by

Warga Kesui Watubella Tuntut Lampu Nyala

Lisdes Dua Tahun Mangkrak

Ambon, BKA- Proyek Listrik Pedesaan (Lisdes) yang diprogramkan pemerintah di Kecamatan Kesui Watubella, Kabupaten Seram Bagia Timur (SBT), sudah dua tahun mangkrak.

Saat ini, warga Kecamatan Kesui Watubella sangat mengidamkan adanya penerangan listrik mengaliri rumah-rumah mereka, sehingga lampu bisa menyala.

Untuk itu, mereka menuntut PT PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Maluku dan Maluku Utara (MMU) untuk segera merealisasikan program Lisdes tersebut, yang sudah sekian lama terbengkalai.

Program Lisdes di Kecamatan Kesui Watubella sudah mulai dilakukan sejak 2018 lalu, yang dibiayai menggunakan APBN. Sejumlah tiang listrik dan kabel sudah terpasang.

Namun hingga 2020, PLN UIW MMU seakan berpaling dari masyrakat kecamatan itu. Tidak perduli lagi untuk menindaklanjuti program Lisdes itu. Sehingga tiang listrik yang sudah berdiri maupun kabel yang sudah terpasang, dibiarkan terbengkalai dan berkarat.

Mendapati kenyataan itu, warga Kecamatan Kesui Watubella akhirnya mengadukan masalah mereka kepada salah satu Anggota DPRD Maluku, Alimudin Kolatlena, yang notabene merupakan perwakilan masyarakat SBT.

Salim Rumakefing, salah satu tokoh pemuda Kecamatan Kesui Watubela, mengungkapkan, program pemerintah pusat yang dibiayai APBN itu ditinggalkan terbengkalai begitu saja oleh pihak PLN, tanpa ada perawatan.

“Persoalan proyek Lisdes PLN yang dibangun sejak tahun 2018, sampai saat ini proyek tersebut belum diselesaikan pihak kontraktor, karena sudah meninggalkan pekerjaannya,” ungkap Rumakefing.

Persoalan tersebut sudah beberapa kali dibicarakan dengan pihak PLN UIW MMU, untuk meminta agar listrik di kecamatan itu bisa segera dinyalakan. Namun sampai sekarang tidak ada hasil.

Padahal, ungkap Rumakefing, awal proyek tersebut dikerjakan, warga sangat antusias. Berharap, listrik dapat mengaliri rumah-rumah mereka. Bahkan warga bergotong royong membantu pihak kontraktor mengangkat tiang-tiang listrik.

Akan tetapi, harapan dan pengorbanan warga itu kandas ditengah jalan. Sampai sekarang, lampu listrik belum juga bisa menyala.

“Proyek Lisdes terletak di Desa Efa, Kecamatan Kasui, Watubella, SBT. Itu masyarakatnya sudah banyak mengorbankan tenaganya untuk mengangkat dan memasang tiang listrik, tanpa meminta imbalan. Itu mereka rela memikul tiang-tiang listrik, hanya karena ingin membantu, agar listrik cepat menyala di wilayah itu. Tapi harapan itu sia-sia,” ujarnya.

Untuk itu, lewat pertemuang dengan Anggota DPRD Maluku asal daerah pemilihan Kabupaten SBT, dapat mendesak pihak PLN agar bisa menyelesaikan proyek Lisdes yang terbengkalai hingga saat ini.

Menanggapi keluhan warga, Alimudin Kolatlena, mengatakan, selaku anggota dewan yang dipercayakan warga SBT, dia akan menindaklanjuti apa yang menjadi keresahan warga. Sehingga dia akan berkoordinasi dengan Komisi II DPRD Maluku, yang bermitra dengan PLN.

Menurutnya, persoalan PLN di Kecamatan Kasui Watubella juga dirasakan masyarakat kecamatan lainnya di Kabupaten SBT. Seperti di Kecamatan Teor. Disana juga sudah dilakukan pendirian tiang listrik, namun sampai sekarang juga lampu belum bisa menyala.

“Saat kunjungan disana juga sudah dikerjakan pemasangan tiang. dan mudah-mudahan tinggal rumahnya saja. Hanya tinggal mesin pembangkitnya saja yang belum,” akuinya.

Bahkan hasil koordinasi dengan PLN, targetnya diawal tahun 2020 sudah terselesaikan progresnya. Namun sampai hari ini, belum juga selesai.

Untuk itu, sebagai keterwakilan masyarakat Kabupaten SBT, Alimudin meminta PLN UIW M2U agar dapat melihat persoalan tersebut secara serius. Kalau belum bisa diselesaikan, maka harus dijelaskan kepada masyarakat agar mereka paham, apa yang menjadi kendala PLN.

Terpisah Manager P2K Lisdes PLN UIW M2U, Sarif Selang, mengakui, kalau persoalan di Kecamatan Kasui Watubella juga terjadi dibeberapa lokasi, yang jumlahnya kurang lebih 47 lokasi di Maluku.

Namun pihaknya tetap akan melanjutkan proyek Lisdes setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat. Intinya, PLN tetap melanjutkan sesuai progres. “Khusus di SBT, progresnya menjadi tanggung jawab PLN UP3 Masohi,” tandas Selang.

Hal yang sama juga disampaikan, Manger Komunikasi PLN M2U, Ramli Malawat. Dia mengatakan, sebelumnya ada progres Lisdes ditahun 2019, kemudian 2020. Cuma ada persoalan yang menyangkut dengan pemesanan mesin pembangkit, yang hingga sekarang belum mendapat persetujuan dari Pemerintah Pusat.

“Semua sudah sesui dengan progres, seperti pemasangan jaringan kelistrikan dibeberapa kawasan. Semuanya sudah pada stand by, tinggal mesin pembangkit yang menjadi masalah. Karena mesin yang didatangkan dari pusat belum ada persetujuan,” akuinya.

Alasan mesin pembangkit tidak didatangkan di Desember 2019 lalu, ungkap Malawat, karena sesuai penjelasan pusat, karena dari sisi evaluasi, mesin pembangkit yang menggunakan BBM jenis solar sangat tidak efesiensi. Sehingga ingin diganti dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) jenis biomas.

Akibatnya, sampai saat, pihaknya masih menunggu arahan dari pusat. Tapi intinya, tugas PLN dalam program Lisdes sudah selesai, seperti, pemasangan tiang dan jaringan.

“Tapi tugas dan penanganan jaringan sudah selesai. Jadi kita masih menunggu. Sedangkan untuk rasio elektrifikasi diperpanjang sampai 2023, sebelumnya batasnya sampai 2021. Namun mudah-mudahan, pemerintah dapat menyikapi hal ini, agar suplay listrik ke masyarakat dapat terealisasi,” pungkasnya.(RHM)

Comment