by

Selamat Datang, Ramadhan Istimewa Tahun 1441 (1)

Oleh: Ustadz Fathurrahman
Dai Ikadi/Pengajar di Ma’had Arrahmah Ambon

Ambon, BKA- Tidak disangka. Ramadhan 1441 Hijriyah kali ini, kita benar-benar dihadapkan pada situasi yang tidak lazim. Polemik di Masyarakat, khususnya di Kota Ambon pun saat ini masih terjadi.

Upaya yang dilakukan pemerintah bersama para ulama yang tergabung dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), tentu merupakan ikhtiar terbaik dalam niat dan upaya mencegah kemungkinan tersebarnya wabah.

Berkenan mendengar dan taat (sami’na wa atha’na) dalam kondisi seperti ini adalah pilihan yang lebih aman.

Namun tidak dipungkiri, tidak sedikit masyarakat yang menolak himbauan pemerintah tentang tidak dilaksanakannya (untuk sementara) berbagai ritual wajib dan sunnah di masjid, dan juga diberbagai acara yang melibatkan banyak orang itu. Tidak ada saling tuduh dalam masalah ini.

Kondisi seperti ini sesungguhnya bukan hal baru. Ibnu Hajar Al-Asqalani (778-825H/1372-1449M) menulis banyak hal tentang perihal wabah dalam kitabnya berjudul Badzl al-Ma’uun fii fadhli at-Tha’uun. Dalam kitab itu disebutkan setidaknya ada sebelas kali peristiwa wabah sejak jaman Rasulullah SAW hingga era dinasti Abbasiyyah, yang menelan korban sangat banyak.

Jelasnya, kondisi yang sedang kita alami saat ini sudah umum terjadi di masa silam, tentu dengan frekwensi waktu yang lama. Tentu kita sangat terkejut jika mendengar info meskipun masih berupa rumor tentang akan ditiadakannya ibadah haji tahun 1441H/2020M ini, lalu menghubungkan dengan kajadian-kejadian akhir menjelang kiamat. Tentu bukan hal yang salah jika orientasinya pada pendekatan keimanan.

Hanya saja, perlu dikatahui bahwa sejarah telah mencatat, bahkan sepuluh tahun tidak dilaksanakan ibadah haji. Dilansir di Arab News, pernah terjadi pembatalan ibadah haji hingga sepuluh kali (sepuluh tahun) dikarenakan pemberontakan Bani Qarmati dan menginvasi Baitullah di Era khilafah Abbasiyyah. Sehingga terganggulah Ibadah haji dimulai tahun 930M.

Terakhir, bagaimana konsekwensi secara syariat atas keadaan saat ini dengan kualitas Ramadhan kita kali ini?

Dalam hadits yang dirawatkan oleh Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya, “Sesungguhnya Allah SWT suka jika rukhshah (keringanan/dispensasi yang diberikan Allah) dilaksanakan, sebagaimana Allah benci bila maksiat (terhadap-Nya) dikerjakan”. Hadits Riwayat Imam Ahmad.

Tentu akan banyak nash lain yang pada intinya menjanjikan kebaikan bagi seorang muslim dalam situasi apapun. Contoh sederhana, dalam keadaan seseorang “harus” membatalkan puasa Ramadhan yang sedang dikerjakan karena suatu alas an syar’iy, maka orang yang membatalakan puasa justeru akan mendapatkan dua pahala amalan, pertama pahala menjalankan perintah rukhshah, kedua mendapatkan pahala dari ibadah itu sendiri. Dan itu berlaku pada semua jenis ibadah yang ada kemungkinan ruhkshahnya.

Demikian pula Ramadhan luar biasa kita kali ini. Ketaatan kita terhadap himbauan Pemerintah dan ulama dengan menjalankan ritual Ramadhan di rumah masing-masing berdasarkan nash-nash yang ada tidak akan mengurangi, bahkan bisa jadi justeru akan menambah nilai lebih dari Ramadhan-ramadhan sebelumnya.

Jadi, tidak perlu ragu. Bagaimanapun keadaan kita di Ramadhan kali ini, insyaAllah tidak akan kalah baik bahkan bisa jadi lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Insya Allah…
Selamat menjalanjan Ibadagh Ramadhan 1441H/2020M. Insya Allah Ramadhan kali ini akan tetap menjadi ramadhan terbaik dari sebelumnya. Amin…

Comment