by

Tarif Speadboat Dikeluhkan, Yeremias Minta Warga Sabar

Ambon BKA- Saat ini, kapal penumpang tidak bisa bersandar di Pelabuhan Kaiwatu, Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), karena tengah dalam proses pembongkaran untuk kemudian ditingkatkan.

Untuk sementara, kapal hanya bisa berlabuh di lepas untuk menurunkan penumpang, atau sebaliknya menaikan penumpang.

Penumpang yang hendak naik kapal atau turun, harus menggunakan jasa transportasi speedboat menuju kapal atau menuju bibir pantai pelabuhan.

Terhadap jasa tersebut, masyarakat sangat terbantu. Hanya saja mereka mengeluhkan tarif yang dikenakan per orang Rp 50 ribu, yang dinilai terlalu mahal. Padahal jarak tempuh dari bibir pantai menuju kapal, hanya berkisar 200 meter.

Menyikapi keluhan warga tersebut, Anggota DPRD Provinsi Maluku Dapil 7 wilayah Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya, Anos Yermias, meminta warga agar bersabar.

Dia mengungkapkan, saat ini kondisi Pelabuhan Kaiwatu sedang dalam proses pembongkaran, untuk dibangun pelabuhan yang baru. Sehingga kondisi tersebut bersifat sementara.

“Masyarakat kabupaten MBD, baik yang sering berpergian dengan menggunakan kapal laut ataupun yang saat ini memanfaatkan jalur laut sebagai moda transportasi, tentu dapat melihat kondisi dermaga yang berada di pelabuhan laut Moa-Tiakur. Kondisi dermaga sudah cukup rusak dan perlu dilakukan perbaikan. Menyikapi hal tersebut, maka pemerintah kemudian berupaya untuk melakukan perbaikan. Sehingga atas upaya itu, maka kapal laut tidak dapat berlabuh di dermaga dan hanya dapat berlabuh di perairan sekitar dermaga, dan berdampak pada masyarakat yang akan beraktifitas naik-turun kapal,” jelasnya.

Lanjutnya, untuk mengantisipasi persoalan yang dialami para penumpang karena kapal hanya berlabuh dilepas pantai, maka masyarakat setempat kemudian menyediakan jasa speadboat yang melayani antar jemput penumpang, baik dari darat ke kapal maupun sebaliknya.

Dan pada beberapa waktu, ada keluhan dari para penumpang tentang tarif yang ditetapkan pihak speadboat, yakni, Rp 50 ribu per orang.

“Sebagai wakil rakyat, saya ingin mengajak masyarakat agar lebih memahami kondisi yang sementara terjadi di Pelabuhan Kaiwatu. Kondisi dermaga sedang dalam.proses perbaikan, sehingga kapal tidak diperbolehkan bersandar di dermaga, hanya dapat berlabuh di perairan sekitar pelabuhan. Jadi ketika ada masyarakat yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk mendapat penghasilan tambahan, harusnya masyarakat dapat bersyukur. Karena jika tidak ada pelayanan speadboat, maka sudah pasti tidak ada penumpang yang bisa turun ataupun naik ke kapal. Nah untuk tarifnya, saya rasa ini bukan hal lasim, karena setiap musim barat, kapal penumpang yang datang ke Pulau Moa sering dialihkan ke Dermaga Moain, dengan kondisi dermaga yang tidak memadai bagi kapal. Sehingga jasa speadboat dengam tarif tersebut, bukanlah hal baru,” jelasnya.

Walau demikian, Yeremias berharap, agar ada perhatian dari Dinas Perhubungan Kabupaten MBD dapat menyikapi persoalan tersebut, agar dapat meringankan beban masyarakat, khususnya masyarakat ekonomi lemah.

Selain itu, dia mengimbau, agar masyarakat MBD lebih bijak dalam menyikapi berbagai persoalan yang sifatnya sementara. “Harga bahan bakar yang cukup mahal, tentu menjadi alasan bagi pemilik speadboat dalam menentukan tarif, apalagi hal ini hanya bersifat sementara. Karena itu, masyarakat jangan setiap ada masalah, kemudian mengeluh seakan telah berlangsung lama. Padahal hal seperti ini hanya bersifat sementara. Dan tujuan perbaikan dermaga itu juga demi kebaikan masyarakat. Sehingga hal besar yang sedang diupayakan pemerintah, jangan kemdhiam dicela dengan persoalan seperti ini. Kami selaku wakil rakyat yang mewakili suara masyarakat MBD juga akan tetap berupaya mempernaiki seluruh infrastruktur, khususnya dermaga agar masyarakat MBD tidak lagi mengalami kesulitan seperti ini,” pungkas politisi Partai Golkar itu. (BKA-4)

Comment