by

SMP 1 Dobo Jadi Tempat Karantina

Warga Aru Protes

Ambon, BKA- Masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru ramai-ramai layangkan aksi protes kepada pemerintah kabupaten (Pemkab), karena menjadikan gedung SMP Negeri 1 Kecamatan Pulau-Pulau Aru sebagai tempat karantina Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Menurut masyarakat, langkah yang ditempuh oleh Pemkab Kepulauan Aru kurang bijak, karena gedung sekolah itu berada ditengah-tengah pemukiman masyarakat.

“Kami menolak keras SMP Negeri 1 dijadikan tempat karantina. Sekolah ini berada ditengah-tengah tempat tinggal kami, dan jelas-jelas sangat mengganggu kenyamanan kami,” terang Janda Siahaya dan Adesany Djilapoin, warga RT 006/RW 002 Kelurahan Siwalima, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, Minggu (17/4).

Masyarakat takut, mereka akan tertular virus tersebut. Apalagi yang akan dikarantina merupakan Pelaku Perjalanan (PP) dari daerah zona merah.

“Kita takut nantinya malah bawa virus itu kesini. Sekolah ini jangan digunakan karantina. Di sini tempat anak sekolah, bukan tempat penyakit,” ungkap warga serempak saat Bupati Kepulauan Aru, Johan Gonga, tiba dilokasi karantina.

Menyikapi aksi protes warga, Bupati Johan Gonga, mengungkapkan, dipilihnya SMP Negeri 1 Dobo sebagai tempat karantina atas kesepakatan bersama RT/RW setempat dan Pemkab dalam hal ini Tim Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19.

“Gedung ini dipakai untuk tempat karantina atas kesepakatan bersama para RT/RW sekitar sekolah ini. Jadi bukan keinginan Pemkab saja,” ujar Bupati

Selain itu, orang nomor satu di Kabupaten Kepulauan Aru itu juga mengakui, kurangnya sosialisasi terkait penetapan lokasi karantina sehingga mengakibatkan sejumlah warga lakukan aksi penolakan.

“Protes warga itu baik. Warga juga belum paham, karena kurangnya sosialisasi dari RT/RW maupun Pemkab (Tim Gustu). Namun ya, puji Tuhan, warga sudah paham ketika diberikan penjelasan yang baik tentang fungsi tempat karantina,” jelasnya.

Dia menjelaskan, dalam protokol kesehatan penanganan Covid-19, pasien yang termasuk ODP dan PDP itu penanganannya langsung di rumah sakit. Mereka tidak di karantina. Yang dikarantina itu adalah mereka yang sehat. Mereka yang tidak ada gejala terpapar Covid-19.

“Saya mau bilang, yang datang ini juga anak-anak kita, saudara kita sendiri, lalu kalau tolak, mereka mau di bawah kemana. Lagian sebelum mereka datang, mereka sudah di karantina dan diperikasa kesehatanya oleh tim Gustu di Ambon. Jadi saya rasa mereka pasti aman,” terang Bupati, kepada warga.

Mantan direktur RSUD Cendrawasih Dobo itu berharap, masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru harus pandai menyimpulkan suatu persoalan, sehingga tidak salah tafsir.

Masalah protes penolakan tempat karantina tersebut hanya karena kurangnya sosialisasi. Alhasil, masyarakat berasumsi buruk.

“Persoalan penolakan seperti ini, mestinya jadi pelajaran agar kita lebih sigap dalam mengatasi semua ini. Pemerintah daerah melalui camat, lurah sampai tingkat RT/RW, harus evaluasi kinerjanya mulai dari sekarang. Sehingga tidak menimbulkan masalah baru dalam situasi penangan Covid-19 seperti ini,” pinta Gonga.

Diketahui, yang akan di karantian adalah 114 Pemuda asal Kabupaten Kepulauan Aru yang tidak lolos tes tantama TNI kemarin di Ambon. Mereka akan di karantina bersama orang tua mereka selama 14 hari. (WAL)

Comment