by

Sulit Penuhi Kebutuhan Belajar Siswa

Ambon, BKA- Kebutuhan belajar siswa di masa pandemi Covid-19 sulit terpenuhi, sebab proses belajar dilakukan secara jarak jauh, baik secara online maupun offline.

Kepala SD Yakobus, Paternus Refwalu, mengatakan, proses pembelajaran yang tidak maksimal dan tidak efektif tersebut yang menyadi penyebab tidak terpenuhinya kebutuhan belajar siswa dengan baik.

Di masa pandemi Covid-19, pihak sekolah tidak memaksa guru agar menuntaskan materi pembelajaran kepada siswa. Yang dipentingkan adalah agar siswa dapatterhindar dari penyebaran virus corona dan tetap sehat.

Beruntung, katanya, bagi siswa yang memiliki fasilitas untuk mengikuti pelajaran secara online dan offline. Tapi yang tidak miliki fasilitas, sudah pasti tidak akan bisa memenuhi kebutuhan belajarnya.

Selain itu, faktor orangtua siswa juga turut menentukan terpenuhinya kebutuhan belajar siswa. Kalau orangtua yang peduli dalam pendampingan belajar anak, maka bisa saja kebutuhan belajar siswa terpenuhi. Tapi kalau orangtua yang cuek atau tidak paham dengan pelajaran, maka ini juga jadi penyebab tidak terpenuhinya kebutuhan belajar siswa.

“Jadi karena kita sesuaikan dengan kondisi, sehingga meskipun mereka tidak maksimal dalam belajar, yang penting mereka tetap sehat. Karena latar belakang orangtua juga berbeda-beda. Sehingga bersyukur kalau ada orangtua yang mengerti, kemudian mengajarkan anaknya. Tapi kalau yang tidak bisa, ya tidak mungkin kita paksakan mereka,” ungkap Refwalu, Jumat (11/9).

Meskipun demikian, kata dia, pihaknya terus mengingatkan orangtua untuk memaksimalkan perhatian kepada anak, melalui pendampingan belajar. Jika ada materi yang tidak dimengerti, bisa berkomunikasi dengan guru untuk mendapat penjelasan. Ini dilakukan, agar bukan saja anak belajar, tapi juga mengerti materinya.

‘’Kan bukan berarti sulit, lalu kita tidak berusaha. Sebagai orangtua dan guru, justru harus tetap berusaha agar anak-anak tidak ketinggalan jauh. Memang tidak maksimal. Tapi paling tidak, materi yang setiap hari guru berikan, jangan diabaikan begitu saja. Kondisi ini tidak bisa kita samakan semua siswa dalam hal penerimaan materi. Tapi dengan upaya bersama, saya kira biar sedikit, kita harus tetap berupaya memberikan pelayanan bagi mereka,” katanya.

Pada sekolah milik Yayasan Andresol itu, ungkapnya, bukan saja ada siswa regular seperti pada sekolah umum, tetapi ada juga siswa yang terbatas dari segi mental. Sehingga, tambahnya, meskipun dalam pemberian materi itu sama, tetapi saat proses penilaiannya tetap harus berbeda dengan siswa lainnya. Seperti yang dilakukan sekolah inklusif lainnya.

“Sudah seperti itu. Sehingga proses belajarnya sama, tetapi penilaiannya harus berbeda. Tidak bisa samakan dengan anak-anak normal pada umumnyanya,” pungkas Refwalu. (LAM)

Comment