by

Penganiaya Medis Diancam 2 Bulan Penjara

Ambon, BKA- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Heru Hamdani menuntut tiga terdakwa penganiayaan perawat yang tangani pasein Covid-19, dengan penjara selama dua bulan kurungan, pada persidangan di Pengadilan Negeri Ambon, Rabu (16/9). Diantaranya Muh Sahal Keiya, Sitti Nur Keiya, dan Ida Laila Keiya.

Sidang tuntutan itu dipimpin Ketua Majelis Hakim Lucky Rombot Kalalo didampingi Christina Tetelepta dan Hamzah Kailul selaku hakim anggota. Sedangkan terdakwa didampingi penasehat hukumnya Syukur Kaliky.

Dalam amar tuntutan, JPU menyebut, menjatuhkan hukuman kepada terdakwa, dua bulan penjara di potong masa tahanan. Kakak-beradik itu, dituntut bersalah melakukan penganiayaan kepada perawat yang menangani pasien Covid-19.

JPU mengatakan, para terdakwa melanggar pasal 170 ayat 1. JPU dalam pertimbangan meringankan, perawat atau korban telah memaafkan perbuatan ketiga terdakwa. Sedangkan yang memberatkan, perbuatan para terdakwa menghambat anjuran pemerintah dalam memberantas wabah Covid-19.

Sebelumnya, JPU dalam dakwaan menyebutkan, para terdakwa melakukan kekerasan terhadap petugas medis bernama Jomima Orno. Peristiwa itu terjadi pada 26 Juni 2020 sekitar pukul 08.00 WIT, di RS­UD dr. Haulussy. Atau tepatnya di depan kamar mayat Covid 19 jalan Dr. Kayadoe Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon.

Kejadian tersebut, berawal ketika pasien positif Covid-19 bernama Hasan Keiya dinyatakan meninggal pada pukul 08.00 WIT. Saat itu, Jomima bersama Meid sebagai petugas medis yang bertugas membawa jenazah ke kamar jenazah khusus pasien covid.

Ke­tika di depan kamar jenazah, Meid masuk melalui pintu belakang untuk membuka pintu kamar jenazah. Sementara Jomima menunggu di depan kamar jenazah.

Selanjutnya, para tersangka menghampiri Jomima. Tanpa bicara, terdakwa langsung membuka selimut yang menutupi jenazan lantas mencium jenazah.

Kemudian terdakwa langsung melayangkan pukulan dengan menggunakan kepalan tangan kanan kearah pipi kiri Jomima. Namun, Jomima tidak dapat memastikan pemukulan tersebut dengan menggunakan kepalan tangan kanan atau kiri.

Setelah itu, terdakwa I memegang kedua lengan Jomima dari arah belakang untuk memberikan kesempatan kepada terdakwa lainnya untuk lebih leluasa melakukan pemukulan.
Jomima sempat mencoba untuk meloloskan diri namun pukulan secara bertubi-tubi mengenai punggung belakangnya.

Dalam dakwaan itu, jaksa juga menyebut, Jomima juga mendapat satu kali tendangan yang membuatnya hampir terjatuh. Untungnya, dia berhasil bersandar pada tembok.
Jaksa sebutkan, kejadian itu dibuktikan dalam hasil visum et repertum Nomor : 353/10/RSUD/2020 tanggal 26 Juni 2020 yang ditandatangani Dr. CW Sialana, Sp.FMKes.
Setelah mendengarkan tuntutan JPU, hakim menunda sidang hingga pekan depan untuk agenda pledoi/pembelaan dari kuasa hukum terdakwa. (SAD)

Comment