by

RSUD Haulussy Diancam IKTT

Ambon, BKA- Ikatan Keluarga Tehua Teluti (IKTT) Maluku mengancam akan melaporkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Haulusy Ambon ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas-HAM).

Ancaman itu menyusul adanya dugaan ketidak beresan sistim pelayanan rumah sakit itu, saat menangani almarhum Hasan Keiya (HK), yang merupakan warga Desa Wolu, Kecamatan Teluti, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

Almarhum sebelum sempat dirawat pada rumah sakit pemerintah itu, kemudian divonis terinfeksi Covid-19, yang akhirnya meninggal dunia, beberapa waktu lalu.

“Ada ketidak beresan managemen di rumah sakit tersebut, sehingga kami dari IKTT akan menyurati Komnas HAM untuk menyelidiki secara tuntas, sehingga menjadi pembelajaran bagi pelayanan di RSUD dr Haulusy Ambon,” tegas Wakil Sekretaris Jendral (Waksjen) IKTT Maluku, Hidayat Samehu, saat melakukan pertemuan dengan Tim Pengawas Covid-19 DPRD Maluku, Kamis(9/7).

Rapat yang dipimpin Ketua tim pengawas Covid-19 DPRD Maluku, Melkias Sardekut, juga dihadiri Kadis Kesehatan dan pihak RSUD dr Haulusy.

Menurut Hidayat, ada ruang besar pembiaraan dan kelalaian yang dilakukan pihak RS, terhadap berbagai rentetan kejadian yang dialami almarhum HK sebum meninggal.

“Ada satu rentetan kejadian dan kesimpulan, bahwa akibat almarhum HK meninggal akibat ada proses pembiaraan dan kelalaian dari pihak RSUD Ambon. Sehingga kelalaian itu harus mendapat penanganan khusus dari Komnas HAM,” ujarnya.

Hidayat mengatakan, awalnya, almarhum di rujuk dari RSUD Masohi ke RSUD dr Haulussy, dengan kondisi sedang sakit. Namun tidak dinyatakan positif Covid-19, sehingga sempat mendapat penolakan oleh rumah sakit itu, dengan alasan, hanya menerima pasien Covid-19 saja.

Keluarga almarhum pun diminta untuk membawa almarhum ke RS Bhakti Rahayu. Seseuai sistim pelayanan kesehatan di RS tersebut, almarhum harus menjalani rapid tes terlebih dulu sebelum menjalani perawatan madis. Namun hasil rapid test yang dilakukan menyatakan almarhum positif Covid-19.

Pihak RS Bhakti Rahayu pun akhirnya meminta pihak keluarga almarhum, agar kembali ke RSUD dr Haulussy.

Anehnya oleh salah satu petugas di RSUD dr Haulussy, pihak keluarga dipaksa untuk menandatangani surat pernyataan yang menyatakan, kalau almarhum adalah pasien positef Covid-19, sehingga harus mendapat perawatan di ruang isolasi.

Namun almarhum dengan kondisi hampir seluruh tubuh tidak bisa bergerak karena penyakit yang dideritanya, menurut pihak keluarga tidak mendapat perlakukan medis yang cukup baik sesuai standar pelayanan di RS.

Sehingga IKTT berkesimpulan, kalau ada dugaan skenario desain kesengajaan yang dilakukan pihak RS terhadap pelayanan, hingga meninggalnya almarhum HK.

Bukan hanya itu, karena tidak ada petugas medis, membuat almarhum sempat terjatuh dua kali dari tempat tidurnya, karena hanya ingin minum dan lapar.

Parahnya lagi, jenazah almarhum saat dimakamkan dalam keadaan tidak bersih dari kotoran pada dubur. Itu juga terjadi saat almarhum masih mendapat perawatan didalam ruang isolasi, dimana kotoran pada pampers sempat mengering. Sedangkan kateter penuh, tidak diganti.

Untuk itu, IKTT meminta, agar apa yang terjadi terhadap almarhum HK merupakan pengalaman pertama, yang tidak boleh lagi terjadi kepada masyarakat Maluku lainnya.

“Jangan ada lagi korban-korban HK berikutnya. Cukup apa yang sudah dirasakan almarhum. Kami pihak IKTT dan keluarga besar almarhum, meminta pihak RS untuk bisa menjadikan itu sebagai pengalaman, agar kedepan tidak ada lagi korban berikutnya,” bebernya.

Ditempat yang sama, dr Siti Zahra Malawat yang merupakan dokter yang menangani almarhum HK sewaktu dirawat di RSUD Haulussy, mengaku, kalau pihaknya sudah melakukan penanganan medis sesuai prosedur.

“Kami tim medis yang melayani pasien Covid hanya empat orang, dengan jumlah pasien sekitar 40 pasien. Banyak keterbatasan yang ada pada kami, dan kami sadari itu. Kalau pelayanan kami kurang maksimal, sekali lagi, kami minta maaf,” akuinya.

Menyangkut jenazah, kata Malawat, sudah dilakukan sesuai protap kesehatan. Kalau ada pihak keluarga melihat masih ada kotoran, dia hanya menyampaikan, kalau yang menangani jenazah almarhum, tidak ada tim medis laki-laki. “Tapi penanganannya sudah sesuai protap Covid-19,” tandasnya.(RHM)

Comment