by

Tiga Terdakwa Sebut Pelaku Lebih Dari Tiga

Ambon, BKA- Tiga terdakwa yang terlibat dalam kasus penganiayaan bersama yang bermukim di Kelurahan Benteng, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, mengakui jika pelaku yang melakukan penganiayaan terhadap korban lebih dari tiga orang, namun penyidik Polisi menga tidak menjadikan mereka sebagai tersangka dalam kasus tersebut, melainkan menjadikan mereka sendiri sebagai tumbal dibalik kasus ini.

Tiga terdakwa itu masing-masing Lucas J. Pauno alias Lucas (19), Stevano Nehemia Fedik Veerman alias Man (18), Fabio Testy Latuperissa alias Fabio (21).

Hal ini diungkapkan ketiganya dalam persidangan lanjutan di Pengadilan Negeri Ambon dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa pada pekan kemarin.

Penasehat hukum terdakwa, Izack Frans yang dihubungi melalui selulernya Minggu kemarin mengungkapkan, sesuai keterangan para terdakwa di persidangan, tindakan yang dilakukan terhadap korban Frelian Latuperisa alias Ian itu bukan mereka lakukan sendiri, namun ada beberapa pelaku lain.

Sehingga lanjut dia, penuntut umum tidak bisa menjadikan hasil visum dokter dari luka korban seluruhnya atas tindakan tiga terdakwa. Sebab jelas-jelas ada beberapa tindakan pelaku yang menyebabkan korban luka.

“Terdakwa saja bilang, kalau pelaku bukan hanya tiga orang, tapi ada beberapa orang lainnya, makanya kita ngotot dipersidangan, mengapa jaksa jadikan hasil visum itu sebagai alat bukti, padahal mau dibilang itu kabur,” ungkap Frans.

Selain itu, kata pengacara muda ini, menurut pengakuan terdakwa Lucas J. Pauno alias Lucas, kasus ini bermula karena korban yang memukul dia lebih awal. Bahkan ketika terdakwa mau membalas korban, dua rekannya lebih dulu sudah memukul korban, setelah itu korban lagi dan akhirnya dikejar rekan-rekan terdakwa.

“Jadi begini, terdakwa Lucas itu tidak pernah tangannya memukul korban, malah dia mendapat pukul dari korban, jadi sebenarnya terdakwa itu juga korban. Dan tindakan pengeroyokan yang dilakukan rekan-rekannya itu dia sama sekali tidak menyuruh mereka, namun karena rekannya merasa setia kawan, sehingga mereka turut membantu mengeroyok korban, tapi yang jelas terdakwa Lukas itu tidak pernah menyuruh mereka,” tandasnya.

Sebelumnya didalam dakwaan JPU, ketiga terdakwa didakwa melanggar pasal 80 ayat (1) UU RI No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang perlindungan anak.

Persidangan itu dipimpin ketua majelis hakim yang dipimpin Felix R. Wuisan dibantu Jenny Tulak dan Essau Yerisitouw selaku hakim anggota, sedangkan tiga terdakwa didampingi tim penasehat hukumnya Izack Frans, Reynald Sahetapy dan Ferry Latupeirissa.

JPU Chaterina Lesbata, dalam berkas dakwaanya menguraikan, tindak pidana yang dilakukan ketiga terdakwa terjadi pada 2 Februari 2020 sekitar pukul 16.30 WIT tepatnya di pantai Santai Beach Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

Awalnya terdakwa Lucas J. Pauno alias Lucas melihat korban sedang berada di pantai Santai Beach. Sehingga dia mengajak dua rekan terdakwa bersama saksi Filep Latuputty untuk sama-sama menemui korban, karena sebelumnya korban sempat mengeluarkan kata kepada terdakwa kalau ingin mengajak terdakwa Lucas berkelahi.

Sampai di TKP, terdakwa langsung menghadang korban, dengan mengatakan kalau korban yang ajak mereka berkelahi. “Ian (Korban) Ose (Kamu) yang ajak bakupukul (berkelahi) kah?. Sambil korban juga mengiakan “Iya”. Dari situ, korban langsung lebih dulu memukul terdakwa sehingga terdakwa Lucas kembali membalas dengan memukul korban sebanyak satu kali.

Setelah itu, korban sempat berlari dan melompat di dalam air, kemudian kedua terdakwa lainnya yakni Stevano Nehemia Fedik Veerman, Fabio Testy Latuperissa mengikuti korban lalu melakukan penganiayaan bersama-sama.

Atas tindakan yang dilakukan ketiga terdakwa, korban mengalami luka berdasarkan visum dokter, luka robek dibagian kepala sebelah kanan, kepala bagian kiri mengalami bengkak, dan juga luka pada ujung jari kaki dan beberapa bagian tubuh korban mengalami luka-luka yang cukup serius. Jelas JPU. (SAD)

Comment