by

Walikota: PKM Bukan Batasi Aktivitas

Ambon, BKA- Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, menegaskan, pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) bukan untuk membatasi aktivitas masyarakat. Tapi untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Bukan dalam rangka membatasi aktivitas orang, tapi tujuan utama dari Perwali dan PKM ini adalah untuk memutus mata rantai penularan virus corona di Kota Ambon. Itu intinya,” ucap Walikota, dalam keterangan persnya di Aula Balai Kota Ambon, Rabu (10/6).

Menurutnya, masyarakat harus bisa pahami betul, kalau Covid-19 akan sangat berpeluang menyebar lebih luas, ketika terjadi aktivitas masyarakat yang padat, tanpa menggunakan pelindung diri.

Dengan begitu, katanya, harus ada sanksi tegas yang diberlakukan bagi masyarakat yang melanggar aturan PKM. “Jadi, dua hari kemarin, mungkin saja ada masyarakat yang masih belum tahu atau perlu untuk beradaptasi. Kita toleransi untuk itu. Sehingga hari ini dan beberapa hari kemudian, itu kita akan betul-betul lebih tegas,” tuturnya.

Khusus pada pos perbatasan, kata Walikota, akan lebih diperketat lagi, baik bagi masyarakat Kota Ambon maupun dari luar Ambon. Ini semata-mata diberlakukan untuk melindungi masyarakat dari penyerbaran Covid-19.

“Kalau kita tegas di pintu-pintu masuk, itu karena kita sayang terhadap saudara-saudara kita yang ada di daerah-daerah luar Ambon. Kita berharap, kalau mereka yang masuk ke Ambon, peluang untuk terjadinya penyebaran semakin kecil. Itu intinya disitu. Bukan kita larang-larang,” ujarnya.

Pemerintah Kota Ambon harus tegas, karena Ambon sudah masuk dalam zona merah penyebaran covid 19. Sehingga harus ada langkah tegas yang diambil pemerintah, dalam upaya meminimalisir maupun memutus mata rantai penyebaran virus itu.

“Kalau kita tidak tegas, justru dia bisa berdampak. Karena Ambon ini kan sudah zona merah. Semakin banyak orang masuk ke Ambon, dia kembali, maka terbuka peluang untuk terjadi penyebaran di daerahnya,” terangnya.

Untuk itu diharapkan, masyarakat khsusunya yang berada di luar Ambon, terutama masyarakat Maluku Tengah yang ada di Kecamatan Leihitu, Leihitu Barat dan Salahutu, dapat memahami kondisi yang terjadi saat ini.

“Saya kasih contoh di Saparua. Itu sekarang sudah lumayan, sudah 9 atau 11 orang. Itu berawal dari salah satu ibu yang berjualan di Pasar Mardika. Dia pulang ke sana, akhirnya kenal penyebarannya itu. Itu yang kita berharap, supaya kita mau potong mata rantai ini,” ungkapnya.

Lanjutnya, saat ada kasus di luar Ambon, secara otomatis akan dirujuk ke Kota Ambon. Sehingga penyebaran yang terjadi juga harus dapat minimalisir untuk kepentingan masyarakat.

“Kalau misalnya yang kenal itu di Maluku Tengah, hitung-hitung mereka akan bawa ke Ambon untuk proses pengobatannya. Ini kan cukup berat,” jelasnya.

Saat ini, katanya, daya tampung rumah sakit untuk penanganan pasien Covid-19 sudah tidak cukup. Sehingga sejumlah balai diklat diberdayakan untuk penanganan pasien.

“Kita tahu bahwa di Ambon sekarang itu rumah sakit sudah tidak bisa tampung lagi, sehingga dibuka dibeberapa diklat. Ini kenapa kita mau agar kebijakannya dilaksanakan secara ketat,” tandasnya.(DHT)

Comment