by

Polisi Kesulitan Sita Aset Tata Ibrahim

Ambon, BKA- Berkas Tata Ibrahim tersangka kasus pembobolan uang BNI Cabang Ambon sampai kini belum dilengkapi penyidik Dit Reskrimsus Polda Maluku, akibat merebaknya Covid-19 di Maluku dan Indonesia pada umumnya.

Direktur Reserse dan Kriminal Khusus Polda Maluku, Kombes Pol. Eko Santoso, kepada BeritaKota Ambon, mengungkapkan, petunjuk JPU terhadap berkas tersangka Tata Ibrahim hingga kini belum juga dilengkapi penyidik Ditreskrimsus Polda Malulu, sebab virus Corona.

“Supaya diketahui, petunjuk JPU itu suruh kita sita aset Tata Ibrahim, sedangkan kondisi saat ini corona. Kita mau jalan bagaimana? Makanya hingga kini, kita masih menunggu sampai kondisi benar-benar aman, baru agenda dijalankan,” jelas Santoso, di ruang Kerjanya, Rabu (29/4).

Orang nomor satu di markas Polisi Mangga Dua, Kecamatan Nusaniwe itu melanjutkan, aset-aset yang dimiliki Tata Ibrahim dari perbuatan korupsi itu, yakni, mobil, rumah, lahan, semuanya itu berada di Ujung Pandang, Provinsi Sulawesi Selatan.

“Jadi karena aset tersangka ada di luar daerah, makanya kita sedang menunggu sampai kondisi membaik, baru kita agendakan lagi kesana, guna sita aset,” tandas Santoso.

Sebelumnya diberitakan koran ini, berkas perkara Tata Ibrahim tersangka kasus pembobolan uang BNI Cabang Ambon dikembalikan dari JPU Kejati Maluku ke penyidik Ditreskrimsus Polda Maluku, karena dinilai belum lengkap oleh JPU.

Hanya saja, dari petunjuk JPU tersebut, Kasi Penkum Kejati Maluku, Samy Sapulette, tidak mau menjelaskan secara detail.

Dia hanya menyampaikan, kalau berkas kasus tersangka Tata Ibrahim dikembali ke penyidik karena harus dilengkapi sesuai dengan petunjuk yang ada. “Penuntut umum sudah kirim P-18, yaitu, surat pemberitahuan bahwa berkas perkara belum lengkap. Kemudian akan disusul dengan P-19 atau petunjuk untuk melengkapi berkas perkara tersebut,” ungkap Sapulette kepada Berita Kota Ambon, Selasa (10/3).

Dalam kasus pembobolan uang BNI Ambon senilai Rp 58,9 miliar itu, Farrahdhiba Yusuf (FY) yang merupakan mantan Wakil Pimpinan BNI Cabang Ambon sebagai tersangka utama. Serta menyeret sejumlah tersangka lain, termasuk Tata Ibrahim selaku divisi Humas BNI Kantor Wilayah Makassar.

Sementara itu, Hamdani Laturua selaku kuasa hukum Tata Ibrahim, Selasa (28/4), menegaskan, Penyidik Ditreskrimsus Polda Maluku dinilai kurang jeli karena menetapkan Tata Ibrahim sebagai tersangka baru dalam kasus pembobolan dana BNI Cabang Ambon, karena diduga turut membantu FY.

Laturua mengungkapkan, antara Tata Ibrahim dengan FY, tidak ada hubungan dengan pembobal dana BNI. Hubungan mereka hanya sebatas rekan bisnis dalam jual belih hasil bumi, berupa cengkih. Sehingga keliru kalau penyidik langsung menetapkan Tata Ibrahim sebagai tersangka yang turut terlibat bersama dengan FY.

Dia menjelaskan, awal perkenalan Tata Ibrahim dengan FY berlangsung pada bulan Febuari tahun 2018, saat keduanya sama-sama terlibat dalan kegiatan pelatihan Brevet-Kredit di BNI Makasar di Hotel Kolonial.

Pelatihan itu memang diikuti para pimpinan BNI wilayah Timur Indonesia. Khusus Provinsi Maluku, diwakili FY sebagai Pimpinan Kantor Cabang Pembantu (KCP) BNI Waihaong Ambon, termasuk, Teki, dari KCP BNI Saumlaki dan Ischak, KCP BNI Seram Bagian Barat (SBB).

“Jadi dalam kegiatan pelatihan, klien saya dan FY berada dalam satu kelas yang tempat duduknya hanya bersebelahan. Tentunya, sesama rekan BNI dan teman pelatihan, pasti saling berkomunikasi, baik itu berkaitan dengan materi pelatihan maupun hal-hal yang berkaitan dengan bisnis pribadi masing-masing,” ujarnya.

