by

REFLEKSI; DUNIA TAMPA DAPUR

“…inti dunia ini, ada didapur”
Oleh; A. Djen Wasolo
Sejak 2019 Dunia benar-benar dibuat panik oleh wabah pendemi Covid19 yang pada catatan medis hal ini sangatlah berbahaya. Sehingga mengantarkan kita pada proses evaluasi massal, tentang segala aspek tatanan kehidupan. Kita dihimbau tetap dirumah saja, agar bisa memutuskan mata rantai pendemi yang terjadi. Berangkat dari himbauan tetap dirumah saja, sebenarnya ada sesuatu yang tanpa sadar itu kita kembali pada nya. Yakni adalah pungsi dapur sebagaimana mestinya. Dapur yang pada tataran defenisi umum adalah tempat dimana makan dimasak dan dimakan. Dapur secara global dulunya mempunyai kedudukan yang terpisah dengan ruang utama bangunan. Dalam beberapa catatan sejarah, dapur di sebut sebagai Pantry. Istilah pantry sendiri berasal dari bahasa Inggris yang berarti sebuah ruangan di mana makanan, piring, atau linen disimpan dan merupakan pelayanan tambahan dapur. Pada akhir abad pertengahan, ada kamar yang terpisah untuk berbagai fungsi layanan dan penyimpanan makanan. Dapur adalah tempat penyimpanan roti dan persiapan makanan. Kepala yang bertanggung jawab untuk ruangan ini disebut sebagai pantler. Di Jaman Victoria, rumah-rumah dan perkebunan besar di Britania yang dikelola menggunakan kamar yang terpisah, masing-masing difungsikan untuk tahap berbeda yaitu persiapan makanan dan membersihkan. Dapur adalah untuk memasak, sementara penyimpanan makanan dilakukan di sebuah gudang. Persiapan makanan sebelum memasak dilakukan di lemari makan, dan pencuci piring dilakukan di scullery atau dapur, tergantung pada “jenis hidangan”.
Dapur adalah bagian rumah yang menyatukan semua orang, dalam aspek yang lebih kecil yakni adalah keluarga. Dari dapur kererat dan keharmonisan keluarga itu ada. Namun Pada era kontemporer ini, kita dihadapkan dengan era dimana semua aspek yang di inginkan telah “tersedia”. Hal ingin bersamaan dengan cara Masyarakat modern memaknai dapur. Setelah terjadi peran dunia II atau manusia mulai masuk dalam dunia industri. Mulailah di kenal Jasa pembantu rumah tangga, hal ini bersamaan dengan cara proses hidup manusianya. Yang hampir sebagian besar mereka habiskan diluar rumah.
Bergeser sedikit lebih jauh tentang bagaimana posisi atau seberapa besar peran dapur dalam wacana sekarang ini. Kita akan menemukan berbagai perilaku yang sebenarnya mengkesampingkan peran dapur. Kiblat makan manusia kontemporer lebih di dominasi di luar rumah. Sehingga secara bersamaan menumbuhkan selera kaum kapital untuk membangkitkan Rumah-rumah makan raksasa. Yang pada perannya menyediakan hampir sebagian besar kemauan manusia sekarang yang lebih efesien, praktis, serta ekonomis. Ditambah lagi dengan kejanggihan teknologi yang mampu mengantarkan makanan cepat saji kerumah tampa harus menyalakan kompor.
Apalagi sekarang ini manusia modern mengatur pola komsumsinya bukan lagi tentang kemanfaatannya namun semua itu berasaskan pada gaya hidup, demi sebuah citra yang diarahkan dan dibentuk oleh iklan dan mode lewat televisi, tanyangan sinetron, acara infotainment, ajeg kompetisi para calon bintang, gaya hidup selebriti, dan sebagainya. Yang ditawarkan iklan bukanlah nilai guna suatu barang itu berguna atau tidak, diperlukan konsumen atau tidak. Karena itu yang komsumsi adalah makna yang dilekatkan pada barang itu, sehingga kita tidak mampu memenuhi kebutuhan kita. Kita tidak pernah terpuaskan, kita lalu menjadi pemboros agung mengonsumsi tanpa henti, rakus dan serakah. Komsumsi yang kita lakukan justru menghasilkan ketidakpuasan kita menjadi teralienasi karena perilaku komsumsi kita. Pada gilirannya ini menghasilkan kesadaran palsu, seakan-akan terpuaskan padahal kekurangan, seakan-akan makmur padahal miskin .
