by

Tawarkan Jalur Biasa dan Jalur Istimewa

Calo ASN Kemenag

Ambon, BKA- Berbagai cara yang digunakan dua oknum calo dilingkup Kementerian Agama (Kemenag) Maluku, SL dan RA, untuk memperdaya korbannya, perlahan mulai diungkap sejumlah korban yang rata-rata merupakan honorer Kategori Dua (K2).

Mulai rayuan kepada korban untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada lingkup Kantor Kemenag Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) melalui jalur biasa hingga jalur istimewa, hal itu tergantung mahar yang korban berikan kepada mereka.

Alhasil, rayuan duo oknum PNS Kemenag Maluku itu, berhasil memperdaya puluhan honorer K2 itu dan meraup uang ratusan juta rupiah.

Abdul Kader Drakel, warga Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, yang juga menjadi korban duo PNS Kemenag Maluku itu, mengungkapkan, menyetor uang Rp 100 juta kepada kedua calo itu agar dua anaknya bisa lolos dalam pengangkatan K2 sebagai PNS ditahun 2017 lalu, melalui jalur istimewa.

“Saat itu saya ke Ambon. tetpatnya dibelokan Terminal Suli, dikawasan Ruko Batu Merah, saya tidak sengaja bertemu dengan SL. SL Lantas memanggil saya dan menyampaikan, kalau ada tiga jatah (PNS-red) yang masih kosong dan siap di SK-kan, jika ditebus dengan mahar. Tetapi saat itu, tawarannya saya tolak. Saya sampaikan, bahwa saya tidak mau transaksi seperti kucing dalam karung. Bahkan saya berikan penjelasan dengan pertimbangan agama,” ungkap Drakel, Minggu (26/7).

Tapi SL kembali mendatangi rumah Drakel di Negeri Liang. Tidak datang sendiri, SL datang bersama suaminya. Sekitar tiga kali dia mendatangi rumah Drakel untuk meyakikan.

“Saat itu SL mengatakan, kalau jalur biasa maharnya sebesar Rp 25 juta. Nanti surat-suratnya langsung disiapkan sampai selesai, tinggal namanya keluar sebagai PNS,” ungkap Drakel.

Karena terus dirayu dan dipaksa, Drakel lantas tegas menanyakan kejelasan jaringan yang digunakan oleh SL untuk pengangkatan Honorer K2 sebagai PNS dilingkup Kemenag Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) itu. Termasuk menanyakan keabsahan SK pengangkatan yang nantinya keluar. “Beliau (SL) jawab, semuanya beres dan langsung jadi PNS,” tambah Drakel.

Karena mulai percaya, Drakel lantas mendaftarkan tiga orang melalui jalur biasa. Hanya saja berselang setahun, SL kembali merubah tipuannya dengan mengatakan, jalur biasa kurang bagus. Jalur Istimewah lebih menjanjikan, tapi mahar yang disetor sebelumnya harus ditambah. Karena jalur istimewa lebih mahal, Rp 50 juta.

“Total yang saya berikan itu sebesar Rp 100 juta, dalam dua kali pemberian. Namun saat itu, SL mengelak dan mengaku hanya menerima Rp 90 Juta.Sehingga yang ditandatangani dalam kwitansi penerimaan sebesar Rp 90 juta,” papar Drakel.

Karena tidak mendapatkan titik terang terkait kedua anaknya itu, Drakel kemudian mendesak SL untuk bertanggungjawab dan mengembalikan uang sesuai dengan surat pernyataan yang dibuat.

“Sampai hari ini, total uang yang baru dikembalikan sebanyak Rp 19 juta. Itupun diberikan dua kali. Pertama Rp 15 juta, kedua Rp 4 juta. Sisahnya sampai sekarang belum dikembalikan,” kata Drakel.

Menurutnya, ada banyak warga Negeri Liang yang menjadi korban dari kasus calo oknum ASN Kemenag Maluku itu. “Ada dua orang anak dari suster disini juga jadi korban penipuan itu,” ujarnya.

Dia berharap, kasus ini diatensi serius oleh Kakanwil Kemenag Maluku, meskipun kejadianya ditahun 2017 lalu. “Sebagai Kakanwil, Bapak Jamaludin Bugis harus memberikan perhatiannya agar kasus ini ditangani. Jika tidak, maka kami menilai ada proses pembiaran. Sebab apa yang dilakukan dua ASN Kemenag Maluku itu merupakan kejahatan besar dan sudah merugikan orang banyak,” harap Drakel.

Untuk diketahui, dalam kasus calo tersebut, SL tidak berperan sendiri. Dia memikul peran sebagai penghubung, namun juga terlibat dalam negosiasi dan menerima uang ratusan juta. Dia bersama RA yang adalah ASN Kementerian Agama di lingkup Kemenag SBT, yang bertindak sebagai aktor utama.

Kapolsek: Kasus Calo ASN Kemenag Pernah dilaporkan

Terkait kasus calo yang diperankan oleh duo oknum ASN Kemenag Maluku, ungka Kapolsek Kecamatan Salahutu, Iptu Jafar Lessy, pernah dilaporkan ke Polsek Salahutu ditahun 2019 lalu.

“Benar ada laporannya. Tapi kala itu, permintaanya untuk dimediasi melalui surat pernyataan agar uang dikembalikan,” akui Iftu Jafar Lessy.

Kapolsek mengatakan, berdasarkan informasi dari salah satu anggota Polsek yang saat ini sudah pindah tugas, mengatatakan, saat itu hanya satu orang korban atas nama Hj Ani yang melaporkan ke Polsek.

Inti laporan tersebut, korban meminta agar SL sebagai pelaku segera mengembalikan uangnya senilai Rp 40 juta. “Ada kesepakatan penyelesaian secara kekeluargaan. Lalu sudah ada pengembalian sebesar Rp 25 juta dan masih tersisah Rp 15 juta,” tandas Mantan Kapolsek Leihitu itu.(RHM)

Comment