by

PSBB Diterapkan 22 Juni

Demo Pedagang Berakhir Manis
Ambon, BKA- Penerapan Pembatasa Sosial Berskala Besar (PSBB) direncanakan pada 22 Juni mendatang, pasca berakhirnya penerapan Peraturan Walikota no 16 tahun 2020 tentang Pembatas Kegiatan Masyarakat (PKM).

Sekretaris Kota (Sekkot) Ambon, A. G. Lauheru, mengatakan, sosialisasi PSBB akan segera dilakukan dalam waktu dekat, agar tidak ada lagi kesalahpahaman antara pemerintah dengan masyarakat saat penerapannya nanti.

Demo yang digelar mahasiswa IAIN bersama pedagang di Balai Kota Ambon, Selasa (16/6).

“Iyah 22 Juni PSBB diterapkan,” ungkap Latuheru, kepada sejumlah awak media di Balai Kota Ambon, Selasa (16/6).

Penerapa PSBB tersebut akan berlangsung selama 14 hari. Jika dalam kurung waktu itu, jumlah pasien Covid-19 masih terus bertambah, maka masa PSBB bisa saja diperpanjang hingga 14 hari lagi.

Sedangkan terkait beberapa tuntutan masyarakat, dalam hal ini pedagang Pasar Mardika bersama mahasiswa yang berdemo di Balai Kota Ambon, sejak beberapa hari terakhirr, katanya, akan diakomodir pada pelaksanaan PSBB nanti.

Latuheru menjelaskan, Perwali terkait PSBB telah direvisi. “Jadi pasar rakyat bukan tutup jam empat sore (16.00 WIT), tapi jam enam sore (18.00 WIT). Bukanya sama dari pagi. Termasuk juga gerai modern seperti Alfamidi dan lain-lain, itu waktu oprasionalnya juga sama dengan yang lain,” tandasnya.

Sebelumnya, puluhan mahasiswa IAIN Ambon bersama pedagang Pasar Mardika kembali menggelar demo di Balai Kota Ambon, sekitar pukul 11.17 WIT dan berakhir sekitar pukul 17.19 WIT.

Sama dengan demo sebelumnya, yakni, menuntut agar sejumlah pasal pada Perwali No 16 tahun 2020 dicabut, diantaranya, terkait waktu operasional pasar yang dinilai cukup singkat, karena dimulai pukul 5.30 WIT hingga jam 16.00 WIT.

Demo yang didomonasi ibu-ibu pedagang itu sempat berjalan “panas”, karena keinginan mereka untuk bertemu Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, kembali mendapat hadangan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Namun masa pendemo akhir dapat ditenangkan oleh Sekkot Ambon, A.G. Latuheru, yang keluar menemui mereka. Bahkan setelah mendengar penjelasan Sekkot mengenai tuntutan mereka telah diakomodir oleh Pemkot Ambon pada penerapan PSBB nanti, membuat masa menjadi tenang.

“Seluruh masukan ade-ade, pertama, tidak ada diskriminasi terhadap pemberlakuan jam buka toko modern itu, PSBB dirubah. Terus pasar rakyat, yakni, Mardika, Batumera, Passo Gudang Arang, dan Rumah tiga. Jadi pikiran-pikiran itu kami telah mengakomodirnnya, untuk masuk dalam Perwali tentang pelaksanaan PSBB di Ambon,” tutur Latuheru.

Shingga demo yang sempat “panas”, berubah menjadi sebuah dukungan moral bagi Pemkot Ambon untuk menerapkan PSBB pada 22 Juni nanti.

“Hidup Sekkot, hidup Sekkot. Pak Sekot makasih sudah menemui kami dan akan menindaklanjuti tuntutan ini masuk dalam PSBB Kota Ambon,” ungkap Koordinator Lapangan 2, Abd. J. Usman Toisutta, yang diikuti oleh masa pendemo lainnya.

Bahkan Kantor Balai Kota yang sempat kotor oleh sampah, kembali dibersihkan oleh masa pendemo sebelum membubarkan diri. (BKA-1)

Comment