by

Raih Keutamaan Ramadhan 1441 H Dengan Sabar dan Syukur

oleh: Ustadz Fathurrahman
(Dai Ikadi/Pengajar di Ma’had Arrahmah Ambon)

“Sungguh ajaib keadaan seorang mukmin. Segala urusannya selalu baik. Dan itu tidak terjadi kecuali pada seorang mukmin. (Hal itu adalah); Jika mendapatkan nikmat maka ia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999).

Tidak ada keadaan yang teramat buruk bagi seorang yang beriman. Beriman dengan benar dan disertai ilmu dan amal. Beriman dimaksud setidaknya harus memiliki tiga unsur; meyakini dalam hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan keyakinan itu dengan perbuatan. Satu saja di antara tiga unsur tadi terlepas, maka keimanan sesorang dianggap cacat bahkan hilang keimanan itu.

Pada hadits di atas disampaikan bahwa semua yang terjadi pada orang yang beriman akan menjadi bagian terbaik dalam kehidupannya. Pertama keadaan kondusif, aman dan tentram akan menjadikan ia bersyukur, yaitu dengan memberdayakan dan memanfaatkan keadaan aman dan tentram itu kepada hal yang diridhoi Allah SWT. Diberi fasilitas dua pasang mata yang sehat, maka digunakanlah mata itu untuk melihat hal yang baik dan bermanfaat, telinga dimanfaatkan untuk mendengar suara-suara yang baik dan bermakna, dan lain sebagainya. Itulah kira-kira dasar daripada bersyukur.

Kedua, jika seorang mukmin itu ditimpa keadaan dan situasi rumit maka ia bersabar. Ar-Raghib Al-Asfihani berpandangan bahwa sabar adalah kuat atau tahan ketika berada dalam keadaan sempit maupun sulit. Menurutnya, sabar juga berarti menahan hawa nafsu dari sesuatu yang dapat merusak akal dan syari’at. Sabar dalam pandangan Quraish Shihab adalah menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginan demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik. Adapun dalam pandangan Ibnu Qayyim al-Jauzi sabar adalah menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan amarah; menahan lidah dari keluh kesah, menahan tubuh dari kekacauan. Pandangan para ulama itu tidak terlepas dari varian makna sabar yang disebutkan 70 kali di dalam Al-Qur’an.

Selain makna di atas, sebagaimana yang disampaikan para ulama salah satunya Muhammad Shiddiqi bahwa sabar adalah “Menahan diri untuk tetap konsisten dengan segala yang diajarkan syariat dan dipandang akal sehat”.

Rumus sabar terdapat pada Surat An-Nahl ayat 127 yang artinya, “Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.”

Dari arti tersebut dapat disimpulkan, rumus kesabaran adalah Berbuat atau berfikir + aturan syariat + akal sehat = sabar. Dan ini menurut kami yang paling baik untuk konteks universal dan menyeluruh.

Lebih utama mana antara sabar dan syukur? Para ulama memiliki pandangan yang baik terhadap pertanyaan ini. Imam Ahmad rahimahullah memiliki dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama: orang kaya yang pandai bersyukur lebih utama. Pendapat kedua: orang miskin yang selalu bersabar lebih utama. Pendapat itu juga diikuti oleh Imam Al-Ghazali dalam “Ihya ‘Ulumiddin”, tidak memutlakkan salah satunya. Beliau menyatakan, syukur lebih utama dari salah satu sisi, dan di sisi lain, sabar lebih utama. Hal ini sebagaimana air lebih utama, bagi orang yang sedang kehausan. Dan roti lebih utama, bagi orang yang kelaparan. Penjelasan imam Al-Ghazali ini sangat baik dan mudah diterima.

Bagaimana aplikasinya dengan konteks keadaan saat ini? Musibah wabah yang kita belum tahu kira-kira kapan segera berakhir. Semoga saja dalam bulan Ramadhan ini segera terusir dan tidak akan kembali lagi selamanya.

Menghadapai situasi sulit saat ini, Pemerintah bersama elemen umat Islam dan Ulama menganjurkan agar saat ini memaksimalkan ibadah di rumah masing-masing sebagaimana juga berlaku untuk umat beragama yang lain. Di sinilah makna kesabaran di atas bisa kembali dipetik. Kesabaran yang memungkinkan kita mendapatkan pahala dan kemuliaan yang tidak kalah dengan ramadhan sebelumnya. Kita sabar menahan diri untuk sementara memaksimalkan ibadah di rumah, tidak tarawih di mesjid, itu adalah bagian dari kesabaran besar dengan keutamaan yang bertingkat. Kesabaran dalam kondisi seperti itu insya Allah dijamin tidak akan mengurangi nilai keutamaan ramadhan kita tahun 1441H ini. Kaidahnya, bahwa udzur syar’iy menyebabkan terpenuhinya kebaikan dan pahala suatu amalan kendati secara rukun tidak dilaksanakan.

Orang yang di tahun-tahun sebelumnya sudah terbiasa dengan tarawih berjamaah di mesjid, maka tarawih sendiri pun akan mendapatkan secara penuh kebaikan tarawih pada umumnya dalam situasi udzur karena wabah dan atau lainnya. Orang yang memang sudah melazimkan diri dengan sholat jumat, ia tetap mendapatkan fadhilah sepenuhnya sholat jumat berjamaah karena terpaksa tak bisa melaksanakan Jumat secara berjamaah sementara waktu. Dan ini berlaku untuk amal-amal lainnya. Jadi, pastikan insya Allah bahwa Ramadhan kita kali ini tetap akan menjadi ramdhan yang terbaik dengan sabar dan syukur.(**)

Comment