by

PT. PANBERS JAYA Bangun Kebun Karet Masyarakat

Melalui program creating shared Value

Ambon, BKA- Melalui program creating shared Value (CSV), PANBERS JAYA melakukan penanaman perdana pembangunan kebun karet milik pribadi masyarakat di Desa Waetina, Kecamatan waelata, Kabupaten Buru.

Tanaman karet (Hevea brasilliensis) merupakan tanaman tahunan yang dapat hidup hingga sekitar 30 tahun. Tanaman ini memang bukan tanaman asli di Indonesia. Namun, perkembangannya sangat pesat.

(Penyerahan bibit karet oleh direktur PT. Panbers Jaya kepada petani)

Berdasarkan data Kementerian Pertanian tahun 2019, luas lahan perkebunan karet nasional mencapai 3,67 juta Ha dengan tingkat produksi sebanyak 3.630.268 ton, atau tingkat produktivitasnya sebanyak 1.161kg/Ha.

Hal itu membuktikan kalau luasan maupun produksi perkebunan karet nasional sangat potensial. Apalagi dari luasan lahan dan produksi itu dikuasai oleh perkebunan rakyat sebesar 85 persen.

Dari data luasan perkebunan karet secara nasional tersebut telah mampu menciptakan lapangan kerja bagi 2,5 juta KK, dengan rata-rata luas kepemilikan lahan 1,25 ha, serta mampu menghasilkan volume ekspor sebesar 2,99 juta ton dengan nilai US$ 5,10 miliar.

Jika dilihat secara keseluruhan, dari 3 juta ton produksi karet nasional, 80 persennya dihasilkan dari perkebunan rakyat. Sebanyak 247 ribu ton karet nasional dihasilkan dari perkebunan besar negara, serta 378 ribu ton dari perkebunan swasta.

Namun sesungguhnya, peluang perkebunan karet sangat menjanjikan, karena bahan baku karet sintetis semakin terbatas, sedangkan kebutuhan karet alam terus mengalami peningkatan sebesar 2,5 persen per tahun.

Yang paling menguntungkan, karet alam Indonesia memiliki spesifikasi teknis yang dibutuhkan oleh industri ban dan berbagai jenis industri yang menggunakan bahan baku karet lainnya.

Untuk itu, dalam rangka meningkatkan penyerapan karet rakyat di dalam negeri, maka pada 13 Juli 2020 lalu, dilaksanakan penanaman perdana pembangunan kebun karet milik pribadi masyarakat melalui program creating Shared Value (CSV) PT. PANBERS JAYA, di Desa Waetina, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru.

Program CSV merupakan sebuah konsep dimana perusahaan (PT. PANBERS JAYA) memainkan perannya secara aktif dalam menciptakan nilai ekonomi dan nilai sosial secara bersamaan bagi masyarakat sekitar, sebagai bagian dari misi dan eksistensi perusahaan itu sendiri. Sehingga program CSV tersebut merupakan suatu bentuk kerjasama yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Dengan pelaksanaan CSV itu, PT. PANBERS JAYA berharap, kedepannya dapat terealisasi dengan baik adanya perkebunan karet milik pribadi masyarakat, dengan memanfaatkan lahan tidur maupun lahan pertanian non-produksi milik pribadi, khususnya bagi yang berminat untuk melakukan penanaman karet, memiliki modal pribadi, serta mampu melakukan pengelolaan dan perawatan kebun karet tersebut.

Kebun karet milik pribadi merupakan suatu bentuk investasi yang baik bagi masyarakat, khususnya dalam upaya meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan. Karena dengan memiliki kebun karet milik pribadi, masyarakat tidak akan memaksakan kekuatan fisik dalam merawat tanaman seperti petani/pekebun tanaman jenis lain, sebab perawatannya lebih mudah. Dan dalam jangka waktu 4 tahun sampai 5 tahun, getahnya sudah dapat dipanen. Bahkan panen dapat dilakukan antara 25 tahun sampai 30 tahun kedepannya.

Direktur PT.PANBERS JAYA, Lee Hyun Shin, mengatakan, kegiatan penanaman perdana pembangunan kebun karet milik pribadi masyarakat melalui program creating Shared Value (CSV) PT. PANBERS JAYA harus dapat dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan kedepan.

“ini kesempatan buat masyarakat untuk dapat lebih sejahtera,” ujar Lee Hyun Shin, yang turut menghadiri kegiatan tersebut.

Hal senada disampaikan pula oleh Camat Waelata yang diwakili oleh Kasie Umum Kecamatan Waelata, Hariyanto. Dia mengatakan, menanam pohon karet ibarat menanam pohon uang. “Jadi masyarakat pasti sejahtera, jika memiliki kebun karet sendiri ini. Saya sendiri memiliki minat yang besar untuk membangun kebun karet milik pribadi suatu waktu kelak,” katanya.

Pengadaan bibit tanaman karet dapat dilakukan dengan sistem kredit, dimana dengan menyetor DP atau uang muka sebesar Rp 3.500.000 (tiga juta lima ratus ribu rupiah), masyarakat sudah dapat memperoleh bibit sejumlah 555 (lima ratus lima puluh lima) pohon tersebut. Sedangkan sisa biaya pengadaan bibit akan diangsur, jika dikemudian hari kebun karet milik masyarakat tersebut telah panen.

Kebutuhan bibit tanaman karet untuk lahan seluas 1 Ha adalah sebanyak 555 (lima ratus lima puluh lima) pohon, dengan jarak tanam 6 x 3 m. Sedangkan harga bibit tanaman karet tersebut Rp 15.000 (lima belas ribu rupiah) per pohon. Sehingga pengadaan bibit tanaman karet untuk lahan seluas 1 Ha (satu hektar area) yakni Rp 15.000 x 555=Rp.8.325.000 (delapan juta tiga ratus dua puluh lima ribu rupiah).

Kerjasama pembangunan karet milik pribadi masyarakat pada dasarnya merupakan kontribusi perusahaan dalam memberikan solusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar, yang secara tertulis dilaksanakan dengan suatu kesepakatan pembangunan kebun karet milik pribadi masyarakat.

Kesepakatan tersebut berisi tentang sistem kerjasama, dimana perusahaan menfasilitasi pengadaan bibit tanaman karet dan menjamin bahwa jika kelak perkebunan karet masyarakat tersebut telah dapat dipanen getahnya, maka PT. PANBERS JAYA berkewajiban untuk membeli getah karet (latex) tersebut yang disesuaikan dengan harga latex di pasar nasional.

Selain untuk memanfaatkan lahan tidur maupun lahan non produktif milik pribadi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani, pembangunan kebun karet milik pribadi melalui program CSV ini juga merupakan sebuah peluang usaha baru yang dapat menyerap tenaga kerja, sehingga tingkat pengangguran dapat dikurangi, serta sebagai bentuk rehabilitasi lahan karena pada dasarnya tanaman karet tidak memerlukan tanah dengan tingkat kesuburan yang tinggi untuk dapat tumbuh.(**)

Comment