by

Sekolah Di Desa Minim TIK

Ambon, BKA- Penerapan pembelajaran menggunakan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) pada sejumlah sekolah, khususnya di daerah pedesaan, masih sangat minim.

Hal itu diungkap oleh salah seorang guru SMP Negeri 5 Ilmarang, Paulus Matmey. Menurutnya, minimnya penerapan pembelajaran berbasis TIK di sejumlah sekolah pada daerah pedesaan, dipengaruhi oleh banyak faktor.

Namun diantara banyak faktor itu, ada beberapa faktor yang sangat dominan. Misalnya, minimnya fasilitas TIK yang dimiliki sekolah, minimnya kapasitas guru dalam penguasaan TIK, serta tidak adanya jaringan internet.

Karena minimnya fasilitas TIK yang dimiliki sekolah, membuat kemampuan guru juga sangat terbatas. Akhirnya mereka hanya mengandalkan pola pembelajaran secara manual.

“Rata-rata guru yang belum mahir ini adalah guru yang sudah mau pensiun. Karena itu, tidak bisa paksakan untuk belajar TIK. Memang resiko di desa sudah seperti ini. Terbatas dengan jaringan internet, fasilitas, serta kapasitas guru,” ungkapnya.

Semua keterbatasan itu, lanjutnya, tentu sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran di tengah Covid-19, pasca pemerintah mulai berlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Menurutnya, selama PJJ di berlakukan, rata-rata sekolah di desa, khususnya sekolah yang berada di Desa Ilmarang, Kecamatan Dawelor Dawera, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), tidak melakukan secara online. Melainkan secara manual. Dalam hal ini, guru memberikan tugas kepada siswa di rumah.

“Bukan saja fasilitas yang terbatas, tapi, jaringan di sini juga tidak begitu normal. Karena itu, kita tidak bisa paksakan untuk belajar jarak jauh secara online. Kalau pun ada jaringan, tidak mungkin setiap hari, siswa bisa beli pulsa data, karena rata-rata orangtua siswa merupakan latar belakang ekonomi lemah. Karena itu, satu-satunya cara yang kita lakukan adalah belajar di rumah, tapi secara manual,” tutur Matmey.

Untuk itu, Matmey meminta kepada pemerintah, lebih khusus kepada Dinas Pendidikan (Disdik) MBD, agar segera mengambil kebijakan dimasa pandemi Covid-19 ini. Khusus kebijakan bagi sekolah di desa yang memang minim dengan fasilitas TIK.

Hal tersebut penting untuk diperhatikan, agar kualitas pendidikan di kabupaten bertajuk Kalwedotersebut dapat terus berkembang.

“Mesti ada kebijakan khusus bagi sekolah yang minim fasilitas. Kita di desa kan, banyak keterbatasan. Karena itu, kalau tidak ada kebijakan dari Disdik, maka proses belajar bisa saja terpengaruh. Memang Covid-19 ini belum sampai ke desa-desa di MBD, tapi paling tidak, pola pembelajaran di masa sekarang ini sudah harus diperhatikan. Agar kedepannya, tidak memberikan dampak bagi sekolah di desa. Karena memang, tidak bisa paksakan, karena penggunaan TIK masih sangat minim di desa,” pungkas Matmey. (LAM)

Comment