by

Rektor: Sarjana Harus Jadi Pelopor, Penggagas, dan Pencipta Pekerjaan

Unpatti Wisudakan 1177 Sarjana
Ambon, BKA- Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon menggelar wisuda sarjana, segaligus syukuran dies natalis ke-57, di gedung auditorium Unpatti, Selasa (15/9).

Periode wisuda I tahun 2020, Unpatti Ambon berhasil mewisuda 1.177 lulusan.

Rektor Unpatti Ambon, Prof. M. J. Sapteno, mengingatkan, agar para lulusannya mampu memberdayakan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk masa depan pribadi, keluarga, bangsa dan negara.

“Menjadi sarjana, itu berarti cara perpikir, cara berbicara, dan penampilan, harus berbeda. Cara berpikir untuk mencari lapangan pekerjaan itu adalah hal yang seharusnya tidak dipikirkan oleh seorang sarjana. Sarjana harus menjadi pelopor, penggagas, serta pencipta pekerjaan, agar gelar sarjana yang diperoleh itu dapat bermakna bagi diri sendiri, keluarga, bangsa dan negara,” terang Sapteno.

Menurutnya, untuk menyadang gelar sarjana, tidak segampang yang dipikirkan. Butuh perjuangan yang panjang, dimana selama proses kuliah turut menguras pengorbanan orangtua.

Untuk itu, dia berharap, para lulusan Unpatti Ambon mampu menjawab harapan orangtua. Bukan justru sebaliknya, semakin membebani orangtua, karena tidak mampu memanfaatkan gelar sarjananya secara baik dalam dunia kerja.

“Perlu disadari dengan sungguh-sungguh, bahwa orangtua punya harapan menyekolahkan anaknya dengan susah paya hingga perguruan tinggi, supaya kelak masa depannya menjadi baik. Karena itu, jika saudara hanya kembali menjadi beban bagi orangtua, maka itu sesuatu yang sangat memprihatikan. Mulai saat ini, saudara katakan pada diri sendiri, bahwa saya tidak akan menjadi pengangguran, tapi menjadi orang yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Karena itu, mari kita menciptakan peluang kerja untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dengan apa yang ada pada diri. Katakan pada diri saudara, bahwa saya akan menjadi kepala, bukan menjadi ekor. Katakan juga, bahwa saya bisa menjadi orang yang sukses. Kita harus merasa malu, ketika orang orang mengatakan bahwa sarjana hanya menjadi pengangguran. Percaya dan yakinlah, bahwa saudara-saudari merupakan orang yang mempunyai talenta yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan,” paparnya.

Dengan upaya mendapatkan pekerjaan atau membuka lapangan pekerjaan baru, katanya, secara tidak langsung sudah membantu pihak kampus memperbaiki akreditasi.

Pasalnya saat ini, kebijakan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengharuskan setiap universitas yang meluluskan sarjananya, 80 persen harus bekerja.

Menurutnya, berdasarkan hasil evaluasi kelulusan tahun 2019, baru sekitar 100 lulusan yang bekerja, dari total kelulusan sebanyak 3000-an sarjana.

Hal tersebut, kata Sapteno, menyebabkan rangking Unpatti menjadi turun. “Karena itu, saya mengajak kita semua, baik para dosen, lulusan, dan para pimpinan Fakultas, marilah kita meninggalkan kelemahan-kelemahan kita, dan kita mulai membangun sebuah sistim baru. Era baru dimana para lulusan kita harus dilibatkan dalam pusat karya yang telah dibentuk di Unpatti.

Kita sudah harus mulai mendidik mereka menjadi orang yang punya pekerjaan. bahwa terkadang orang perpikir, pekerjan itu hanya menjadi PNS, TNI/Polri. Padahal kalau kita amati, pekerjaan yang menghasilkan uang paling banyak. Untuk itu, mari kita mulai menggali potensi yang ada pada kita masing-masing. Semua fakultas harus bekerja. Kerja adalah, karya yang bisa mencitakan lapangan pekerjan yang pada akhirnya membuat lulusan kita bisa berhasil. Kita bisa lakukan itu. Yang penting ada kemauan dan keinginan dan komitmen dalam melaksanankan semuanya. Itu yang perlu diperhatikan oleh kita semua. Khususnya para lulusan, yang kini meniadi alumni Unpati. Terus berkarya dengan ilmu yang ada. Untuk masa depan yang baik. Harapan kita semua, 1.177 sarjana ini mampu menyaingi dunia kerja. Apapun itu,” harap Sapteno. (LAM)

.

 

Comment