by

Tata Ibrahim Siap Sidang

Ambon, BKA- Berkas perkara kasus dugaan tindak pidana korupsi dan TPPU pada BNI Ambon, dengan terdakwa pejabat Divisi Humas Kantor BNI Wilayah Makassar, Tata Ibrahim dalam waktu dekat akan dilakukan persidangan perdana di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Ambon, Rabu (2/9) lalu.

Persidangan perdana ini dimulai menyusul JPU Kejati Maluku, Achmad Atamimi melakukan pelimpahan berkas perkara disertai barang buktinya di Pengadilan.

“Kami telah melakukan pelimpahan berkas perkara atas nama Tata Ibrahim ke pengadilan,” kata Kasi Penuntutan Kejati Maluku, Achmad Attamimi saat ditemui di Pengadilan Tipikor Ambon, usai pelimpahan berkas perkara.

Mantan Kasi Pidum Kejari Ambon ini melanjutkan, selain berkas perkara dan surat dakwaan,beberapa barang bukti korupsi dan TPPU Tata Ibrahim juga diserahkan.

“Ada serahkan barang bukti uang berupa slip setoran atau penarikan uang ke rekening beberapa kerabatnya terdakwa,” jelas Attamimi.

Pelimpahan berkas perkara dilakukan sekitar pukul 11.00 WIT. Selanjutnya, jaksa penuntut umum menunggu jadwal sidang perdana denga agenda pembacaan dakwaan.

Untuk diketahui, Tata Ibrahim ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis (6/2) lalu, setelah tim penyidik Ditreskrimsus Polda Maluku melakukan pengembangan penyidikan dan dikantongi bukti-bukti yang kuat. Ia menampung uang Rp 76,4 miliar yang ditransfer Faradiba Yusuf. Uang bernilai jumbo ini, merupakan hasil penjarahan BNI.

“Tata Ibrahim menerima aliran dana sebesar Rp 76,4 miliar yang ditransfer Faradiba,” kata Kabid Humas Polda Maluku, M Roem Ohoirat dalam keterangan persnya kepada wartawan di Mapolda Maluku, Jumat (7/2) lalu.

Ohoirat menjelaskan, ada kongkalikong antara Faradiba dan Tata Ibrahim untuk membobol BNI Ambon. Rekening Tata Ibrahim dijadikan salah satu penampung hasil pembobolan.

“Tata Ibrahim ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan hasil pengembangan. Dimana yang bersangkutan terbukti menerima aliran dana dalam rekening pribadinya. Modus hampir sama di Ambon, terjadi kongkalikong antara yang bersangkutan dengan Faradiba Yusuf,” terangnya.

Menurut Kabid, uang yang ditransfer Faradiba Yusuf ke rekening Tata Ibrahim sebesar Rp 76,4 miliar dilakukan sejak bulan November 2018 hingga September 2019. Penyidik Ditreskrimsus akan menelusuri aliran uang tersebut ke siapa saja.

“Untuk aliran dananya itu akan ditelusuri, siapa-siapa mendapatkan, siapa yang menerima. Itu tentu kita akan minta pertanggungjawabannya,” tandasnya.

Ohoirat mengatakan, uang Rp 76,4 miliar yang mengalir di rekening Tata Ibrahim, tidak termasuk uang Rp 58,9 miliar yang dilaporkan pihak BNI Ambon. “Uang 76,4 miliar itu sendiri dan tidak termasuk 58,9 miliar. Nanti kita akan telusuri,” ujarnya.

Ohoirat menambahkan, penyidik Ditreskrimsus menjerat Tata Ibrahim dengan UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan kedua Atas UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. “Tersangka kita jerat dengan pasal Perbankan dan UU Tipikor,” ujarnya. (SAD)

Comment