by

Reaktif, Pedagang Mardika Dibiarkan Berjualan

Ambon, BKA- Penanganan terhadap pasien reaktif sesuai hasil rapid test, terkesan amburadul. Pasalnya, hasil rapid tes dari salah satu pedagang Mardika yang menunjukkan reaktif oleh tim medis, justru tidak dikarantina. Pedagang tersebut diketahui masih dibiarkan berjualan.

Data yang diterima koran ini, sebelumnya ada ratusan pedagang Mardika yang dilakukan tracking (penelusuran) lewat rapid test dan hasilnya reaktif. Namun, sebagian pedagang diduga tidak dikarantina oleh tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Ambon.

Padahal, masyarakat yang telah terindentifikasi dari hasil rapid tes itu harusnya dilakukan isolasi terpadu untuk menghindari penyebaran wabah yang lebih luas.

Rapid tes, diketahui tidak dapat memastikan yang bersangkutan positif covid 19, karena tingkat akurasinya hanya sekitar 80 persen. Sehingga perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan swab dengan tingkat akurasi sekitar 92 persen. Tetapi tetap dilakukan isolasi sampai ada hasil swab tes yang membuktikan terkonfirmasi positif atau tidak penyebaran Covid 19.

Juru Bicara Gustu Covid-19 Kota Ambon, Joy Adriaansz, ketika dikonfirmasi mengaku, ada pedagang berinisial LS yang hasil rapid tesnya reaktif, tapi masih melakukan aktivitas berjualan di pasar Mardika.

Menurutnya, pedagang tersebut dibiarkan lantaran menduga hasil rapid yang dilakukan tim medis adalah rekayasa. Sehingga pihaknya masih membiarkan pedagang tersebut beraktivitas.

“Jadi ada itu salah satu pedagang yang sampaikan bahwa hasil rapid tes itu terkesan dia di rekayasa,” beber Joy, kepada koran ini, Senin (18/5).

Diakui, pihaknya beberapa waktu lalu cukup kesulitan mencari lokasi isolasi terpadu, sehingga belum melakukan karantina terhadap yang bersangkutan.

“Salah satu hal yang kita punya masalah adalah menyediakan tempat isolasi terpusat, karena tidak mudah mendapat tempat. Kita sudah dapat, tiba-tiba ada masyarakat yang menolak. Kita sudah siapkan tetapi ada lokasi yang lebih baik,” terangnya.

Untuk lokasi sendiri, kata dia, pihaknya telah menetapkan salah satu hotel untuk tempat isolasi terpadu dan kelaurga pedagang tersebut sudah berada di lokasi isolasi terpadu.

“Itu keluarga LS itu sudah masuk di hotel SA. Jadikan saat ini Pemerintah Kota Ambon telah berkoordinasi dengan beberapa lokasi diantaranya hotel SA yang kita siapkan untuk lokasi karantina,” tambahnya.

Dikatakan, tidak semua orang memiliki imun atau daya tubuh yang sama. Baik anak dan orang tua, atau antara suami dan istri. Sehingga dari hasil rapid test yang dilakukan terhadap pedagang tersebut justru reaktif, sementara istri pedagang tersebut negatif reaktif.

“Tidak semua orang punya imun tubuh itu sama. Jadi bisa saja si istri yang bersangkutan itu aman tidak reaktif rapid tesnya, sementara suaminya itu reaktif. Karena mungkin si istri imun tubuhnya bagus. Kemudian di satu sisi, rapid tes itu tidak mengukur bahwa yang bersangkutan positif Covid 19,” terangnya.

Dituturkan, tim medis akan melakukan rapid tes kedua kepada bersangkutan untuk memastikan virus tersebut menjangkit atau tidak.
“Kita harus cek secara berlanjut dan itu membutuhkan waktu 7-10 hari dan dilakukan isolasi tersebut. Ktia cek dulu 7-10 hari kita rapid, kalau masih reaktif baru kita swab kecuali 7-10 hari tersebut yang bersangkutan ada gejala. Nah itu yang kita langsung rawat,” imbuhnya.

Joy berharap, seluruh pedagang yang telah mendapatkan hasil rapid tes dan dinyatakan reaktif dapat langsung melakukan isolasi. Dan pihaknya akan melakukan himbauan kepada masyarakat untuk lebih memperhatikan masalah tersebut. Mengingat karantina yang dilakukan oleh Gugus Tugas, bertujuan untuk melindungi masyarakat lainnya.

“Kita akan turun ke pasar Mardika untuk melakukan himbauan kepada masyarakat, karena ada beberapa yang belum melakukan rapid tes. Kita langsung lakukan dan tim tracking langsung bertemu dengan bersangkutan,” ujarnya.

Kedepan, tambah Joy, akan ada tim yag menjemput masyarakat yang hasil tesnya reakatif sesuai rapid test. “Kedepan itu kita langsung lakukan itu, kecuali yang bersangkutan minta untuk lakukan isolasi mandiri. Karena rumah yang bersangkutan masih bisa untuk melakukan isolasi mandiri, tapi itu akan ditinjau oleh tenaga kesehatan. Dengan catatan yang bersangkutan saat keluar dari rumah atau luar kamar kita langsung jemput,” pungkasnya. (DHT)

Comment