by

Polresta Jerat Tersangka Penganiaya Medis

Ambon, BKA- Penyidik Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, menetapkan tiga tersangka dalam insiden penganiayaan Jomima Orno, yang merupakan perawat RSUD Haulussy, Kota Ambon.

Penganiayaan itu diduga dilakoni tiga tersangka yang mengaku sebagai keluarga Almarhum HK, yang dinyatakan positif Covid-19 dan meninggal dunia di RSUD Haulusy, Jumat (26/6) lalu.

Tiga tersangka yang dijerat, yakni, NK, SK, dan NH. Mereka disangkakan melanggar pasal 170 KUHPidana, dengan ancaman hukuman 12 Tahun penjara.

“Berdasarkan pemeriksaan saksi korban, terduga pelaku dan saksi-saksi lain, kita temukan bukti kuat. Sehingga penyidik langsung menjadikan tiga orang itu sebagai tersangka dalam kasus ini,” jelas Kasubbag Humas Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, Ipda Titan Firmansyah, ketika dikonfirmasi terkait penetapan tersangka kasus itu, Senin (29/6).

Dari penetapan tersangka yang digelar penyidik, satu tersangka inisial NH belum diperiksa. Sedangkan dua tersangka lainnya sudah diperiksa pada Senin (29/6) kemarin, sejak pukul 10.00 WIT.

“Tadi itu tersangka NK dan SK saja yang memenuhi panggilan. Sedangkan tersangka NH belum diperiksa. Kedua tersangka kini tidak ditahan, tapi dikenakan wajid lapor,” jelas Titan.

Kasus ini tersadi saat korban Jomima Orno alias Mimi ditugaskan untuk mengurus jenazah HK sesuai protokoler Covid-19.

Pasien HK meninggal pukul 08.00 WIT di lantai 1 ruang isolasi Covid-19. Mimi yang awalnya berada di lantai 2 ruang isolasi, turun ke lantai 1 untuk mengurus jenazah HK.

“Saya turun, kondisi pasien sudah meninggal. Saya diminta bantu oleh teman saya, Meidy dan Sela, untuk membersihkan dan mengantar jenazah ke kamar mayat isolasi Covid,” kata Mimi.

Dia bersama petugas medis lainnya, melakukan penyemprotan kepada pengantar pasien.

Saat mereka tiba di depan pintu kamar jenazah, pintunya dalam keadaan terkunci. “Meidy dan petugas semprot jalan balik untuk membuka pintu kamar jenazah,” tutur Mimi.

Mimi sendiri di depan pintu. Hanya selang beberapa detik, tiba-tiba beberapa keluarga almarhum datang dari arah kanan. Mereka dari ruang HD dan lorong laboratorium. Jumlahnya sekitar 15 orang. Tanpa ada bicara, dia langsung dipukul oleh istri almarhum.

Pukulan itu mengenai bagian kiri wajah mimi. Saat merasa kesakitan, anak perempuan almarhum kembali memukulnya secara membabi buta. Saat berusaha melarihkan diri, tangan Mimi justru ditahan anak laki-laki almarhum.

“Saya lari, lalu dipegang oleh anak laki lakinya dari belakang. Saya berusaha melepaskan diri sampai baju saya robek. Dengan susah payah saya melepaskan diri,” tutur Mimi.

“Saya dipukul dari belakang kepala secara berulang kali. Selain itu, saya ditendang pada bagian belakang tubuh,” tambah Mimi lagi.

Dianiaya berulang-ulang, Mimi berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dan melarikan diri. “Saya dipukul babak belur sampai tak ingat berapa kali pukulan. Akhirnya saya bisa melepaskan diri. Itu pun hampir jatuh di dalam selokan samping ruangan isolasi. Untungnya ada tembok untuk bersandar,” imbuhnya.
Mimi mengaku lemas, syok, dan kesakitan. Ia tak menyangka bakal dianiaya keluarga pasien. “Saya teriak minta tolong ke teman-teman di depan ruangan isolasi, dan memberitahu saya telah dipukul dan dikeroyok. Saya mengenal persis pelaku tiga orang itu. Karena setiap harinya mereka datang menjenguk pasien,” tandas Mimi. (SAD)

Comment