by

Terdakwa Bank Maluku Dobo Diancam 6 Tahun Bui

Ambon, BKA- Dua terdakwa kasus dugaan korupsi Bank Maluku Cabang Dobo, yakni, Wilyam Apres Balsala selaku Kontrol Internal Cabang (KIC) dan Lisbeth Yustensz alias Lis selaku Teller, diancam enam tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Maluku.

Kedua terdakwa itu terbukti melakukan tindak pidana korupsi, sebagaimana diatur dan diancam dengan pasal 2 ayat (1), jo Pasal 18. Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU nomor 20 Tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

Selain pidana badan, kedua terdakwa juga diancam untuk membayar denda sebesar Rp 50 juta, subsider tiga bulan kurungan.

JPU Kejati Maluku, Y.E.Oceng Ahmadaly, dalam amar tuntutannya dipersidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Felix R. Wuisan, dibantu Jenny Tulak dan Benhard Panjaitan selaku Hakim Anggota. Sementara kedua terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Rony Samloy dan Marnex Salmon, pada persidangan online yang digelar Pengadilan Tipikor Ambon, Selasa (9/6).

Yang memberatkan, perbuatan kedua terdakwa tidak membantu pemerintah dalam rangka penyelenggaraan negara yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Sedangkan pertimbangan yang meringankan, terdakwa belum belum pernah dihukum dan mengakui perbuatannya.

JPU menyebutkan, tindak pidana yang dilakukan kedua terdakwa terjadi pada tahun 2012 lalu. Terdakwa Lisbeth Yustensz alias Lis bertugas sebagai Teller/Cash Vault di PT Bank Maluku Cabang Dobo, menjalankan perintah sesuai SOP Bank Maluku, yakni, merekap transaksi keuangan berupa uang keluar dan uang masuk untuk dilaporkan pada Kepala Teller atau Head Teller.

Namun dia terlibat melakukan transfer uang senilai Rp 100 juta ke rekening orang lain, atas perintah kepala cabang Aminadap Rahanra dan persetujuan Head Teller yang saat itu dijabat saksi MA.

Sedangkan untuk terdakwa Wilyam Apres Balsala selaku Kontrol Internal Cabang (KIC), sesuai temuan jaksa, terdakwa harus melakukan tugasnya sebagai pengawas dan pemeriksa terhadap keluar dan masuk uang.

Namun ternyata terdakwa lalai dalam menjalankan tugasnya. Bahkan ada tugas-tugas lain yang tidak terdakwa laksanakan. Sehingga karena kelalainnya, menimbulkan selisih antara Teller dengan Saldo kas dan uang tunai.

Setelah mendengarkan amar tuntutan JPU, hakim menunda sidang hingga Senin (15/6), dengan agenda pembelaan dari kuasa hukum terdakwa.(SAD)

Comment