by

Tiga Penganiaya Medis Naik Sidang

 

Ambon, BKA- Jaksa Penuntut Umum (JPU), Kejari Ambon, Fitria Tuahuns, akhirnya menggiring ketiga terdakwa penganiaya medis di RSU Haulusy Ambon ke meja sidang Pengadilan Negeri Ambon, Rabu (2/9).

Ketiga terdakwa masing-masing, Muh Sahal Keiya, Sitti Nur Keiya, dan Ida Laila Keiya, warga Kampung Oihu RT 002 RW 007 Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Dalam sidang perdana itu, majelis hakim dipimpin Lucky Rombot Kalalo didampingi Christina Tetelepta dan Hamzah Kailul selaku hakim anggota. Terdakwa didampingi penasehat hukumnya Abdul Syukur Kaliky, yang dibuka dengan mendengarkan dakwaan JPU.

Pantauan media ini, Persidangan tersebut sempat ribut dan ricuh, lantaran para terdakwa menilai dakwaan jaksa tidak benar.

Selain pembacaan dakwaan, sidang itu sekaligus dilakukan pemeriksaan saksi. Para saksi yang dihadirkan adalah korban serta tiga perawat lainnya. Mereka adalah Jomima Orno (korban), saksi Dana musa, saksi Marsela
Sahuleka, dan saksi Herty. M. Opier.

Ketiga saksi itu membenarkan dakwaan jaksa. Namun lagi-lagi, terdakwa melalui penasehat hukumnya mengatakan semuanya direkayasa. Begitu juga para keluarga dan kerbat yang hadir.

JPU Heru Hamdani dalam berkas dakwaanya menguraikan, mereka melakukan kekerasan terhadap petugas medis bernama Jomima Orno. Kejadi itu terjadi pada 26 Juni 2020 sekitar puku 08.00 wit di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Haulussy tepat di depan Kamar Mayat Covid 19 jalan Dr. Kayadoe Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon.

Awalnya ketika pasien positif covid 19 bernama Hasan Keiya dinyatakan meninggal pada pukul 08.00 wit.

Saat itu, korban Jomima bersama Meid sebagai petugas medis yang bertugas membawa jenazah ke kamar jenazah khusus pasien Covid. Ketika di depan kamar jenazah, Meid masuk melalui pintu belakang untuk membuka pintu kamar jenazah.

Sementara itu, Jomima menunggu di depan kamar jenazah. Selanjutnya, para tersangka menghampiri Jomima. Tanpa bicara, terdakwa langsung membuka selimut yang menutupi jenazan lantas mencium jenazah.

Sementara itu, terdakwa II langsung melayangkan pukulan dengan menggunakan kepalan tangan kanan kearah pipi kiri Jomima sambil mengatakan, “Gara-gara ose sampe beta laki mati, kamong kurung dia di tempat corona, kamong seng kasi makan dia”. Lalu, terdakwa melakukan pemukulan kepada Jomima pada kepala bagian belakang serta tulang belakang.

Namun, Jomima tidak dapat memastikan pemukulan tersebut dengan menggunakan kepalan tangan kanan atau kiri. Sementara itu , terdakwa I memegang kedua lengan Jomima dari arah belakang untuk memberikan kesempatan kepada terdakwa lainnya untuk lebih leluasa melakukan pemukulan.

Jomima sempat mencoba untuk meloloskan diri namun pukulan secara bertubi-tubi mengenai punggung belakangnya.

Dalam dakwaan itu, jaksa juga menyebut, Jomima juga mendapat satu kali tendangan yang membuatnya hampir terjatuh. Beruntung, dia berhasil bersandar pada tembok.

Jaksa menyebut kejadian tersebut dpoat dibuktikan dalam hasil Visum Et Repertum Nomor : 353/10/RSUD/2020 tanggal 26 Juni 2020 yang di tandatangani oleh Dr. CW Sialana, Sp.FMKes.
Para terdakwa lalu didakwa melanggar Pasal 170 ayat 1. Mereka diduga sama-sama menganiaya perawat tersebut. (SAD)

Comment