by

Vantje Loppies Akui Habisi Nyawa Putranya

Ambon, BKA- Vantje A. Loppies alias Vance alias Vavo, mengakui kalau sudah mengabisi nyawa putranya. Untuk itu, dirinya tetap akan menghormati keputusan majelis hakim yang menyidangkan perkara ini.

Hal ini di ungkapkan Penasehat Hukum (PH) terdakwa Vantje A. Loppies, Alfred Tutupary, dalam persidangan dengan agenda pledoi yang berlangsung secara online di Pengadilan Negeri Ambon, Kamis (16/7).

Di dalam nota pledoi terdakwa, penasehat hukum minta agar majelis hakim sebelum menjatuhi hukuman kepada terdakwa yang merupakan warga Negeri Silale, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, untuk memperhatikan fakta-fakta sidang.

“Terkdakwa sudah mengakui perbuatan, terdakwa berjanji tidak mengulangi perbuatan, terdakwa juga masih bisa memperbaiki diri dan masa depannya. Untuk itulah majelis hakim, mohon keringanan hukuman kepada terdakwa,” pinta Tutupary dalam nota pledoinya.

Sebelumnya, JPU di dalam amar tuntutannya, mengancam terdakwa terdakwa dengan pidana penjara selama 15 Tahun penjara, pada persidangan secara online di Pengadilan Negeri Ambon, Kamis (9/7).

Selain pidana badan, Vantje dibebankan untuk membayar denda sebesar Rp 1 miliar, subsider satu tahun kurungan badan.

Tuntutan JPU ini dibacakan dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Hamzah Kailul, dibantu Christina Tetelepta dan Lucky R. Kalalo selaku Hakim Anggota.

“Sesuai amar tuntutan JPU, terdakwa terbukti melanggar pasal 80 ayat (4), jo pasal 76 C Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2002 Tentang perlindungan anak,” ungkap JPU, Elsye B. Leonupun, dalam amar tuntutannya.

Dalam berkas dakwaanya JPU menguraikan, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi 27 Januari 2020, sekitar pukul 16.00 WIT, tepatnya di rumah terdakwa Vantje A. Loppies di Negeri Silale, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

Awalnya, ketika saksi Fredrik Lopies bersama dengan anaknya Hendrik Lopies, serta saksi Richard Lopies dan korban G.L, baru saja bangun tidur, kemudian duduk diatas kuburan yang berada di halaman rumah terdakwa.

Saat itu, terdakwa pulang dengan keadaan terlihat sedang mabuk usai meneguk minuman keras. Terdakwa marah-marah sambil mengeluarkan kata makian.

Mendengar itu, saksi Fredrik Lopies yang sedang menyapu halaman rumah, menegur terdakwa supaya tidak mengeluarkan kata-kata kotor.

Terdakwa bukannya menghentikan mengeluarkan kata-kata kotor, malah memukul saksi pada bagian belakang kepala dan hidung, sehingga mengeluarkan darah. Saksi kemudian menghindar dari rumah.

Terdakwa kemudian mengambil sebilah parang, lalu mengejar saksi lain, yakni, Richard Lopies, yang berada di rumah yang bersebelahan dengan rumah terdakwa. Karena takut, saksi Richard Lopies juga melarikan diri.

Bukan hanya itu. Ada beberapa saksi yang adalah keluarga terdakwa sendiri, juga kena amarah terdakwa. Sehingga semuanya meninggalkan rumah.

Setelah itu terdakwa masuk ke dalam rumah. Dia melihat anaknya atau korban sedang menonton TV, terdakwa kemudian memanggil korban untuk dimandikan.

Pada saat terdakwa membuka pakaian korban dan pampers korban yang sudah penuh kotoran, terdakwa naik pitam dan marah-marah. Terdakwa lalu memukul korban yang baru berusia tiga tahun itu pada bagian betis kakinya dengan tangan, membuat korban menangis.

Karena tidak berhenti menangis, terdakwa terus menganiaya korban hingga tak sadarkan diri. Setelah menganiaya korban, terdakwa membawanya ke dalam rumah.

Tetangga terdakwa yang melihat kejadian itu, segera membawa korban ke rumah sakit. Tapi sayanngnya, korban sudah tak tertolong.(SAD).

Comment