by

Visi Akhir Pekerjaan

Amalan Tergantung Pada Akhirnya
(Memaksimalkan Akhir Ramadhan)

oleh: Ustadz Fathurrahman
(Dai IKADI/Pengajar di Ma’had Arrahmah Ambon-Maluku)

Berikut ini adalah pelajaran dari Hadits Rasulullah SAW yang
diriwayatkan dari sahabat bernama Sahl bin Sa’ad Assa’idi berkata bahwa Nabi Shallallahu‘Alaihi Wa Sallam suatu saat pernah melihatada seseorang yang membunuh orang-orang musyrik dan ia merupakan salah seorang prajurit muslimin yang gagah berani. Namun anehnya Nabi SAW malah berujar; “Siapa yang ingin melihat seorang penduduk neraka? Silahkan lihat orang ini.”

Sontak seorang sahabat penasaran dan membuntutinya. Dia terus menguntit dengan penuh perhatian hingga prajurit tadi itu terluka dan dilihatnya prajurit gagah berani itu ingin segera mati (dalam suatu penjelasan karena tak kuat menahan sakit). Tiba-tiba, si prajurit gagah
itu mengambil pedangnya kemudian meletakkan ujung pedang itu di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.

Selanjutnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda; “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun pada akhirnya menjadi penghuni neraka (su’ul khatimah). Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan banyak orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun pada akhirnya dengan menjadi penghuni surga, husnul khatimah. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhori No. 6493.

Kenapa bisa su’ul khatimah? Berakhir buruk?
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam menjelaskan hadits sahabat bernama Sahl bin Sa’ad di atas pada kalimat “ia beramal dengan perbuatan yang dilihat oleh orang lain”. Jelasnya, apa yang terlintas dalam hati orang tersebut berbeda dengan lahirnya.

Seseorang akan mendapatkan suul khatimah, penutupan yang buruk dalam hidupnya salah satunya dikarenakan masalah bathin. Kendati pun di masalah yang lain, bathin tidak menjadi parameter hukum. Tapi itu kusus dalam masalah hukum. Bisa jadi seseorang benar-benar melakukan amal shalih dengan baik, akan tetapi di dalam hatinya terprogram dengan suatu niat dan keinginan untuk menjadi perhatian dan nilai oleh orang lain. Nah, hal seperti ini harus benar-benar diwaspadai karena bisa menjadi salah satu sebab su’ul khatimah.

Sebaliknya mungkin saja seseorang beramal dan berperilaku seperti amalan penduduk neraka. Akan tetapi di dalam bathinnya, hatinya terdapat bibit kebaikan. Walhasil, ternyata bibit kebaikan itu tumbuh begitu baik hingga mengakhiri hidupnya sehingga meraih husnul
khatimah. Ibnu Rajab berkata, di sinilah para ulama dan orang-orang sholeh sangat khawatir dengan keadan suul khatimah, keadaan akhir hidup dengan buruk. Na’udzubillah min dzalik.

Masalah lainnya adalah perasaan bangga bahkan kagum. Dalam suatu disiplin ilmu ada yang menyebut kondisi seseorang yang sering kagum dengan berbagai hal tentang dirinya dengan sebutan Narsis. Jangan sampai memprogram kekaguman dalam hati terhadap setiap amalan.
Boleh lah sesekali sebagai motivasi diri dengan tetap mengiringi dengan istighfar dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Yang lebih berbahaya lagi ada saja fenomena dalam hati manusia dimana ia merasa bangga dan kagum, merasa terpuji terhadap suatu hal yang bahkan tidak dilakukannya. Ia mendompleng amal orang lain, kebaikan orang lain dan memanfaatkan suatu keadaan yang diklaim, diakui
sebagai amal perbuatan baiknya. Ini sangat tidak baik dan berbahaya dalam hal meraih akhir hidup yang baik. Allah SWT berfirman, “Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa
yang pedih” QS Ali Imran:188.

Di hadits yang lian, diriwayatkan dati Anas bin Malik RA, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda; “Janganlah kalian merasa kagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada
suatu waktu dengan amalan yang shalih, yang seandainya ia mati maka ia akan masuk surga.

Akan tetapi, ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek. Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek, yang seandainya ia mati, maka akan masuk neraka. Akan tetapi, ia berubah dan beramal dengan amalan shalih. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal.” Para sahabat bertanya; “Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan
mati dalam keadaan seperti itu.” HR. Ahmad.

Oleh karena itu, penting sekali untuk kita meniatkan dan merevitalisasi amaliyah Ramadhan 1441 kita agar bisa lebih maksimal dan mendapatkan taufik sehingga ramadhan kali ini diniatkan dan diupayakan menjadi Ramadhan yang lebih baik dari sebelumnya. Amiiin.(**)

Comment