by

Rawan Gempa, 14 Alat WRS Dipasang di Maluku

Ambon, BKA- Provinsi Maluku merupakan wilayah rawan gempa dan tsunami. Dimana per tahunnya, bisa terjadi 1.000-1.500 kali gempa bumi. Untuk itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali memasang 14 alat Warning Receiver System (WRS) di beberapa titik pada wilayah Maluku.

Maluku sendiri merupakan bagian dari jalur aktif gempa bumi. Kondisi kondisi fisiografi wilayah Maluku sangat dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan 3 lempeng tektonik utama dunia. Yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Tiga lempeng tektonik tersebut, bertumbukan dan bergerak secara relatif antara satu dengan yang lain. Hal inilah yang menjadikan wilayah Maluku sebagai salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami di Indonesia, bahkan di dunia.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Ambon, Sunardi mengatakan, wilayah Maluku memiliki banyak sumber gempa. Secara umum, memiliki 2 sumber gempa subduksi laut Banda bagian utara dan laut Banda bagian selatan.

Selain itu wilayah Maluku juga memiliki tidak kurang dari 30 segmentasi sesar aktif dari total 295 segmentasi sesar aktif yang telah terpetakan.

Berdasarkan kondisi tektonik yang kompleks ini, maka gempa dapat terjadi kapan saja dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman.

“Hasil monitoring Stasiun Geofisika Ambon menunjukkan selama periode 2011-2019, rata-rata dalam setahun terjadi gempa sebanyak 1000 hingga 1500 kali. Dan gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 sebanyak 60 kali. Tidak kurang dari 40 kali, kejadian tsunami pernah terjadi di Maluku.

Salah satunya tsunami dahsyat pada tahun 1674 di Ambon, yang mengakibatkan lebih 2.000 korban jiwa,” terang Sunardi, lewat rilisnya kepada koran ini, Selasa (16/6).

Terkait kondisi tersebut, lanjut Sunardi, BMKG memiliki tugas dan kewajiban dalam menyediakan informasi gempa dan peringatan dini tsunami, yang tertuang dalam undang-undang nomor 31 tahun 2009, dan Perpres nomor 93 tahun 2019.

Dimana BMKG melaksanakan kegiatan pemasangan alat penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami.

Yakni Warning Receiver System (WRS) di berbagai wilayah rawan gempa dan tsunami di Indonesia termasuk Maluku.

“Sejak 2008, BMKG sudah memasang 275 peralatan WRS. Termasuk 13 di Wilayah Maluku. Mengingat peralatan WRS masih sangat dibutuhkan, tahun ini BMKG memasang WRS generasi terbaru di 315 lokasi termasuk 14 lokasi di Maluku. Yaitu Ambon 3 unit, Kepulauan Tanimbar 3 unit, Buru, Buru Selatan, Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Maluku Tenggara, Maluku Barat Daya dan Kepulauan Aru masing-masing 1 unit ,” jelasnya.

Dikatakan, WRS generasi terbaru yang tentu saja menggunakan teknologi terbaru itu, memiliki nama baru yaitu WRS NewGen yang berbeda dengan WRS sebelumnya.

WRS NewGen merupakan terobosan baru BMKG dalam penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami. Karena alat ini akan memberikan informasi gempa secara lebih cepat karena bersifat real time.

Dan lokasi pemasangan WRS NewGen tahun 2020 itu, mencakup Kantor Kementrian atau Lembaga dalam Perpres nomor 93 tahun 2019.

Serta institusi yang terlibat dalam penanganan bencana gempa dan tsunami, seperti Kantor Pemerintah Daerah (BPBD), Kantor Media Televisi/Radio, serta Institusi terkait yang memiliki kerjasama dengan BMKG terkait sharing data dan informasi.

Menurut dia, dengan terpasangnya WRS NewGen, diharapkan dapat meningkatkan performa penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami, dari BMKG Pusat ke kantor unit pelaksana teknis BMKG, Pemerintah Daerah, Lembaga/Kementerian, Media, dan lembaga lain yang terkait penanganan bencana.

“Harapan kita dengan adanya percepatan penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami ini, akan dapat mempercepat respon penanganan bencana. Sehingga dapat memberikan manfaat nyata dalam menyelamatkan masyarakat Indonesia dari bencana,” pintanya. (UPE)

Comment