Selaku tuan rumah BNI Makassar, Tata Ibrahim selalu melayani peserta dengan baik. FY pun akhirnya memperkenalkan dirinya sebagai pegawai BNI yang memiliki usaha cukup banyak dan sukses, antara lain, usaha jual-beli hasil bumi cengkeh, usaha tenda, rumah makan dan salon.

Bahkan kata Laturua, sempat kliennya ditawarkan FY berbisnis jual beli cengkeh dengan berinvestasi modal, agar dapat merasakan hasil bisnisnya. Karena, kata FY, bisnis cengkeh prosesnya cepat dan untungnya lumayan.

Namun saat itu hanya baru sebatas tukar–menukar informasi. Sebab saat itu kliennya belum menyatakan ketertarikan untuk berbisnis dengan FY.

Selanjutnya, setelah kegiatan selesai dan masing-masing kembali ke daerahnya masing-masing, jelang beberapa waktu kemudian, beberapa kali FY menghubungi Tata Ibrahim lewat ponselnya, untuk meminta bisa bergabung dalam bisnis jual-beli cengkeh.

Lantaran sering dihubungi, kata Laturua, tepat dibulan Oktober 2018, Tata Ibrahim akhirnya menerima ajakan FY seraya berkata, hanya coba-coba dulu, siapa tau cocok nanti.

“Awalnya sebelum menerima tawaran FY, klien saya, terlebih dulu mencari informasi bisnis FY lewat Ibu Irma Aziz yang juga salah satu pimpinan KCP BNI di Makasar, sebab yang bersangkutan lebih dulu kerja sama dengan FY berinvestasi modal sebesar kurang lebih Rp 1 miliar. Tepat tanggal 16 Oktober 2018, investasi awal kliennya sebesar Rp 1 miliar yang ditransfer lewat rekening CF Farel milik FY dengan nomor rekening 614028xxx,” bebernya.

Modal tersebut, kata Laturuan, untuk membeli 10 ton cengkeh dengan harga sebesar Rp 100 ribu per Kg dan akan dijual dengan harga Rp 110 ribu per Kg. Satu tahun kemudian, tepatnya 27 September 2019, bisnis keduanya lancar, sehingga modal beserta keuntungan sebesar Rp 100 juta lebih dikembalikan FY.

Kepercayaan Tata Ibrahim pun akhirnya kembali mempercayakan FY, dengan memberikan investasi modal yang cukup besar, kendati masih sekitar 100 ton atau sekitar Rp 9,3 miliar modal yang belum dikembalikan. Tapi FY kembali mengajukan penambahan modal 500 ton dengan jumlah sebesar Rp 46 miliar dan keduanya sebesar Rp 7.440 miliar, lewat rekening BCA atas nama Soraya Pelu sebesar Rp 4,650 miliar lebih dan Rp 7,790 miliar lewat rekening BNI atas nama FY.

“Namun karena waktu itu dana Tata Ibrahim terbatas, sehingga Tata Ibrahim hanya mengirim uang atau modal untuk harga 80 Ton saja, uang sebesar Rp 7.440.000.000 yang ditransfer sebanyak 2 (dua) kali ke rekening,” ujarnya.

Anehnya, saat jatuh tempo pembayaran FY sudah susah dihubungi, baik lewat selulernya maupun WhatsApp, tiba informasi kalau FY sudah ditangkap karena melakukan kejahatan.

“Saat mendengar FY ditangkap, klien saya sangat stress dan panik. Karena modal yang diberikan sebesar Rp 13.440.000.000 belum dikembalikan oleh FY,” katanya.

Karena FY ketahuan melakukan kejahatan dan selalu transaksi dengan Tata Ibrahim, maka yang bersangkutan pun turut diperiksa, meskipun hanya menempatkan modalnya kepada FY dalam hal berbisnis jual-beli cengkih.

“Selama ini klien saya tidak pernah menaruh curiga dengan FY bisa melakukan kejahatan, sebab selama ini klien saya tidak pernah secara langsung datang untuk memeriksa bisnis yang bersangkutan di Ambon, bahkan dirinya juga akan mengsomasi FY karena masih tersisa modal sebesar Rp 18.271.000.000 yang belum dikembalikan,” cetusnya.

Terhadap kasus tersebut, lanjut Laturua, secara internal BNI Makassar, kliennya sudah diperiksa satuan internal audit di BNI Wilayah Makassar dan tidak ada kejanggalan kas kantor BNI, apalagi selisih uang kantor BNI. Karena modal bisnis beliau adalah modal pribadi dan patungan dengan teman bisnis.

“Bahkan sudah kurang lebih 10 kali diperiksa selaku saksi di Krimsus polda Maluku dan kemudian ditetapkan sebagai tersangka, setelah dilakukan pemeriksaan yang ke-11. Sehingga hal ini sangat disayangkan, karena justru beliau juga merupakan korban dari FY atas modal usaha dan sama sekali tidak melakukan kejahatan bersama,” pungkas Laturua. (RHM)

Comment