Ruang fikir kita sengaja di bentuk sedemikian rupa, sehingga aspek manfaat tidak di pandang lagi. Jadi jangan heran jika hari ini ada yang bertamu ke KFC, dsb. Lebih banyak mengaktifkan kamera ponselnya ketimbang makan. Nilai guna akan kalah oleh simbol dan lebel. Sehingga dapur sebagai wadah dimana kita lebih tahu apa yang dimasak dan bagaimana nilai kegunaaan secara kesehatan maupun ekonomi, tidak lagi termanfaatkan.
DILEMATIS; DAPUR TANPA TUNGKU, DITENGAH COVID19
Awalnya saya sedikit acuh dengan masalah yang menurut kita “mungkin tidak begitu penting”. Karena pada dasarnya orang akan mengasumsikan bahwa membicarakan tentang dapur tidak bisa lepas-pisah dengan ‘Pangan’, yang selalu di kaitkan dengan perut, namun hal ini tidak berhenti pada aspek itu saja, dikarenakan berbicara mengenai dapur sama halnya, kita membicarakan masalah sumber pangan, kesehatan, kerukunan, serta ilmu pengetahuan yang menjadi pemenuhan kebutuhan lahiriah kita.
Sampai abad Melenial ini, kita telah mengalami dedagrasi pola fikir yang begitu mengkwatirkan. sehingga Kita tidak begitu peka terhadap permasalahan yang terjadi (baca; Jangan Biarkan Kami Terasing). Pola komsumsi yang berbading lurus dengan menurunnya kemauan masyarakat untuk mengefektifkan lahan kosong. membuat masyarakat semakin meminati sesuatu yang bersifat praktis. Sehingga Kebutuhan dapur sepertinya Minyak Kelapa Misalnya, Dulu itu di ola sendiri. Dan hal itu mempunyai Dampak yang begitu efesien. Tapi begitulah, kita lebih suka ke pasar dan menaruh uang sebagai solusi nya.
Nah, dalam situasi pendemic ini seakan-akan menebalkan sifat ikhtiar kita terhadap segala kebutuhan diri yang datang dari luar (pasar). Karena dilihat dari proses penyebaran covid19 yang cepat dan sangat agresif terhadap segala sesuatu. Sehingga meminimalisir sifat ketergantungan terhadap hal-hal yang instant menjadi kewajiban
Seharusnya, dalam situasi pendemic seperti sekarang ini, kita harus kembali pada sifat atau cara lama yang lebih efesien dan mengurangi sedikit ketergantungan kita terhadap pasar. Dan cara-cara lama yang saya maksudkan adalah memasak sendiri dan mendapatkan kebutuhan dapur seperti cili, tomat, atau sesuatu yang bisa ditanam, dapat dimanfaatkan melalui pekarangan yang selama ini kita defenisikan sebagai tempat/taman bunga (baca: Jejak Pangan), Sebab Ketahanan pangan suatu negeri tidaklah ditentukan dari melimpahnya ketersediaan pangan negeri tersebut, melainkan dari kemampuan masyarakatnya untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka, baik kualitas maupun kuantitas/keterjangkauan yang tinggi terhadap pangan.
Pada dasarnya kita (Negara maupun Masyarakat), memasuki masa pendemic ini, ada dalam ketegangan dan kepanikan yang benar-benar mengkawatirkan. Dan salah satu unsur kepanikan kita adalah ketidakpunyaan. Ketidakpunyaan atas apa ? Terhadap kebutuhan-kubutuhan hidup. Hal ini juga diakibatkan karena konsep yang dilahirkan atau besic kehidupan yang ditanamkan oleh pemerintah begitu memanjakan. Seperti di aspek pertanian misalnya. Masyarakat kebanyakan diberi bantuan tanpa ada pendampingan/bimbingan lanjutan. Dan pada sifat-sifat atau strategi pemerintahan seperti inilah yang membantu/membentuk kehidupan masyarakatnya yang kurang mandiri (masyarakat penerima bantuan) kalau saya analogikan seperti kerupuk yang kenal air atau dibiarkan saja akan lembek, bahkan larut.
Dapur bukan saja menjadi tempat makan, melainkan dapur adalah sumber kehidupan itu. Karena dapur adalah unsur terpenting yang menjadi tolak ukur kita dalam menjalani aktifitas kehidupan kita. Mau sehat, dari dapur, mau kuat dari dapur dan dari dapurlah kita dapat tahu tentang kualitas hidup kita. Jika dapur masih kita depenisikan sebagai bagian dari tempat makan semata, maka paradigmatik inilah yang seharusnya dibongkar, sebab dapur adalah asal hidup kita.

Comment