by

Tembang Bunga Leksula “Hantui” Sekda

Ambon, BKA- Lagi-lagi, tembang lagu Bunga Leksula warnai aksi unjuk rasa atas ulah Sekretaris Daerah (Sekda) Maluku, Kasrul Selang. Meski telah mengaku akan mengevaluasi diri atas aksi joget-joget pada HUT Maluku ke 75 tahun, mantan Kadis PUPR ini masih saja didemo.

Aksi unjuk rasa kali ini, dilakukan puluhan masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Nusa Ina, yang berlangsung di depan kantor Gubernur Maluku, Selasa (1/9).

Di tengah penyampaian aspirasi, para demonstrans ini juga melakukan aksi joget-joget dengan lagu Bunga Leksula.

Aksi tersebut merupakan sindiran keras kepada Kasrul, yang diketahui melakukan aksi joget-joget bersama sejumlah anggota DPRD Maluku dan lainnya dengan mengabaikan protokol kesehatan saat HUT Provinsi Maluku ke 75 tahun pada tanggal 19 Agustus 2020 lalu.

Dalam aksi itu, tuntutan Kelompok Nusa Ina, sama dengan para demonstran sebelumnya. Yakni meminta Gubernur Maluku, Murad Ismail untuk mencopot Kasrul Selang dari jabatan Sekda Maluku.

Mereka menilai, perbuatan Kasrul yang juga selaku Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Maluku, secara spontan telah melanggar protokol kesehatan.

Yang mana, pelanggaran tersebut dilakukan saat kota Ambon kembali berada di zona merah (tinggi) penyebaran Covid-19. Bahkan dilanggar saat masyarakat didesak untuk mentaati protokol kesehatan, demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Selain itu, Kelompok Nusa Ina juga mendesak agar Pemerintah Provinsi Maluku segera membebaskan sejumlah warga yang melakukan pengambilan paksa jenazah yang diduga terkonfirmasi Covid-19. Yang terjadi di jalan Jenderal Sudirman, pada 26 Juni 2020 lalu.

Para pendemo menilai, Murad Ismail selain gubernur Maluku, juga sebagai bapak kandung masyarakat Maluku yang punya hati nurani untuk menggubris tuntutan para pendemo.

“Pak gubernur yang terhormat, Copot jabatan Sekda Maluku dan bebaskan keluarga kami. Yang diduga merampas jenazah Covid-19,” teriak salah satu orator, Santos Walaluyo.

Pantauan koran ini, aksi tersebut dilakukan sejak pagi hingga sore hari sekira pukul sekira pukul 17.01 WIT.

Gubernur, Wakil Gubernur maupun Sekda sekalipun, tidak terlihat menemui pendemo.

Meski demikian, tidak mengurangi semangat para pengunjuk rasa dalam menyampaikan aspirasi. Bahkan, para aktivis tersebut mengancam akan mendirikan tenda untuk tidur dimalam hari di depan kantor gubernur.

Dalam aksi itu, sejumlah personil Polresta Ambon dan Satpol PP terus mengawal aksi tersebut. (BKA-1)

Comment