terhadap tas yang dibawa oleh terdakwa.

Ketika terdakwa berjalan mendekat ke arah saksi Abdul Kadir, lalu saksi mencoba menghentikan langkah terdakwa dengan mengatakan “coba kasi turun tas yang Bapak bawa untuk kita lakukan pemeriksaan dulu”. Namun terdakwa yang mendengar perkataan saksi Abdul Kadir Kiat tersebut lalu berjalan dengan cepat untuk menghindar sambil mengatakan,”ini pakaian, ini pakaian”.

Saksi Abdul Kadir melihat gelagat terdakwa berjalan menghindar dan tidak mau melakukan pemeriksaan sehingga saksi Abdul Kadir lalu menyuruh salah satu anggota polisi yang berjaga di depan tangga, Rudolf Saiya, untuk menghentikan terdakwa yang sementara mengangkut tas ransel warna hitam. Namun saat Rudolf hendak menghentikan langkah terdakwa tetapi terdakwa kembali berdalih “ini pakaian, ini pakaian” dan terus berlalu menaiki tangga kapal.

Sehingga saksi Rudolf menyuruh saksi Rinto Mulud yang berjalan di bagian tangga lalu menghentikan jalan terdakwa kemudian Rinto menyuruh terdakwa menurunkan tas ransel yang dibawanya. Setelah terdakwa membuka isi tas tersebut ternyata ditemukan barang tambang berupa pasir yang disimpan dalam empat botol air mineral ukur 1,5 liter dan 1 jerigen ukur 5 liter. Namun terdakwa berdalih tidak mengetahui isi tas tersebut dan hanya dititipkan oleh Bapak Etus untuk membawanya ke atas kapal tanpa terdakwa cek terlebih dahulu isi bawaan tersebut dan terdakwa dijanjikan akan diberikan uang rokok.

Dari hasil penggerebekan, ditemukan barang bukti yang berisikan serbuk pasir dan batu tersebut tersusun unsur loham merkuri seberat 1035,3 g.
(SAD)

Comment